Home » Kolom SMILOKUI » PRESIDEN ATAU PESINDEN?

PRESIDEN ATAU PESINDEN?

JANGAN  tanya pada Jon Lebay soal siapa yang layak jadi presiden. Dia mungkin hanya akan bikin Anda galau. Saran saya, bertanyalah padanya soal pesinden favorit. Yakinlah, dia bakal mentraktir Anda ngopi dan berbuih-buih bicara soal suara nges para pesinden.
Agar saya tak dianggap melancarkan kampanye hitam, pembunuhan karakter, atau fitnah terhadap Jon, silakan simak kisah berikut.
Seminggu setelah pemilu 9 April 2014, seorang lelaki muda mendatangi Jon Lebay. Setelah memperkenalkan dirinya sebagai tukang survei, dan Jon bersedia diwawancarai, dia bertanya, ”Bapak Jon, bagaimana pendapat Bapak tentang calon-calon presiden kita?”
”Siapa?”
”Memang belum diresmikan KPU sih, tapi ini hanya untuk mengetahui opini masyarakat seperti Bapak Jon. Bagaimana pendapat Bapak mengenai Pak Haji Rhoma Irama, Pak Abu Rizal Bakrie, Pak Jokowi, Pak Prabowo?”
”Bagus semua. Semua bagus.”
”Alasan Bapak?”
”Ya baguslah, kan semua punya pengalaman jadi pemimpin. Bagaimana bisa memimpin kalau tak punya pengalaman, kan?”
”Bisa dijelaskan secara lebih spesifik?”
”Pak Haji Rhoma punya pengalaman memimpin Soneta Group. Beliau bahkan punya pengalaman sebagai raja, Raja Dangdut. Pada zaman modern ini, seorang raja boleh saja menjadi presiden. Tak harus merasa turun pangkat seperti yang dialami Nagabonar. Anda tahu Nagabonar? Tak masalah kalau tidak tahu, tapi dia itu diturunkan pangkatnya oleh Lukman dari Marsekal menjadi Jenderal. Jadi, dari raja menjadi presiden ya oke-oke sajalah….”
”Kalau Pak A….”
”Pak Abu Rizal Bakrie ya punya pengalaman memimpin Partai Golkar. Beliau juga tak harus merasa turun pangkat dari presiden banyak perusahaan menjadi presiden satu negara. Pak Jokowi begitu juga, punya pengalaman memimpin Kota Solo, juga memimpin provinsi khusus seperti Jakarta. Pak Prabowo pun sama, beliau punya pengalaman memimpin Kopassus dan Kostrad. Jadi, semua punya pengalaman memimpin, kan?”
”Maaf Bapak, tapi memimpin Republik Indonesia itu berbeda dengan memimpin grup dangdut, sebuah partai, sebuah provinsi, atau satuan tentara.”
”Saya kan bilang punya pengalaman, dan pengalaman itu guru terbaik seperti kata pepatah, kan?”
”Tapi kan persoalan dan urusannya lebih kompleks bila menjadi presiden, Bapak….”
”Loh Anda ini mau menyurvei atau ngajak berdebat? Kalau ngajak debat, ya Anda salah orang. Memangnya saya kandidat yang pamer kepintaran debat di televisi?”
Si anak muda agak ciut nyali juga ketika mendengar perubahan nada pada jawaban Jon Lebay, yang tadinya nada fa menjadi si.
”Maaf Bapak, bagaimana peluang masing-masing?”
Jon merendahkan nadanya ke fa lagi. ”Semua berpeluang jadi presiden.”
”Kok Bapak Jon menyimpulkan begitu?”
”Sederhana saja. Kalau nama-nama yang Anda sebutkan itu nanti ditetapkan KPU sebagai calon presiden, ya semuanya berpeluang menghilangkan kata calon. Analoginya begini deh, hmm… Anda suka sepak bola? Tahun ini, Atletico Madrid dan Real Madrid berpeluang merebut piala Liga Champion sebab keduanya melaju ke final. Anda bakal ditertawakan bila mengatakan yang berpeluang jadi juara Liga Champion itu AC Milan hanya lantaran Anda itu milanista, atau Liverpool lantaran Anda itu mati-hidup sebagai liverpudlian. Bisa Anda terima argumentasi saya?”
”I-i-iya, Bapaaak…. Tapi untuk mengukur peluang kan harus menghitung kelebihan dan kekurangan masing-masing.”
”Tentu saja. Atletico Ma…,”
”Pak, ini tentang calon presiden, bukan tentang Liga Champion.”
”Oh maaf, tentang kelebihan dan kekurangan calon pesinden, ya?”
”Presiden, Bapak! P-r-e-s-i-d-e-n, bukan p-e-s-i-n-d-e-n!”
”Wah, kalau soal beliau-beliau saya tidak bisa menjawab. Saya tidak kenal dekat dengan beliau-beliau, mana bisa tahu? Nah, bila Anda bisa mengenaldekatkan saya pada beliau-beliau, tentu saya tak akan melupakan Anda. Omong-omong, bagaimana kalau kita ngopi dan Anda akan saya ceritakan tentang para pesinden seperti Nyi Tjondrolukito, Bu Waldjinah, Mbak Sunyahni, Mbak Nurhana, atau Mbak Songimah eh maaf Soimah….”
”Terima kasih, Bapak. Tapi saya tidak ngopi ketika sedang bertugas. Kali lain kalau saya ditugaskan menyurvei tentang para pesinden, saya akan menemui Bapak. Oya, agar saya tidak salah menulis nama, bisakah Bapak menulis sendiri nama Bapak?”
”Oh, no problemo!”
Si anak muda mengerutkan kening saat membaca huruf-huruf yang ditulis Jon Lebay.
”Loh Bapak ini Jon Lebay, bukannya Joni Dep?”
”Itu nama asli saya tapi memang banyak orang yang memirip-miripkan saya dengan Johnny Depp. Tanggapan saya cukup dengan mencontoh Syahrini. Jadi, alhamdulillah ya….”
Anak muda itu memandang lekat-lekat pada muka Jon Lebay. Bibirnya terlihat bergerak-gerak seperti gerakan ingin mencibir. Tapi begitu ingat nada suara Jon Lebay kemungkinan akan naik ke oktaf kedua, dia buat bibir itu tersenyum. Kecut.
”Ya, maaf Bapak, saya sudah salah orang. Permisi….”
”Hei Kisanak, Anda tidak salah orang. Saya ini seorang dari banyak lainnya yang tak kenal betul capres-cawapres selain lewat kehebohan media massa  dan jejaring sosial, juga lewat para tukang survei seperti Anda.”
Lelaki muda tukang survei itu keburu pergi dan Jon hanya bicara kepada angin. (*)

Kolom Smilokui, Suara Merdeka, 11 Mei 2014


1 Comment

  1. Hahahha…. Jon Lebay pancen OYE !!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Pemungut Kata dari Udara

Tuit-Tuit

Error: Twitter did not respond. Please wait a few minutes and refresh this page.

Pilih-Pilih

%d bloggers like this: