Home » Kolom SMILOKUI » MAKAN TUH MEREK

MAKAN TUH MEREK

JON Lebay adalah orang yang suka benda-benda atau sesuatu yang secara umum disebut bermerek. Alasan dia, selain berkualitas bagus juga awet. ”Mahal sedikit ya tidak apa-apa, kan ya barang brendid,” ujarnya.
”Brendid atau brendi?”
”Tulisannya b-r-a-n-d-e-d, Bro. Bermerek.”
Lantaran Jon orang yang mengasyikkan untuk digoda, yang bisa keluar kenyinyirannya bila dibantah, saya pun menggodanya dengan bilang, ”Lo semua benda atau barang yang dijual itu pasti ada label, ada namanya. Itu juga merek, kan? Barang yang ciptaan Tuhan yang sudah diberi nama oleh manusia, sebut saja buah-buahan, itu juga perlu dilabeli.”
”Itu sih merek-merekan. Yang disebut brendid itu… Wah, susah ngomong sama orang yang berselera rendah macam kau!”
Sebenarnya saya ingin mengatakan bahwa tinggi-rendah selera seseorang tidak selalu ditentukan oleh sesuatu yang dikonsumsi atau dipakainya. Tapi saya tidak ingin berbalah dengannya, yang ujung-ujungnya hanya akan menjadi debat kusir.
Tentu saja ada orang-orang yang serupa Jon, pendewa sesuatu yang melalui proses pencitraan dan branding tertentu akhirnya disebut sebagai ”bermerek”. Sesuatu tak lagi hanya dilihat pada realitas atau fungsinya semata, tapi lebih pada persepsi terhadapnya.
Fungsi tas adalah untuk menyimpan benda atau barang tertentu agar mudah dibawa-bawa. Tapi tas yang misalnya bermerek SA (singkatan dari Saroni Asikin, hehehe….) tentu saja akan dianggap jauuuuuuh kualitasnya dibandingkan tas bermerek LV alias Louis Vuitton. Baju sama-sama untuk berbusana, tapi baju bermerek J&D (Jon dan Dalban), tentu saja berbeda dengan buatan D&G (Dolce & Gabbana).
Apakah memakai baju D&G dan mencangking tas LV berbeda rasanya dengan yang merek J&D atau SA? ”Jelas dong. Pemakainya lebih pede,” jawab Jon Lebay.
”Dan punya kecenderungan ingin memamerkannya kan, Jon? Pantas saja kau bersikeras tidak mau menggunakan pelindung telepon seluler yang menutupi logo apel krowak-mu. ”
Jon tersipu-sipu. ”Apakah pamer sedikit itu salah? Pada hari gini kalau tidak narsis atau ber-selfie-selfie, mana bisa eksis?”
”Terserah engkau, Jon. Itu kan barang-barangmu sendiri.”

***

HANYA saja, lantaran barang-barang yang disebut Jon sebagai bermerek itu hampir selalu mahal, tak semua orang bisa memilikinya. Tapi produsen tak kurang akal. Maka dibuatlah yang KW1 atau KW2, istilah yang lebih halus dari ”asli tapi palsu”. Muncullah barang-barang yang seperti itu. Bentuk dan desain sepintas sangat mirip. Bahkan ada istilah supercopy alias tiruan super, sampai-sampai dibutuhkan seorang ahli atau orang yang terbiasa dengan barang dimaksud untuk mengecek keasliannya.
Tak pelak, sering lahir kisah lucu yang ironis. Para penggila merek itu bisa saja merasa kecewa. Seseorang membeli jam bermerek yang kerap diiklankan di televisi melalui seorang temannya. Beberapa saat dia menikmati kebanggaan sebagai pemakai jam kelas dunia. Bahkan pada awal-awal memakainya, tiap beberapa menit dia selalu terlihat mengecek waktu. Apa lacur? Jam itu hanya berfungsi tak lebih dari dua bulan.
Seorang teman dari kalangan sosialita bercerita, kecenderungan memiliki barang bermerek yang ternyata abal-abal itu berlaku di kalangannya. Itu bukan karena si sosialita tak mampu membeli yang asli melainkan karena yang bersangkutan tidak begitu mengetahui detil barang yang asli.
Bahkan dia bercerita tentang seorang temannya yang malu tingkat dewa akibat keabal-abalan barang ”bermerek” miliknya. Pada suatu hari, dia memasuki gerai barang fesyen bermerek internasional di Kawasan Orchard, Singapura. Saat itu dia dengan bangga menenteng tas yang mereknya adalah label gerai itu. Konon tas itu dia beli lewat perantaraan seorang koleganya. Dia mandah saja ketika seorang petugas keamanan di gerai itu meminta dengan sopan untuk memeriksa tas miliknya. Dia pikir, itu prosedur biasa. Dia juga masih merasa biasa ketika si petugas keamanan memanggil seorang staf. Sang staf segera memeriksa secara cermat tas miliknya. Betapa terkejutnya si sosialita ketika staf itu mengatakan barang tersebut abal-abal dan sesuai kebijakan pemilik merek, tas itu harus ”dilenyapkan”. Maka dengan tatapan nanar dia melihat tas yang selama beberapa waktu dia tenteng dengan penuh kebanggaan itu digunting-gunting si staf.
Jon juga sering mengalami kekecewaan seperti itu. Tentu saja, sesuai kemampuan finansialnya, harga barang ”bermerek” yang diburu Jon tak semahal milik si sosialita. Di ruang tamunya, ada sebuah cangkir baru yang patah gagangnya. Saya lihat, cangkir itu belum sekali pun digunakan. Desainnya berkenaan dengan Piala Dunia 2014 di Brasil. Saya ambil cangkir itu dan menilik-niliknya.
”Itu kubeli di pasar mini eh minimarket. Harganya sekian kali lipat dari harga cangkir serupa. Maklum, kan ada logo berhologram Piala Dunia-nya.”
”Jadi yang kamu beli itu mereknya, bukan cangkirnya?
Dia mengangguk, tanpa semangat. ”Saya ingin bilang, ”Makan tuh merek, Jon!” tapi yang keluar dari mulut saya adalah: ”Tak perlu menyesal. Kamu kan sudah berbahagia membeli yang ada mereknya. Patah gagang sebelum dipakai juga tak masalah, bukan?” (*)

Kolom Smilokui, Suara Merdeka, 27 April 2014


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Pemungut Kata dari Udara

Tuit-Tuit

Error: Twitter did not respond. Please wait a few minutes and refresh this page.

Pilih-Pilih

%d bloggers like this: