Home » Kolom SMILOKUI » BUS KELAS EKONOMI

BUS KELAS EKONOMI

KEPADA Jon Lebay saya bilang ingin menulis tentang bus kelas ekonomi. Pasalnya, tak terhitung jumlahnya saya naik bus kelas tersebut. Saya suka memperhatikan cara berinteraksi awak bus yang lazimnya terdiri atas sopir, kondektur, dan kernet terhadap para penumpang. Simpulan saya: betapa berkuasanya mereka atas penumpang yang dengan ”ikhlas” memasrahkan keselamatan perjalanan kepada mereka, tentu saja dengan membayar ongkos perjalanan.
Awak bus kelas ekonomi itu memperlihatkan muka yang manis ketika merayu calon penumpang untuk memilih bus mereka. Sekali-sekali, berbohong sedikit pun dilakukan, tapi tetap dengan ekspresi muka manis. ”Kosong, kosong!” teriak kondektur atau kernet. Ketika seseorang naik, tak satu pun kursi yang tersisa dan dia harus berdiri dengan menahan gerundel. Atau, ”Laste, laste, terakhir, terakhir!” ujar mereka. Calon penumpang yang tak mau telantar percaya begitu saja untuk naik betapapun ia lihat di dalam bus sudah berjubal-jubal orang. Maklum, kata awak bus, itu bus terakhir di trayek tersebut. Penumpang itu mungkin hanya mampu mengumpat dalam hati ketika busnya disalip bus setrayek yang sekilasan terlihat kosong.
Ketika bus sudah berjalan, penumpang benar-benar harus pasrah terhadap cara sopir menyetir. Ada sopir yang memacu bus kencang-kencang dan jantung penumpang juga ikut terpacu kencang. Lebih-lebih bila mereka sedang ”balapan”. Maksudnya, bus harus sampai di terminal terakhir pada jam tertentu sementara tenggat waktu itu sudah mepet, atau bus harus berpacu dengan bus setrayek, persis tengah balapan di lintasan balap yang sialnya itu jalan raya umum.
Ada juga sopir yang begitu lamban mengemudikan kendaraannya, yang bahkan pengendara sepeda motor yang berjalan lambat pun bisa menyalipnya. Penumpang yang sudah punya urusan pada jam tertentu bisa-bisa mulai galau memikirkan kemungkinan terlambat. Tapi lagi-lagi, ia hanya bisa menggerundel.
Kalau saya tukang survei, mungkin saya akan menemukan angka bahwa delapan dari 10 sopir jika tidak supercepat ya superlamban.
Bagaimana bila ada penumpang yang hendak turun di tempat tertentu? Awak bus meminta mereka bersigegas dan akan marah-marah bila yang mau turun itu lamban jalannya. Mereka lupa, atau sengaja cuek, terhadap sikap manis mereka ketika merayu calon penumpang naik.

***

BEBERAPA hari lalu saya berada di bus kelas ekonomi dengan tujuan akhir Semarang. Seorang ibu-ibu naik bersama beberapa penumpang lain. Barang-barang si ibu dalam dua tas plastik ditaruh di bawah kursi saya. Dari aromanya yang aduhai, saya menerka isinya ikan basah. Jujur saja, saya terganggu oleh aroma itu. Tapi saya juga harus ikhlas sebab si ibu berhak membawa apa saja lantaran bus tak memberlakukan peraturan mengenai barang apa yang boleh dibawa penumpang.
Ketika hendak turun, si kondektur mengomeli si ibu soal bau amis menyengat dan dengan enteng meminta seorang pengamen yang juga hendak turun untuk mengambilkan dua tas plastik itu. Bahkan, ia meneriaki sopir untuk segera kembali memacu busnya ketika baru satu kaki si ibu yang menjejak tanah. Syukurlah, si ibu hanya sedikit limbung ketika kedua kakinya sudah memijak tanah.
Apa kira-kira yang ada dalam benak kondektur itu, wahai Pembaca? Saat itu saya berpikir, memang tidak enak menjadi orang yang tidak memiliki kekuasaan terhadap perjalanan bus seperti para penumpang itu. Ia dirayu dan diharuskan membayar ongkos tertentu, tetapi dibiarkan begitu saja mau beroleh kursi atau berdiri, dan ketika awak bus sudah mencapai tujuannya berupa penumpang yang membayar ongkos, mereka bisa cuek atau bahkan memperlakukan si penumpang seenaknya.
Masih dalam perjalanan yang sama, beberapa saat kemudian, sebuah kopor penumpang jatuh ke jalan akibat laju bus yang kencang pada suatu jalan berbelok di wilayah Demak. Kopor itu berada di dekat pintu bagian belakang. Ketika si kondektur menyadari hal itu, bus yang memang kencang lajunya sudah sekitar 200 meter dari kopor terjatuh itu. Ia bertanya siapa pemilik kopor dan ketika si pemilik yang gadis muda itu menjawab, sang kondektur bilang, ”Mbak turun saja dan cari bus berikut,” ujarnya sembari memberikan uang. Saya tak tahu jumlahnya, tapi saya perkirakan itu sejumlah ongkos dari Demak ke Semarang.
Gadis itu turun dengan muka kecut dan mengatakan, ”Kok tidak bertanggung jawab….”
Saya lagi-lagi hanya mampu membatin, ”Memang tidak enak menjadi orang yang bukan pemilik kekuasaan atas bus.”
Sampai di sini, Jon berkomentar, ”Apa sih yang hendak kamu tulis? Ketika orang ramai membicarakan pilpres dan persaingan panas dua kandidat, kenapa kamu kok menulis sesuatu yang basi, yang dialami banyak orang dan sudah dianggap biasa?”
Saya berusaha tersenyum dan bilang kepadanya, ”Jon, apa perlu kutegaskan bahwa kita para calon pemilih itu mirip calon penumpang dan setelah memilih, kita bernasib serupa para penumpang dalam ceritaku itu?”
”Kamu paranoid!”
”Jon, aku yakin, bila kau naik bus kelas ekonomi, kau tak ingin dapat awak bus seperti yang kuceritakan itu. Dan aku belum ngomong soal calo bus yang ternyata memiliki kekuasaan terhadap awak bus. Kalau kuceritakan, kau bakal semakin menuduhku sebagai pengindap paranoia akut. Bagaimana bila ternyata ada orang-orang yang semacam calo bus dalam perjalanan bus bernama pilpres ini?”
Jon yang telanjur menganggap saya paranoid, sudah nggeblas entah ke mana. (*)

Kolom Smilokui, Suara Merdeka, 8 Juni 2014


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Pemungut Kata dari Udara

Tuit-Tuit

Error: Twitter did not respond. Please wait a few minutes and refresh this page.

Pilih-Pilih

%d bloggers like this: