Home » Kolom SMILOKUI » (TIDAK) SELALU PESTA

(TIDAK) SELALU PESTA

KITA sering menyebut pemilu itu pesta demokrasi. Namanya juga pesta, isinya suka-suka. Semua yang terlibat bergembira.
Apakah semua yang terlibat dalam pesta berbentuk pemilu legislatif yang baru berlalu itu bersuka-suka dan beriang gembira? Kalau menilik asal-usul katanya, seharusnya begitu. Pesta berasal dari kata Latin festum (tunggal) yang kata jamaknya festa, mengandung makna ”kegembiraan bersama” baik bersifat religius maupun personal.
Nah, bila kita sepakat bahwa pesta itu saat orang bersuka-suka, bagaimana setelahnya? Ceritanya bisa beragam. Sekembali dari sebuah pesta, tak semua orang bersuka-suka. Sebagian kecil atau bahkan banyak yang lalu berduka-duka.
Nah, misalkan saja seseorang datang ke pesta seorang kenalan. Katakan saja, itu pesta perayaan ulang tanggal kelahiran. Sebelum datang, tentu saja dia sudah memikirkan setidak-tidaknya penampilan dan hadiah yang pantas. Yang pantas itu ukurannya lain-lain, tapi apa pun, semua itu membutuhkan biaya. Untuk itu, tak masalah berapa duit yang harus dia keluarkan. Bila pun harus mencari utangan dulu, juga bukan persoalan serius sebab dia membayangkan bakal bersuka-suka di pesta itu, syukur-syukur kehadirannya berbuah rezeki tertentu setelahnya. Bila si sahibul pesta itu rekanan yang setiap kali bisa kasih proyek, kedatangan tokoh dalam tulisan ini adalah ”semiotika” kemungkinan kucuran proyek itu.
Jer basuki mawa bea. Untuk beroleh sesuatu, kita mesti keluarkan sesuatu dahulu. Mau mancing di sungai yang gratis saja, setidak-tidaknya kita punya joran dan kail dan umpan. Singkatnya, berapa pun biayanya siap kita keluarkan asal bisa ikut berpesta dengan menabung harapan bakal beroleh manfaat dari pesta itu. Kalau kebetulan duit lagi cupet, seperti sudah saya sebutkan, cari utangan pun bolehlah.
Tapi apa lacur? Di pesta itu, si sahibul pesta menyalami tokoh kita itu dengan salaman yang sangat formal. Setelahnya, meliriknya pun tidak. Bahkan di situ, dia mirip lalat yang berputar-putar sendirian sementara lalat-lalat lain sibuk merubung makanan. Misalkan saja, dalam pesta itu disediakan minuman beralkohol. Dia yang frustrasi, memutuskan mengisi lambung dengan bergelas-gelas minuman. Lantaran sebenarnya bukan peminum, mabuk beratlah dia.
Lantaran mabuk, saat menyetir mobil untuk pulang, dia mengalami kecelakaan. Setelah beberapa saat berlalu, dia stres memikirkan biaya rumah sakit, plus keharusan mengembalikan utang yang dipakai untuk berpesta. Pesta yang semestinya untuk suka-suka telah menjadi malapetaka buatnya. Si sahibul pesta sama sekali tak memedulikannya. Urusannya cuma mengundang ke pesta. Silakan datang, dan jangan lupa bawa buah tangan.

***

MAAFKAN saya, Pembaca, bila kisah ilustrasi itu tragis. Tapi pemilu legislatif yang pesta demokrasi itu sering melahirkan cerita seperti itu. Lebih-lebih meskipun masih ada pemilih yang mencoblos tanda gambar partai, yang dipilih itu orang, para kandidat yang disebut dengan keren calon anggota legislatif.
Agar dipilih, para kandidat itu pasti melakukan segala daya upaya. Selain mental, mereka harus menyiapkan kapital. Bila mental sudah oke, kapital belum tentu oke, dan harus dioke-okekan. Intinya, sudah entek amek kurang golek, begitu kata ungkapan Jawa. Dengan cemas-cemas berharap, dia tunggu perhitungan suara. Ketika tahu, ”suara”-nya nyaris tak terdengar, harapan itu melayang ke awan-gemawan. Di sinilah mental berbicara lagi. Kapital sudah melayang, dan gagal, eh mental ikut-ikutan terbang. Saya tak mau melanjutkan kisahnya sebab tentu saja Anda sudah membaca kisah para kandidat yang harus berurusan dengan psikiater atau bahkan rumah sakit jiwa. Pesta telah benar-benar berlalu buatnya.
Tentu saja ada orang-orang yang melanjutkan pesta. Merekalah para kandidat yang beroleh kursi. Kursi itu empuk, nyaman diduduki sampai sering bikin ngantuk, atau bahkan tertidur, dan mungkin pula bermimpi bahwa pesta masih berlangsung juga di ruang-ruang dan gedung legislatif. Oh betapa enaknya bisa berpesta terus, di mana saja, kapan saja.
Impian pesta tanpa henti itukah yang membuat para kandidat gagal itu tidak kapok bila ada lagi kesempatan? Entahlah. Mungkin saja mereka begitu yakin ungkapan ”kegagalan hanyalah keberhasilan yang tertunda.” Sekarang boleh gagal, siapa tahu besok berhasil.
Tentu banyak alasan mengapa orang tidak kapok jadi calon anggota legislatif. Di daerah saya, ada seseorang yang sampai pemilu legislatif 9 April lalu, kalau saya tidak salah hitung, telah menjadi orang yang minta dipilih sebanyak empat kali. Pertama, dia jadi kandidat bupati, dan gagal. Lalu berturut-turut jadi kandidat anggota legislatif DPRD Kabupaten, kandidat bupati lagi, dan <I>gagal maning-gagal maning<P>. Saya belum tahu, yang keempat kalinya sebagai kandidat anggota DPR (Pusat) ini berhasil atau tidak.
Oh, saya sangat ingin bilang padanya, ”Pak, sudahlah. Tidak jadi bupati atau anggota DPR kan ya gak patheken toh? Wong ya bisnis Anda sepertinya juga sudah banyak menyita waktu….”
Sayang sekali saya tidak mengenalnya secara personal. Dan bila pun mengenalnya, jangan-jangan saya cuma dianggap kongkang mengungkung ning jero leng alias katak berbunyi nyaring di lubangnya sendiri. Kwung! (*)

Kolom Smilokui, Suara Merdeka, 13 April 2014


1 Comment

  1. ijin ngikut mas….tiyang manggung nq

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Pemungut Kata dari Udara

Tuit-Tuit

  • #Cerita196:CINTA-32. Manon pulang, Eva lelap. Angin santer lewat jendela. Manon merapatkan selimut dan cium keningnya, dan menutup jendela.i 1 year ago
  • #Cerita195:GENDUT. "Rekening Arya tambah gendut. Kau juga, perutmu! Meski begitu, buatku kau tetap six-pack," ujar Eva. Manon hanya ngakak. 1 year ago
  • #Cerita194:PIKIRAN. Di dalam pikiran Manon, Eva itu Putri jelita. Bahkan wajah kusut Eva seusai bangun tidur tampak begitu menawan. 1 year ago
  • #Cerita193:GERIMIS. Manon senang senang duduk di balkon saat gerimis belum menjadi hujan. Eva tak pernah alpa menyeduhkan teh untuknya. 1 year ago
  • #Cerita192:PANIK. Ada berita pesawat jatuh. Eva panik dan menelepon Manon. "Kamu tidak di pesawat, kan?" "Aku di kamar, sayang." 1 year ago

Pilih-Pilih

%d bloggers like this: