Home » Kolom SMILOKUI » SLENCO

SLENCO

ARKIAN, pada suatu hari, tersebutlah dua orang, perempuan dan lelaki, terlihat berduaan.
”Mas, Kangmas, namamu siapa?” tanya si perempuan.
”Sekarang ini hari Sabtu,” jawab si lelaki.
”Mas, Kangmas, mau pergi ke mana?”
”Sapi saya baru melahirkan tujuh ekor.”
”Duh aduh, kamu itu bagaimana sih?”
”Sekarang saya tidak pulang ke utara.”
”Memang kenapa kok pulang ke selatan?”
”Nama saya ini siapa sih?”
Percakapan singkat yang saya buka dengan gaya dongeng itu kemungkinan besar sudah akrab bagi sebagian besar dari Anda, khususnya yang demen lagu-lagu campursari. Eit, tapi tunggu, kita sepakati dulu, apakah itu termasuk percakapan? Mungkin ya itu percakapan atau sebuah tanya-jawab tapi bukan dialog. Perkataan mereka tidak saling nyambung. Pertanyaan si perempuan beroleh jawaban yang tidak berkaitan. Itulah situasi slenco.
Dan memang begitulah Cak Dikin, penyanyi campursari, menajuki lagu ciptaannya: ”Slenco” yang alinea pertamanya saya cuplikkan di atas setelah saya terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Lagu yang dinyanyikan berduet dengan Ami DS itu laris manis sejak diluncurkan hingga sekarang, dan bahkan diaransemen dengan beberapa varian seperti remix dan koplo.
Tenang saja, Anda yang tidak suka musik campursari, yang bila mendengarnya saja tubuh seolah-olah biduran seperti si Jon Lebay, bolehlah terus membaca kolom ini. Jon itu ke mana-mana selalu sesumbar bahwa selera musiknya berkelas atas. ”Musik kelas ndesit, campur-campur nggak jelas. Yang agak tinggian sedikitlah seleramu. Minimal jazz dong, Bro.”
Biar saja Jon mau ngomong apa. Dia lupa, setiap orang bebas punya selera musikal masing-masing. Kelas-kelasan hanya ada di sekolah. Dia juga lupa, dia sangat demen jazz khususnya yang fusion. Itu juga campur-campur, kan? Dan satu rahasia: di acara yang menghadirkan organ tunggal, dia selalu pesan lagu ”Oplosan”. Tapi sekali lagi, tak usahlah itu dibahas. Orang macam Jon banyak, yang menolak dangdut, tapi kaki atau tangannya selalu gatal ingin bergerak-gerak begitu mendengar bunyi kendang atau ketipung.

***

SUDAH sudah saya sebutkan, ini bukan tulisan soal selera musik melainkan tentang ”slenco” yang kebetulan jadi tajuk lagu campursari. Dalam kamus bahasa Jawa, lema ”slenco” tidak terjumpai. Kata itu berkategori slang Jawa yang berarti ”tidak nyambung” baik perkataan maupun perbuatan.
Nah, rupa-rupanya dalam keseharian kita sering menjumpai hal-hal yang ”slenco”, atau kita melakukan keslencoan tertentu, dari yang sederhana sampai yang perlu mengundang psikiater atau dokter. Kenapa? Sebab, bisa saja keslencoan itu gejala menuju kepikunan atau bahkan amnesia.
Kita keluar pakai sandal jepit yang kiri warna biru, yang kanan warna merah. Sandal selen (eits, jangan-jangan ”slenco” berasal dari kata ”selen”). Atau kita ke kantor untuk rapat dalam balutan tank-top dan kaki dibungkus legging sementara yang lain kalau tidak berjas atau blazer, ya pakai kemeja. Masih mending bila legging-nya sewarna, sebab bila selen, orang bisa mengira ada Pippi Langstrumpf atau Pippi Si Kaus Kaki Panjang, tokoh rekaan idola anak-anak zadul yang dicipta Astrid Lindgren.
Keslencoan yang seperti itu tentu saja tak berefek besar. Paling-paling jadi objek pergunjingan. Keslencoan ketika berbicara dengan orang lain seperti dalam lagu, paling-paling si lawan bicara yang gemas dan mengkal hanya menyilangkan jari di dahi, dan kalau lagi nahas ya ditimpuk sandal jepit selen, hehehe….
Lebih-lebih lagi, lantaran manusia itu makhluk kreatif, sesuatu yang tidak nyambung, ya berusaha dibuat dalih agar seolah-olah nyambung. Tak hanya itu, saking kreatifnya, keslencoan dijadikan tren. Sandal selen beberapa waktu lalu dijual dan dipakai remaja dengan bangga. Kostum yang agaknya tidak tepat waktu dan tempat, atau yang biasa diistilahkan saltum (salah kostum) juga bisa dikemas sebagai mode. Itulah pintarnya kita, makhluk yang dikaruniai akal dan kemampuan berdalih.
Keslencoan itu pasti berakibat fatal sekali bila itu menyangkut prinsip dan kepentingan hidup orang banyak. Jadi pengadil yang semestinya membela yang benar, eh malah membela yang bayar. Jadi anggota dewan perwakilan rakyat yang semestinya mewakili rakyat, eh justru mewakili diri dan partainya. Pinjam istilah yang sering diucapkan Ki Anom Suroto untuk tokoh Kurawa itu dungwe alias mbedudung golek kepenake dhewe. Itu slenco yang akut.
Ah, banyak sekali, Anda bisa mencari contoh-contohnya, khususnya bila mencermati pemberitaan yang tak jauh-jauh dari tindakan rasuah alias korupsi. Dan sebentar lagi, bila para calon anggota legislator yang lagi ramai pasang baliho dan poster itu sebagian nanti jadi anggota legislator, siap-siaplah menunggu ragam keslencoan lain. Terkecuali bila calon anggota legislatornya macam Jon Lebay. Biar pun sering slenco, tapi itu hanya soal selera musikal saja. Mengaku membenci campursari tapi di kamar mandi berdendang: ”Tutupen botolmu, tutupen oplosanmu….” (*)

Kolom Smilokui, Suara Merdeka, 9 Maret 2014


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Pemungut Kata dari Udara

Tuit-Tuit

  • #Cerita196:CINTA-32. Manon pulang, Eva lelap. Angin santer lewat jendela. Manon merapatkan selimut dan cium keningnya, dan menutup jendela.i 1 year ago
  • #Cerita195:GENDUT. "Rekening Arya tambah gendut. Kau juga, perutmu! Meski begitu, buatku kau tetap six-pack," ujar Eva. Manon hanya ngakak. 1 year ago
  • #Cerita194:PIKIRAN. Di dalam pikiran Manon, Eva itu Putri jelita. Bahkan wajah kusut Eva seusai bangun tidur tampak begitu menawan. 1 year ago
  • #Cerita193:GERIMIS. Manon senang senang duduk di balkon saat gerimis belum menjadi hujan. Eva tak pernah alpa menyeduhkan teh untuknya. 1 year ago
  • #Cerita192:PANIK. Ada berita pesawat jatuh. Eva panik dan menelepon Manon. "Kamu tidak di pesawat, kan?" "Aku di kamar, sayang." 1 year ago

Pilih-Pilih

%d bloggers like this: