Home » Kolom SMILOKUI » POHON TIDAK BUTUH POSTER

POHON TIDAK BUTUH POSTER

“POKOKNYA kamu harus ikut aku ke KPU!” ujar Jon Lebay dengan muka serius. Saya tidak segera menjawab. Saya tahu KPU yang Jon maksudkan. Tapi apa alasannya pergi ke situ? Saya tak pernah mendengar dia jadi caleg, atau jadi tim sukses salah seorang caleg atau partai.

Setahu saya, sejak dia punya hak memilih dalam pemilu, dia lebih suka mengikhlaskan haknya tidak dipakai. Dia tak pernah mencoblos atau mencontreng. Sekali-sekalinya pernah terlibat dalam suatu pemilihan, ya pemilihan ketua koperasi di tempat kerjanya. Itu juga bukan mencoblos atau mencontreng, melainkan menulis nama di atas sesobek kertas. Dengan rekam jejak seperti itu kok tiba-tiba mau ke Komisi Pemilihan Umum?
”KPU, Jon? Yang ngurusi pemilu itu?” tanya saya, sengaja dengan mimik Mr Bean sebelum melakukan aksi jahil.
”Apa ada lainnya?” balik Jon tanya, masih dengan nada serius.
”Ya kita kan bisa bikin singkatan seenak pusar kita. Kan bisa saja yang kamu maksud itu Komisi Pencarian Uang atau malah minyak untuk Kerik Pijat Urut. Ini Indonesia, Bung. Apa saja bisa diakronimkan dan disingkat.”
”Pliissss, nanti dulu kuliah bahasamu. Ini urusan gawat ke KPU, ko-mi-si spasi pe-mi-lih-an spasi u-mum….”
Baiklah, cukuplah godaan untuk Jon Lebay kita. Lagi pula dia bukan sosok yang menyenangkan untuk digoda-goda. Karena itu, dengan nada lembut saya tanyakan keperluannya ke KPU.
”Aku akan tuntut KPU mendiskualifikasi beberapa caleg. Aku sudah mengumpulkan bukti-bukti pelanggaran mereka.”
Sik, sik… iki lakone napa, Ki Mantep, eh Ki Jon Lebay?”
Jon membuka tas dan memperlihatkan setumpuk foto: poster caleg. ”Mereka harus didiskualifikasi. Pohon bukan tempat menempel alat peraga kampanye. Kalau tak percaya, buka saja Peraturan KPU No 15 tahun 2013 tentang pedoman pelaksanaan kampanye pemilihan umum anggota DPR/DPRD dan DPD RI.”

***

JON Lebay mungkin lebay dalam bereaksi. Hanya menempel poster di pohon harus didiskualifikasi? Copoti saja poster-poster itu, kan beres?
”Aku tidak mau disebut anarkis dengan membabi-buta mencopoti poster. Belum lagi kalau aku dimusuhi tim sukses caleg yang menempeli pohon dengan poster, dan diajak gelut? Atu atuuut…. ”
Jon boleh saja lebay, tapi kita tahu, dia sangat mencintai tanaman yang juga makhluk Tuhan. Dia tak ingin ”tubuh” makhluk kecintaannya itu disakiti oleh satu atau dua paku yang memantek poster. Pada saat sekarang ini, ketika kecintaan terhadap sesama makhluk agaknya sudah jadi sesuatu yang ”mahal”, sikap Jon patut dianut. Lebih-lebih bila dia melakukan aksi seperti yang dilakukan Pak Sariban dari Kota Bandung.
Pak Sariban adalah lelaki tua yang tak lelah-lelah mencopoti paku di pohon-pohon. Selepas purna kerja sebagai PNS, dengan sepeda onthel dia menyusuri jalanan, berhenti pada tiap pohon, menelisik apakah ada paku yang menempel, dan dengan sebuah tang, dia ungkit paku-paku itu, lantas dikumpulkan ke dalam tas.
Dan menakjubkan, dalam sehari sekira dua kilogram paku dia kumpulkan. Menakjubkan lantaran kita bisa membayangkan berapa banyak pohon yang telah dengan semena-mena dipaku. Saya tak tahu kabar Pak Sariban sekarang, tapi saya berharap beliau masih melakukan hal itu, termasuk Sariban-Sariban lainnya.
Benarlah, sebuah pohon tak bakal mati oleh pantekan satu atau dua buah paku. Tapi pernahkah kita membayangkan si pohon itu kesakitan? Mungkin tidak, karena kita tidak memahami ”bahasa pohon”. Lebih-lebih lagi, pohon itu sejenis makhluk yang tak berdaya di hadapan kita manusia yang selalu merasa digdaya. Ia tak bisa bergerak ke mana-mana, hanya terpaku di tempat, sementara kita bahkan bisa pergi ulang-alik ke antariksa. Kita bebas memperlakukannya seperti yang kita kehendaki: menempeli apa saja, mengecat dengan warna apa saja, mencuili kulitnya, atau memampuskannya sekalian dengan menebang.
Bayangkan bila pohon itu, katakan saja punya tangan dan kaki, bukan batang, cabang, atau ranting yang hanya bergerak kalau ada angin atau ditarik tangan manusia. Begitu ada orang mendekat dan mulai menempelkan ujung paku ke kulitnya, tangan atau kakinya sudah bergerak cepat menggampar orang itu. Kemungkinan besar, banyak yang kapok atau tak berani semena-mena terhadap pohon. Emang enak digampar pakai kayu? Hahaha, saya kok ikut-ikutan lebay kayak Jon Lebay sih….
Jadi, di hadapan kita pohon-pohon itu makhluk yang nyaris tanpa daya. Dengan mereka, patutlah kita berikan belas kasih. Menempel poster dengan memaku tubuhnya bisa saja disebut sebagai tindakan kurang belas kasih dengan alasan pohon-pohon tidak butuh poster, poster apa saja baik caleg maupun iklan sedot WC.
Nah, terhadap para caleg yang menempelkan posternya di pohon, yang terhadap makhluk lemah saja kurang belas kasih, enaknya kita apain ye?
”Diskualifikasi saja!”
Itu kata Jon Lebay. Kalau tuntutan dia diluluskan, tinggal berapa caleg dalam Pemilu mendatang? Bagaimana bila pilihannya tinggal sedikit? Jangan-jangan jumlah kursi yang tersedia lebih banyak daripada kontestannya…. (*)

Kolom Smilokui, Suara Merdeka, 2 Maret 2014


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Pemungut Kata dari Udara

Tuit-Tuit

  • #Cerita196:CINTA-32. Manon pulang, Eva lelap. Angin santer lewat jendela. Manon merapatkan selimut dan cium keningnya, dan menutup jendela.i 1 year ago
  • #Cerita195:GENDUT. "Rekening Arya tambah gendut. Kau juga, perutmu! Meski begitu, buatku kau tetap six-pack," ujar Eva. Manon hanya ngakak. 1 year ago
  • #Cerita194:PIKIRAN. Di dalam pikiran Manon, Eva itu Putri jelita. Bahkan wajah kusut Eva seusai bangun tidur tampak begitu menawan. 1 year ago
  • #Cerita193:GERIMIS. Manon senang senang duduk di balkon saat gerimis belum menjadi hujan. Eva tak pernah alpa menyeduhkan teh untuknya. 1 year ago
  • #Cerita192:PANIK. Ada berita pesawat jatuh. Eva panik dan menelepon Manon. "Kamu tidak di pesawat, kan?" "Aku di kamar, sayang." 1 year ago

Pilih-Pilih

%d bloggers like this: