Home » Kolom SMILOKUI » TAK ADA JALAN KE RHOMA

TAK ADA JALAN KE RHOMA

PEMILIK akun @Dulfikri2 mention ke akun Twitter saya: ”@PengendaraAngin Ane sering baca artikel Abang di mingguan SM, topiknya jangan politik melulu ya. Mbosenin.”
Saya tersadar, rupanya saya juga terseret arus zaman yang disebut orang sebagai Tahun Politik. Tentu saja meskipun tulisan saya di kolom ini sangat ringan, mungkin malah superringan sampai-sampai beberapa pembaca mengkritik ”saya hanya bisa nulis tetek-bengek”, pada kenyataannya ihwal politik sering menjadi topiknya. Dan itu (ternyata) membosankan! Lantas?
”Sudah, menulis gosip saja! Bergunjing itu asyik, Bro,” celetuk Jon Lebay.
Saya sangat terkejut oleh volume suaranya yang superkeras seperti orang yang tengah mengumpat-umpat. Tapi saya harus maklum ketika melihat dua telinga Jon sedang disumpal earphone, eh maaf biar tidak keminggris, kita sebut pelantang telinga.
”Jon, bergosip atau bergunjing itu tidak baik. Ghibah namanya.”
”Apa? Kau setuju, kan?” teriak Jon.
Menyebalkan benar bicara sama orang yang telinganya tersumpal. Sudah berteriak-teriak seperti orang yang sedang bertengkar, tidak nyambung pula. Saya memberi isyarat agar dia mencopot pelantang telinganya itu. Syukurlah, dia sepakat.
”Jon, aku tak mau bergunjing. Tak boleh. Kau kan ingat petuah idolamu Bang Haji Rhoma Irama bahwa ghibah itu seperti makan bangkai saudaramu.”
”Justru itulah, ayo kita gunjingkan Bang Haji.”
”Jon!”
”Kenapa PKB tidak jadi mencalonkannya sebagai presiden meski mengakui ada Efek Rhoma?”
Ku tak mau tak mau tak-tak-tak-tak-tak…. Sama saja bohong, itu kan ngomongin politik juga. Nanti saya diprotes pembaca lagi.”
”Halah nggaya, kayak penulis top saja. Kukasih tahu ya, Pak Muhaimin Iskandar tidak jadi mencalonkan Bang Haji karena….”
”Jon, setop, Jon!”
”… karena beliau ditelepon Pak Presiden yang khawatir Bang Haji benar-benar bisa jadi presiden….”
Jon berhenti untuk mengutak-atik keypad ponselnya sambil kembali memasang pelantang telinganya. Meski sebal dengan aksi Jon, saya terpancing untuk tahu isi telepon Pak Presiden.
”Kamu pasti ngawur, tapi apa kekhawatiran Pak Presiden?”
Jon tersenyum, licik dan merasa menang. ”Tertarik, ya? Ini, dengarkan saja!” ujarnya sambil menempelkan pelantang telinganya ke kedua telinga saya. Terdengar lagu ”Ani” dengan vokal khas Rhoma Irama.
”Simak, terutama pada larik ini: Nanti bila sudah tercapai cita-cita/Baru aku akan kembali padamu, Ani….”
Lalu sembari mengambil pelantang telinganya kembali, dia bilang, ”Bila cita-cita Bang Haji jadi presiden itu terwujud, beliau bakal datang ke Bu Ani….”
Jon pasti sedang membanyol. Setahu saya, Ani itu nama prototipe untuk pasangan Rhoma Irama dalam beberapa filmnya, baik saat berpasangan dengan Yati Octavia maupun Ricca Rachim. Dan banyolannya itu sudah kelewatan. Tapi saya juga harus tahu diri bahwa seseorang berhak punya banyolan atau anekdot atau apa pun namanya. Tak bisa dilarang seperti pada zaman Stalin atau Khrushchev atau Brezhnev di Uni Soviet dulu.
Ya, Rhoma Irama sudah menarik dukungannya untuk PKB yang mepet ke Jokowi-JK. Tapi, saya yakin Bang Haji itu paham peribahasa ”banyak jalan menuju Roma” (seperti salah satu judul lagunya), dan paham pula setidak-tidaknya untuk Pilpres 2014 ini, ”sudah tak ada jalan (kepresidenan) ke Rhoma”.
Saya membayangkan Rhoma Irama menghibur diri dengan menyimak kembali ratusan lagu-lagunya: bahwa ”Ada Udang di Balik Batu” tapi tak perlu harus ”berkelana tiada orang yang tahu”, atau merasa kehidupannya di panggung politik sudah masuk ke ”Malam Terakhir” sampai harus ”Begadang” dan berteman dengan ”Mirasantika”. Cukuplah dia bersanding dengan keluarga dan berdendang ”Syahdu”: ”Bila kamu di sisiku hati rasa syahdu/Satu hari tak bertemu hati rasa rindu/’Ku yakin ini semua perasaan cinta/Tetapi hatiku malu untuk menyatakannya.
Lalu cablekan Jon ke bahu saya membuyarkan lamunan saya tentang Bang Haji. ”Hei Bro, mau tahu gosip lain, kenapa….”
Saya memberi isyarat penolakan dengan mengatakan, ”Ku tak sudi tak sudi tak-tak-tak-tak-tak….
”… kenapa dari beberapa alternatif wapres, Jokowi pakai JK?”
Mbuh!
”Soalnya kalau tidak pakai JK namanya O-owi dong…,” ujarnya sembari ngakak.
Ah, basi! Saya sudah tahu banyolan itu. Omongan Jon itu ada pada rekayasa foto tentang telepon-teleponan Obama dengan Jokowi yang disebar di jejaring sosial dan broadcast BlackBerry.
Melihat gelagat saya mengabaikannya, dia mencopot pelantang telinganya dan dengan gaya seorang kiai, dia berkata, ”Tentu saja, Bro, semua itu tadi hanya kelakar semata. Hanya banyolan. Semestinya kau bisa tertawa, bukannya malah cemberut. Sebab, sampai Pilpres nanti, kita akan dibanjiri banyolan-banyolan yang tampak serius dan keseriusan yang tampak sebagai banyolan, terutama mengenai para kandidat capres-cawapres. Dan lagi-lagi, kita tak pernah tahu, dari sampah informasi itu manakah yang benar. Akibatnya kita hanya akan dibuat termehek-mehek dan manyun belaka. Karena itu, saranku: belajarlah tertawa sebelum tawa pun dilarang. Dan kalau ada capres-cawapres yang melarang orang tertawa, aku, Jon Lebay, tak bakal memilihnya. Wassalam.” (*)

Kolom Smilokui, Suara Merdeka, 25 Mei 2014


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Pemungut Kata dari Udara

Tuit-Tuit

  • #Cerita196:CINTA-32. Manon pulang, Eva lelap. Angin santer lewat jendela. Manon merapatkan selimut dan cium keningnya, dan menutup jendela.i 1 year ago
  • #Cerita195:GENDUT. "Rekening Arya tambah gendut. Kau juga, perutmu! Meski begitu, buatku kau tetap six-pack," ujar Eva. Manon hanya ngakak. 1 year ago
  • #Cerita194:PIKIRAN. Di dalam pikiran Manon, Eva itu Putri jelita. Bahkan wajah kusut Eva seusai bangun tidur tampak begitu menawan. 1 year ago
  • #Cerita193:GERIMIS. Manon senang senang duduk di balkon saat gerimis belum menjadi hujan. Eva tak pernah alpa menyeduhkan teh untuknya. 1 year ago
  • #Cerita192:PANIK. Ada berita pesawat jatuh. Eva panik dan menelepon Manon. "Kamu tidak di pesawat, kan?" "Aku di kamar, sayang." 1 year ago

Pilih-Pilih

%d bloggers like this: