Home » Kolom SMILOKUI » PAMER

PAMER

DI FACEBOOK, seseorang menceritakan sesuatu yang telah dia lakukan. Tak ada yang aneh sebab di jejaring sosial tersebut, kita bisa mengunggah apa pun: cerita, informasi keberadaan diri, umpatan atau ekspresi singkat tentang perasaan tertentu, dan lain-lain. Dan tak perlu dipersoalkan arahan Facebook setiap kali pengguna hendak menulis atau mengunggah status yang berbunyi: Apa yang Anda pikirkan? Untuk Twitter, arahan statusnya berbunyi ”Apa yang terjadi?”. Tapi tak hanya apa yang dipikirkan atau yang terjadi, pengguna bisa mengunggah apa saja, termasuk keluh kesah yang pendek seperti ”Oh aku galau….”
Kembali ke cerita orang tersebut, pada suatu malam, selepas mengikuti pengajian, seorang ibu tua mendatangi si pencerita. Ibu yang berasal dari luar kota itu ditinggal rombongannya. Lalu dengan sepeda motornya, si pencerita mengantarkan ke rumah salah seorang kerabat si ibu. Wanita tua berterima kasih dengan memberinya bonus doa yang menurut si pencerita terlalu berlebihan. Tapi doa itu menyadarkannya bahwa malam itu dia harus melakukan sesuatu yang baik.
Di tengah perjalanan menuju rumahnya, dia menjumpai sekelompok santri yang tengah menunggu tumpangan untuk bisa sampai ke ponpes mereka. Si pencerita agak menyesal karena dengan sepeda motor, dia hanya bisa memboncengkan dua orang saja.
Usai mengantar dua santri itu, ban sepeda motornya bocor. Saat itu sudah tak ada tukang tambal ban. Dia paksa kendaraannya melaju hingga sampai ke rumahnya. Begitu sampai, bergegas dia ambil kunci mobil yang disebutnya inventaris kantor. Dengan mobil itu, dia segera ke tempat rombongan santri yang kemungkinan masih menunggu tumpangan.
Bensin mobil hampir habis dan di dompetnya hanya ada Rp 15 ribu. Singkat cerita, dia berhasil mengantar rombongan santri itu bolak-balik tiga kali dengan lokasi tujuan yang tak sama. Dia berbahagia dan bersyukur telah menolong orang lain.
Cerita itu begitu inspiratif. Komentar di bawah cerita itu juga sebagian besar mengungkapkan hal serupa. Tapi salah satu komentar membuat saya agak ”tersentak”: cerita itu cenderung bersifat riya’. Istilah itu merujuk pada perbuatan baik yang dilakukan seseorang dengan tujuan agar dilihat orang lain, atau lebih pasnya untuk mendapatkan pujian. Tentu saja, menurut para ulama, perbuatan itu harus dihindari.

***

SAYA sangat yakin si pencerita tak bermaksud riya’. Di Facebook, sama seperti kebanyakan pengguna, dia hanya ingin berbagi cerita. Syukur-syukur bila ceritanya memberi inspirasi pada orang lain, dan itu sudah terbukti.
Penggunaan penokohan ”aku” (yang memang si pemilik akun) dalam cerita itu secara tak terhindarkan memunculkan kesan riya’. Si ”aku” berkesan ingin pamer atas perbuatan ”heroik”-nya. Saya yang sebenarnya sudah lama tak aktif di Facebook, lantaran tersentak oleh komentar tentang riya’ itu ikut berkomentar. Saya bilang, bila cerita itu ditulis dengan penokohan orang ketiga (”dia”), kesan riya’ itu kemungkinan tak muncul.
Setelah membaca dan berkomentar, saya tersadar: siapa yang pada hari gini tidak riya’? Lebih-lebih lagi, medium untuk riya’ begitu banyak. Di jejaring sosial, di koran-koran (cetak maupun daring), di televisi, kita seolah-olah berlomba-lomba untuk memamerkan sesuatu. Bila kita buka Facebook, cerita serupa di atas itu seabrek.
”Sekarang ini, kalau tidak narsis, mana bisa eksis?” ujar Jon Lebay.
Narsis? Ya, kata itu sudah jamak digunakan beberapa tahun ini yang secara sederhana diterjemahkan sebagai ”pamer” atau ”berpamer diri”. Tak peduli bila kisah mitologis tentang Narcisus yang jadi etimologi kata tersebut sama sekali tak menceritakan keinginan pamer si tokoh. Dia hanya mengagumi dirinya, mencintai dirinya secara berlebihan.
”Tak usah munafik bin hipokrit, ah. Orang menyumbang ke panti asuhan atau korban bencana saja ingin diketahui perbuatannya. Kalau tidak mengundang wartawan untuk menyaksikan amal baik itu, ya nulis status di jejaring sosial. Kau sendiri ikut memfasilitasi orang berbuat riya’.”
”Lo, kok?”
”Alah, kura-kura makan tahu, pura-pura tak tahu, berapa kali kautulis berita tentang siapa menyumbang apa? Berapa kali kautulis profil orang lengkap dengan semua tindakan yang baik-baik saja?”
Saya tertawa, tapi tidak terbahak-bahak. ”Aduh, Jon, itu kan bertujuan memberi inspirasi pada pembaca….”
”Alasan!”
”Tapi benarkah sekarang ini, untuk bisa eksis, orang harus narsis?”
Au ah gelap!”
Bila Jon Lebay sudah menjawab seperti itu, obrolan sudah saatnya dihentikan.
”Wah, berarti ego narcissi ergo sum….”
”Apa itu?”
”Rene Descartes bilang, ‘cogito ergo sum‘ (‘aku berpikir maka aku ada’. Jdi, menurutmu orang sekarang bilang, ‘ego narcissi ergo sum‘ (aku narsis maka aku ada).”
”Tuh kan, kau juga suka pamer bahwa kau bisa bahasa Latin, padahal kau cuma memungut dari Google Translate.”
Waduh, Jon benar bahwa saya ini tak lebih dari sekadar tukang pamer. Lebih-lebih bila yang dipamerkan itu hanya barang ”curian” atau ”pungutan liar”, astaghfirullah…. (*)

Kolom Smilokui, Suara Merdeka, 4 Mei 2014


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Pemungut Kata dari Udara

Tuit-Tuit

  • #Cerita196:CINTA-32. Manon pulang, Eva lelap. Angin santer lewat jendela. Manon merapatkan selimut dan cium keningnya, dan menutup jendela.i 1 year ago
  • #Cerita195:GENDUT. "Rekening Arya tambah gendut. Kau juga, perutmu! Meski begitu, buatku kau tetap six-pack," ujar Eva. Manon hanya ngakak. 1 year ago
  • #Cerita194:PIKIRAN. Di dalam pikiran Manon, Eva itu Putri jelita. Bahkan wajah kusut Eva seusai bangun tidur tampak begitu menawan. 1 year ago
  • #Cerita193:GERIMIS. Manon senang senang duduk di balkon saat gerimis belum menjadi hujan. Eva tak pernah alpa menyeduhkan teh untuknya. 1 year ago
  • #Cerita192:PANIK. Ada berita pesawat jatuh. Eva panik dan menelepon Manon. "Kamu tidak di pesawat, kan?" "Aku di kamar, sayang." 1 year ago

Pilih-Pilih

%d bloggers like this: