Home » Kolom SMILOKUI » STEREOTIPE

STEREOTIPE

YANG paling saya sukai ketika hendak pergi ke suatu tempat ”asing” untuk kali pertama adalah saran gratis dari orang-orang, tentu saja yang pernah ke tempat tujuan saya. Jadi, tanpa menggelar walimatus safar (syukuran menjelang perjalanan, biasanya dilakukan calon haji), saya sudah dapat sangu saran alias nasihat. Tentu saja saya sangat berterima kasih, lebih-lebih bila ditambah dengan sangu dolar, hahaha….
Tapi apakah saya akan taklid dengan mengikuti saran orang-orang? Tunggu dulu, ya….
Ketika akan ke China, ada yang kasih saran, ”Hati-hati, di sana banyak pencopet dan tukang tipu.”
Di Kunming (China bagian barat daya), saya naik minibus menuju Zheng He Park (Taman Cheng Ho). Jarak dari pusat kota Kunming ke sana sekitar 70 kilometer. Saya memperkirakan ongkosnya 10 RMB (renmibi alias yuan yang saat itu 1 RMB: Rp 1.200). Ketika menarik ongkos, kondektur mengucapkan sesuatu yang saya tak paham.
Akhirnya saya berspekulasi sekaligus ingin membuktikan soal para penipu di China. Semua uang dari saku celana saya keluarkan semua, logam dan kertas. Bahkan, pecahan uang kertas 100 RMB juga ada. Saya persilakan sang kondektur mengambil sendiri ongkos yang diperlukan. Berapa yang dia ambil, Pembaca? 10 RMB. Agak terkesiap juga saya dan membayangkan seandainya saya mempraktikkan cara serupa di Indonesia, mungkin saya….
Ah, itu belum seberapa. Rupanya untuk sampai ke lokasi saya harus tiga kali naik minibus. Jadi, kalau ikut istilah Pak Sopir, saya harus dioper dua kali. Sang kondektur yang hanya mau 10 RMB di antara pecahan uang yang lebih besar itu mengantar saya ke bus berikut, menyilakan saya duduk, dan berlalu. Pun ketika pindah ke bus terakhir, sang kondektur mengantar dan menyilakan saya duduk. Sampai di lokasi, saya tak lagi ditarik ongkos. Jadi, memang 10 RMB ongkosnya. Eh, belum habis, cerita saya: setelah bus yang ketiga, saya harus naik taksi untuk ke lokasi taman. Jarak bus berhenti di terminal dengan tempat mangkal taksi sekitar 200 meter. Sang kondektur mengantar saya ke tempat taksi, berbicara dengan sopir taksi, dan saya hanya ber-xie-xie sambil bersoja.
Sebagai penumpang bus yang setia di Indonesia, saya juga sering dioper. Di sini tentu ”lebih hebat” sebab awak bus sangat yakin penumpang bisa mencari tempat duduk di bus berikutnya tanpa perlu diantar. Begitu pula, karena mereka berpikir ”time is money”, bila ada penumpang yang lamban berpindah bus, kadangkala ada bonus sumpah serapah untuknya dari sang kondektur atau kenek.

***

YA, tanpa mengurangi rasa terima kasih dan hormat saya kepada orang-orang yang telah ikhlas memberi nasihat, saya kadang berpikir bahwa apa yang mereka sampaikan hanyalah stereotipe tentang orang atau masyarakat tertentu. Stereotipe adalah penilaian terhadap seseorang hanya berdasarkan persepsi terhadap kelompok tempat orang tersebut dapat dikategorikan.
Ada stereotipe yang menganggap bahwa seorang gadis dari daerah X akan mendatangi laki-laki yang kasih senyum untuknya; bahwa semua orang di daerah Y itu kedekut alias bakhil alias kikir minta ampun; bahwa orang dari daerah Z itu maling semua.
Nah, Anda yang dari daerah X, Y, Z akan protes tingkat dewa seandainya Anda bukan orang yang gampangan, lumayan dermawan, atau bahkan takut mengambil mangga yang jatuh dari pohon milik tetangga. Tapi kepada siapakah Anda bakal protes? Bisa saja sebutan yang disematkan kepada Anda itu telah berlangsung bergenerasi-generasi. Itulah cara kerja stereotipe.
Sebelum berangkat ke Davao, Filipina, beberapa teman membisiki saya bahwa gadis Filipina itu eksotis dan mudah diajak kencan. Saya cuma tertawa.
Di Davao, ketika hendak membayar minuman di suatu kafe, gadis kasir itu berkata sesuatu dalam bahasa Cebuano (bahasa sekalin Tagalog di Filipina). Ketika tahu saya tak bisa menyimak perkataannya, dengan bahasa Inggris dia menanyakan asal saya. Lantas ada beberapa pertanyaan lanjutan: saya tinggal di hotel apa, kerasankah, dan apa kesan saya mengenai orang-orang Filipina.
Saat itu saya bersama seorang teman yang tetap duduk sementara saya ke kassa. Begitu tahu saya kelihatan asyik mengobrol dengan si gadis, dia mencari tahu apa isi ”keasyikan” kami. Saya ceritakan semua, lantas, ”Bodoh, itu tandanya dia minta diajak ke hotel. Payah!”
Ah, apa iya? Sampai sudah beberapa tahun lewat, saya tetap masih menyangsikan ucapan teman saya itu. Itu hanya stereotipe negatif saja mengenai gadis-gadis Filipina. Setahu saya, si gadis berusaha beramah tamah dengan ”turis” jirannya. Ya, keramahtamahan perempuan Filipina termasuk paling bagus sedunia. Mereka berbakat dalam bidang hospitality industry. Wajar saja, perawat Filipina laku keras di rumah sakit seluruh dunia.
Saya menulis kolom ini dari Bangkok, dan sebelum berangkat, beberapa orang sudah memberi nasihat: hati-hati bila diajak ke kelab malam. Masih mendinglah ketimbang yang ini: kalau ketemu gadis yang mengajak having fun, tanyai dia dulu apakah dia gadis tulen atau tidak.
Wah, saya belum bisa bercerita mengenai hal itu. Tapi saya yakin, diri saya sudah cukup kuat menerima saran atau nasihat yang bisa saja lahir dari suatu stereotipe. (*)

Kolom Smilokui, Suara Merdeka, 17 November 2013


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Pemungut Kata dari Udara

Tuit-Tuit

  • #Cerita196:CINTA-32. Manon pulang, Eva lelap. Angin santer lewat jendela. Manon merapatkan selimut dan cium keningnya, dan menutup jendela.i 1 year ago
  • #Cerita195:GENDUT. "Rekening Arya tambah gendut. Kau juga, perutmu! Meski begitu, buatku kau tetap six-pack," ujar Eva. Manon hanya ngakak. 1 year ago
  • #Cerita194:PIKIRAN. Di dalam pikiran Manon, Eva itu Putri jelita. Bahkan wajah kusut Eva seusai bangun tidur tampak begitu menawan. 1 year ago
  • #Cerita193:GERIMIS. Manon senang senang duduk di balkon saat gerimis belum menjadi hujan. Eva tak pernah alpa menyeduhkan teh untuknya. 1 year ago
  • #Cerita192:PANIK. Ada berita pesawat jatuh. Eva panik dan menelepon Manon. "Kamu tidak di pesawat, kan?" "Aku di kamar, sayang." 1 year ago

Pilih-Pilih

%d bloggers like this: