Home » Kolom SMILOKUI » TUHAN MENDENGARKAN

TUHAN MENDENGARKAN

PESTA di ballroom sebuah hotel itu meriah oleh obrolan dan lalu-lalang orang. Itu suasana yang galib. Bila pun ada yang kurang, mungkin itu panggung hiburan. Tapi di sudut ruangan, agak jauh dari meja terdekat, seseorang tengah memainkan piano.
Saya bukan tamu undangan pesta tersebut melainkan tamu ajakan. Saya tak mengenal si sahibul pesta. Dia kolega seorang teman saya, ya orang yang menjadikan saya tamu ajakan itu. Dan seperti yang saya bayangkan sebelum datang, saya hanya akan menjadi obat nyamuk.
Setelah bersalam-salaman, duduk di kursi menghadap meja bundar penuh perangkat makan-minum, menjawab pertanyaan basa-basi, lantas selebihnya teman saya asyik mengobrol dengan tamu semeja yang hampir semua koleganya. Mereka mengobrolkan topik yang agak asing buat saya dan sama sekali saya tak tertarik menyimaknya.
Jadilah saya juga benar-benar ”asyik sendiri”. Tentu saja saya tak menyukai suasana seperti itu. Tapi lantaran menyandang nama Asikin, saya harus bisa selalu mengasyikin diri sendiri, hehehe….
Saya melihat ke seluruh ruangan. Sama saja: di meja-meja, orang mengobrol, pramusaji mondar-mandir plus lalu-lalang sebagian orang. Saat itulah saya mendengar nada dari dentingan piano si pemain yang sendirian di sudut. Nadanya seperti saya kenal. Aha, ”Get Your Kicks On” alias ”Route 66”. Lagu yang begitu saya sukai, siapa pun penyanyinya dan apa pun versinya: Nat King Cole si pencipta yang nge-blues; atau putrinya Natalie Cole yang soul agak-agak R&B; atau saat si putri duet bareng Diana Krall yang nice jazzy.
Alhamdulillah, saya yang asyik sendiri dibikin asyik oleh si pemain piano. Saya menyimak lagu itu sambil memandangi caranya bermain dari kejauhan. Lantas saya tersadar: hanya saya seorangkah yang memperhatikannya? Itu pun lantaran dia memainkan lagu yang begitu saya sukai. Sedari datang, saya bahkan mengabaikan dirinya sama sekali. Dia bukan mendiang Bubi Chen atau pemain piano kondang. Itu sebabnya, seperti saya, semua orang di ruangan itu kemungkinan tak merasa perlu mengetahui siapa sang pemain piano. Saya juga yakin, si pianis sadar bahwa tak bakal ada orang yang ”sempat” memperhatikannya dalam suasana pesta seperti itu. Tapi mengapa dia terlihat begitu takzim, begitu intens, begitu istikamah memainkan piano seolah-olah seluruh mata di ballroom menatapnya penuh kekaguman?

***

KETIKA si pemain piano rehat dan keluar ruangan, saya pamit sebentar. Pasti pertanyaan soal ketakzimannya saat memainkan piano yang membuat saya ingin ”memburunya” dan syukur bisa sedikit mengobrol. Di luar, dia tengah menyeka mukanya yang sebenarnya tidak terlihat berkeringat.
Saya menyapanya dan mengatakan bahwa saya sangat menyukai permainannya terutama untuk lagu yang sudah saya sebutkan di atas. Saya tanya versi siapa yang dia mainkan. Dia mengucapkan terima kasih atas apresiasi saya dan dengan terkekeh, dia bilang, ”Versi saya sendiri. Anda pasti juga tahu bahwa lagu itu sangat bagus dimainkan dengan banyak versi.”
Caranya menjawab meyakinkan saya bahwa dia seorang yang ramah. Kami berkenalan, saling menyebutkan nama. Lalu, saya beranikan diri untuk bertanya, ”Saya lihat Anda begitu takzim saat bermain kayak sedang berada di ruang orkestra yang sangat besar. Tapi maaf, apakah Anda menyadari bahwa tak seorang pun di pesta yang memperhatikan Anda?”
Dia tertawa. ”Itu sudah biasa, Mas.”
”Tapi kenapa Anda begitu takzim, begitu serius, seolah-olah Anda takut melakukan kesalahan kecil ketika bermain. Dan tampaknya, Anda begitu menikmati permainan piano Anda sendiri.”
Dia menepuk ringan bahu saya, lalu, ”Mas, saya ini pemain piano, maka saya harus bermain sebaik-baiknya. Saya tahu, ini bukan resital piano di sebuah ruang orkesta. Ini pesta, dan saya tak bisa mengharapkan diri saya atau permainan piano saya jadi pusat perhatian. Tapi sekali lagi, sebagai pemain piano, saya harus bermain sebaik-baiknya, syukur-syukur yang terbaik menurut ukuran saya.”
”Tapi lumrah seorang pemain ingin diperhatikan, bukan?”
”Jangan khawatir, Mas. Saya punya dua pendengar tetap setiap saya bermain.”
Saat saya masih mengira-ngira siapa keduanya, dia bilang, ”Saya dan Tuhan. Saya yakin, bila saya bekerja atau melakukan sesuatu dengan baik, bila saya bermain piano dengan baik, Tuhan pasti mendengarkan.”
Saya takjub oleh kalimat-kalimatnya dan terkesiap ketika menyadari bahwa saya ini sering ingin pamer. Setiap melakukan sesuatu, bahkan yang remeh-temeh, saya ingin setiap orang melihat dan memuji-muji saya. Ups, malu benar saya.
Pada era sekarang, bahkan pepohonan saja menjadi ”korban” dari keinginan pamer seseorang, pasti sulit sekali mencari orang seperti si pemain piano itu. (*)

Kolom Smilokui, Suara Merdeka, 5 Januari 2014


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Pemungut Kata dari Udara

Tuit-Tuit

Error: Twitter did not respond. Please wait a few minutes and refresh this page.

Pilih-Pilih

%d bloggers like this: