Home » Kolom SMILOKUI » MAU KUSINGKAT REZEKIMU?

MAU KUSINGKAT REZEKIMU?

ELOK Bunga, anak saya, berulang tanggal kelahiran. Dia tidak menginginkan perayaan. Tapi ketika hendak berangkat sekolah, dia meminta sejumlah uang. ”Untuk PU!” Saya mengerutkan kening. Anak SMP seperti dia, apa urusannya dengan Dinas Pekerjaan Umum?

Sama seperti banyak orang, saya memahami kepanjangan PU yang paling populer adalah ”pekerjaan umum”, salah satu bagian dalam struktur birokrasi pemerintahan dengan salah satu tugas yang paling dikenal masyarakat adalah bikin atau memperbaiki jalan. ”PU itu pajak ultah untuk teman-teman, Yah!” O-oh, singkatan PU buat dia dan teman-temannya ternyata merujuk pada konsep yang selama ini kita pahami sebagai ”traktiran”, hal galib ketika seseorang ber-”ultah”. Oya, ultah atau ulang tahun adalah istilah yang lazim kita pakai untuk menyebut tanggal kelahiran seseorang. Saya lebih suka menyebutnya ulang tanggal kelahiran karena yang berulang bukan tahun kelahiran seseorang melainkan tanggalnya.

Bukan kali itu saja, singkatan versinya membuat saya mengerutkan kening. Suatu saat ketika saya menanyakan sesuatu, dia menjawab, ”IDK!” Apa pula ini? Saya ingin tertawa ketika dia memanjangkan singkatan itu. ”I don’t know! (saya tidak tahu!).”

Banyak pakar bahasa mengatakan kita ini masyarakat yang gemar membuat singkatan dan akronim. Bahkan, untuk jumlah singkatan dan akronimnya, bahasa Indonesia jadi juara dunia. Lebih-lebih lagi, agen penciptanya sangat beragam, baik hanya perseorangan, kelompok, maupun lembaga tertentu. Sebagian singkatan atau akronim itu pada akhirnya dianggap lazim (atau bahkan baku) karena dipakai dan dipahami sebagian besar penggunanya. Bila anak saya mengatakan GPL atau EGP, saya bisa mengerti maksudnya: ”gak pakai lama” atau ”emang gue pikirin.”

Tapi tak jarang, singkatan atau akronim itu hanya bisa dipahami oleh pencipta atau kelompoknya. Seorang mahasiswa menuliskan kata ”madin” di dalam tugas pembuatan berita. Saya pikir itu salah tulis untuk ”modin” atau ”mading”. tapi konteks kalimatnya jauh dari kedua kata itu. Lalu saya mengecek ke KBBI dan tak menemukan lema ”madin”. Di kelas, pada saat bertemu dengan si pencipta akronim, saya semakin disadarkan pada kecenderungan begitu bebas dalam membuat singkatan dan akronim. Dia mengatakan, ”madin” adalah akronim dari ”madrasah diniyah” yang dulu pada era saya lebih akrab disebut ”sekolah arab”.

***

BAGUSKAH kecenderungan menyingkat dan berakronim dalam berbahasa? Entahlah. Tapi pada kenyataannya, selain gemar menyingkat dan berakronim, kita punya daya hebat untuk menerima singkatan dan akronim baru sebagai pengganti yang lama.

TPS, tentu semua tahu itu singkatan dari tempat pemungutan suara. Tadinya, singkatan itu juga dipakai untuk tempat pembuangan sampah. Nah, bagaimana bila orang datang ke TPS tidak untuk mencoblos tapi untuk membuang sampah? Pasti tidak asyik. Jadilah, untuk yang kedua kita punya TPA atau tempat pembuangan akhir.

Celakanya, TPA dulu juga singkatan dari taman pendidikan anak. Tak mungkin seseorang mendatangi TPA untuk membuang anaknya, bukan? Lebih-lebih sekarang, orang menyebut TPA untuk menyebut taman pendidikan Alquran, sesekali dengan singkatan TPQ (taman pendidikan Quran). Tentu saja, yang ke situ ingin anaknya pintar mengaji, bukan ingin melepas tanggung jawab dengan membuangnya. Tak hanya itu, TPA juga singkatan dari tempat (ada yang menyebutnya taman) penitipan anak. Para orang tua yang bekerja dan tak punya pengasuh anak di rumah itu datang untuk menitipkan anak-anak mereka yang masih batita (bawah tiga tahun) atau balita (bawah lima tahun). Yang sudah ABG, apalagi ABG yang ababil (ABG labil?) tentu saja tidak lagi perlu dititipkan di TPA, lebih-lebih yang ”balita” (bawah lima puluh tahun), hehehe….

Bayangkan, bila sembari menuju ke tempat penitipan anak, seseorang mencangking kantung plastik berisi sampah, tentu dia harus benar-benar berada dalam kondisi ”waspada”, eh mungkin malah ”awas” untuk tidak salah tempat. Pasti bikin geger bila yang dilempar ke TPA yang tempat penitipan anak itu kantung plastiknya sementara yang didudukkan dengan lembut di antara tumpukan sampah adalah anaknya.

Teman saya, Gunawan Budi Susanto atau dikenal sebagai Kang Putu, selalu gemas setiap kali mendapat SMS (tentu yang kepanjangannya short message service, bukan semua makan sosis, apalagi kok selangkah menuju selingkuh) yang ditulis dengan penuh penyingkatan. ”Sabda Tuhan saja tidak disingkat-singkat, kok,” ujarnya.

Ahai, bayangkan kita berdoa dengan kata-kata yang disingkat: ”Tuhan YME, berilah hambamu KDA (kebahagiaan dunia-akhirat). Berilah RH (rezeki halal) yang Engkau ridai. Amin.” Kita percaya, bahkan tanpa mengucapkannya secara lantang, Tuhan tahu isi doa kita, dalam bahasa apa pun. Tapi bagaimana bila pengabulan Tuhan atas doa kita seperti ini: ”Kukabulkan doamu. Seseorang Kukirim kepadamu untuk memberi uang 1.000.000 rupiah. Tapi lantaran engkau berbahagia dengan singkatan dan akronim, orang itu akan memberikan uang Rp 1 untukmu.” Lebih tidak asyik lagi bila ada tambahan kalimat, ”Begitu juga usiamu, akan Aku persingkat.” Subhanallah! (*)

Kolom Smilokui, Suara Merdeka, 20 April 2014


1 Comment

  1. ASTI…
    (Aku Suka Tulisan Ini)
    Hehehee…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Pemungut Kata dari Udara

Tuit-Tuit

  • #Cerita196:CINTA-32. Manon pulang, Eva lelap. Angin santer lewat jendela. Manon merapatkan selimut dan cium keningnya, dan menutup jendela.i 1 year ago
  • #Cerita195:GENDUT. "Rekening Arya tambah gendut. Kau juga, perutmu! Meski begitu, buatku kau tetap six-pack," ujar Eva. Manon hanya ngakak. 1 year ago
  • #Cerita194:PIKIRAN. Di dalam pikiran Manon, Eva itu Putri jelita. Bahkan wajah kusut Eva seusai bangun tidur tampak begitu menawan. 1 year ago
  • #Cerita193:GERIMIS. Manon senang senang duduk di balkon saat gerimis belum menjadi hujan. Eva tak pernah alpa menyeduhkan teh untuknya. 1 year ago
  • #Cerita192:PANIK. Ada berita pesawat jatuh. Eva panik dan menelepon Manon. "Kamu tidak di pesawat, kan?" "Aku di kamar, sayang." 1 year ago

Pilih-Pilih

%d bloggers like this: