Home » Kolom SMILOKUI » RITUS MENEKUR

RITUS MENEKUR

BAYANGKAN, di sebuah kedai kopi tidak terdengar obrolan. Di ruangan itu sesekali terdengar bunyi seruputan, (mungkin) instrumentalia atau alunan dangdut, klasik atau ”asolole”. Lamat-lamat terdengar pula keletak kecil sentuhan jari-jemari pada layar telepon bimbit. Tak sekalimat pun terucap dari orang-orang yang nongkrong di situ, apalagi obrolan gayeng.
Apakah para pengunjung itu tidak saling mengenal? Penjual kopi mungkin akan menyangkal hal itu karena dia tahu, ada pelanggannya yang selalu datang berdua atau lebih. Tapi begitu duduk, ketika menunggu kopi atau saat menikmatinya, mereka langsung menekur seolah-olah ingin bertafakur. Mereka serupa para darwis yang khusuk memanjatkan puja-puja kepada Tuhan dengan jari-jemari pada tasbih. Bedanya, tasbih mereka berupa gawai, ya perangkat digital, yang bernama telepon bimbit, telepon seluler, telepon pintar, atau tablet. Mereka bukan mengkaji kitab zikir melainkan fatwa-fatwa androidiyah, blackberryah, atau tabletiyah.
Apakah ”tradisi menekur” mereka keliru? Haha, janganlah apa-apa diukur dengan keliru dan benar. Itu telepon-telepon mereka sendiri. Itu tablet-tablet mereka sendiri. Jadi, mereka bisa mendayagunakan sesuai keinginan. Tapi buat saya, kedai kopi, kafe, warung kopi, atau apa pun sebutannya, tanpa obrolan iseng atau serius lengkap dengan tawa terbahak para pengunjungnya itu lebih mirip pekuburan, tempat orang berziarah, bertahlil, atau bila pun berbicara harus bisik-bisik. Lagi pula, kalau hanya ingin ngopi, bikin sendiri di rumah juga bisa, kan?
Tapi benarkah orang-orang itu sedang tidak mengobrol? Tentu saja mereka mengobrol, tapi tidak dengan orang yang secara fisik berada di dekatnya. Chatting artinya obrolan, dan mereka bisa asyik dalam chatting, tak hanya dengan orang-orang di Solo tapi juga di Oslo, Norwegia. Tak hanya dengan yang di Demak tapi juga di Denmark. Tak cuma dengan yang di Sragen tapi juga di Sragentina….

***

SAYA mungkin terlalu lebay memberi ilustrasi kedai kopi tanpa obrolan yang dilisankan, bukan yang dituliskan. Kita masih menjumpai kafe-kafe yang heboh oleh suara-suara obrolan atau tawa membahak, bukan?
Tapi kita tak memungkiri bahwa sekarang ini, sebagian besar dari kita sudah menjadi anggota tarikat digitaliyah yang hampir selalu melakukan ”ritus menekur” di mana saja, kapan saja. Di lobi hotel, peron stasiun, halte, ruang tunggu rumah sakit bersalin, ruang tunggu dokter, atau ruang tunggu bandara, kita menekur benda kecil yang katanya bisa menggenggam seisi dunia. Bahkan di mobil atau sepeda motor, kita bisa BBM-an sampai-sampai Pak Polisi dengan gemas memasang spanduk imbauan untuk tidak menggunakan telepon ketika berkendara.
Itu tempat-tempat publik. Bagaimana di tempat privat, di rumah misalnya? Beberapa teman bercerita, ketika pulang dan berharap mendapat sambutan dari suami/istri, ciuman kecil atau sekadar senyum tersungging, mereka hanya menjumpai pasangan hidup yang sedang asyik monsel atau nablet. Ketika bersantai berdua, bukan obrolan ringan, entah untuk mengenang kekonyolan semasa berpacaran atau situasi cetar membahana manakala mereka saling jatuh cinta, melainkan ”lomba memencet”. Komunikasi lisan baru terjadi manakala salah seorang dari keduanya berseru, ”Pa, ingat si Atun, si Zaitun yang waktu kuliah ndesit-nya minta ampun? Gila, sekarang dia jadi penari latar Katy Perry, lo. Ini lihat instagram dia!” Atau, ”Mama pasti masih ingat Badrun yang tukang gombal dan bokis sama cewek-cewek, kan? Gayanya sekarang kayak ustadz hebat aja, sok kasih tausiah segala. Baca, Ma, ini twit hoax semua!”
Ya, teman-teman saya itu mengeluhkan situasi alienasi alias keterasingan dengan pasangan di rumah sendiri dan dengan bersemangat mengutuki kecanggihan gawai utawa perangkat digital. Tapi mereka juga bersemangat mencari informasi tentang gawai tercanggih. Alasan mereka? ”Kalau nanti mati gaya, berabe, kan?”
Nah, agar tidak dianggap ndesit, katrok, mati gaya, saya juga juga bergawai-gawai. Setiap saat, saya juga chatting, BBM-an, androidan, whatsappan, instagraman, twitteran, dan internetan via telepon seluler. Tapi saya tetap merasa lebih asyik ngobrol secara lisan. Saya tetap lebih asoi menatap langsung senyum manis atau kerling mata pasangan obrolan saya ketimbang dikirimi emoticon atau simbol smiley yang mewakili ekspresi seseorang. Saya memilih menatap wajah seseorang secara langsung ketimbang gambar geometris dua dimensi yang tidak menguarkan aura tertentu. Tak asyiklah. Apalagi, saya yakin kita lebih suka dikirimi uang nyata, asli bukan abal-abal, ketimbang gambar uang betapapun nilainya triliunan.
Ya, ini zaman ketika komunikasi antarorang di pelbagai belahan dunia begitu mudah terjalin, terutama setelah kemunculan media sosial. Orang-orang yang berjauhan jarak bisa seperti tengah berdekatan-dekatan. Ia mendekatkan yang jauh-jauh, tapi ia juga menjauhkan yang dekat-dekat. Jadi, bila masih diberi kesempatan mengobrol yang gayeng, matikan sarana komunikasi. Pasti tidak asyik berbicara dengan orang yang bergumam-gumam seolah-olah menyimak ucapan kita, tapi mata dan jari-jari ”menyimak” ponsel. (*)

Kolom Smilokui, Suara Merdeka, 10 November 2013


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Pemungut Kata dari Udara

Tuit-Tuit

  • #Cerita196:CINTA-32. Manon pulang, Eva lelap. Angin santer lewat jendela. Manon merapatkan selimut dan cium keningnya, dan menutup jendela.i 1 year ago
  • #Cerita195:GENDUT. "Rekening Arya tambah gendut. Kau juga, perutmu! Meski begitu, buatku kau tetap six-pack," ujar Eva. Manon hanya ngakak. 1 year ago
  • #Cerita194:PIKIRAN. Di dalam pikiran Manon, Eva itu Putri jelita. Bahkan wajah kusut Eva seusai bangun tidur tampak begitu menawan. 1 year ago
  • #Cerita193:GERIMIS. Manon senang senang duduk di balkon saat gerimis belum menjadi hujan. Eva tak pernah alpa menyeduhkan teh untuknya. 1 year ago
  • #Cerita192:PANIK. Ada berita pesawat jatuh. Eva panik dan menelepon Manon. "Kamu tidak di pesawat, kan?" "Aku di kamar, sayang." 1 year ago

Pilih-Pilih

%d bloggers like this: