Home » Kolom SMILOKUI » PING! POLBEK DONG…

PING! POLBEK DONG…

JON Lebay bilang, telepon selulernya sering jadi sumber ketidaknyamanan dalam berinteraksi dengan orang lain. Lo kok aneh, bukankah gawai itu berfungsi untuk mempermudah interaksi dan komunikasi yang ujung-ujungnya membuat nyaman para pemakainya? Jangan-jangan cara Jon keliru dalam memanfaatkan perangkat teknologi. Lebih-lebih lagi, dalam banyak hal, perilaku Jon Lebay kita itu sering nganeh-nganehi dan lumayan lebay, sesuai namanya.

”Tidak, saya orang biasa-biasa saja, kok” sergahnya sebelum bercerita panjang berkaitan dengan pemanfaatan teknologi.
Sewaktu telepon seluler mulai dipakai banyak orang, Jon baru memilikinya belakangan. ”Memang lebih gampang telepon-teleponan dan SMS-an.”
Ketika banyak orang sudah pakai telepon berkamera, dia juga ikut-ikutan, lagi-lagi belakangan tempo. ”Jadi bisa motret dan ngirim gambarnya. Sekali-sekali untuk narsis,” katanya.
Saat sudah banyak yang beli komputer jinjing, Jon juga. Orang beli modem lalu berinternet, Jon idem ditto. Waktu pesbuk baru muncul dan teman-temannya pesbukan, dia juga ikut. Begitu juga Twitter. Pokoknya, apa yang dilakukan banyak orang, dia lakukan juga. Hanya saja, dia orangnya bosanan. Pesbukan sebentar, twiteran sebentar, setelah itu menghilang dari peredaran pesbukiyah dan twiteriyah.
”Aku kehilangan renjana (passion) main-main begituan,” dalihnya.
Lalu muncul telepon seluler pintar (smartphone?), seperti Blackberry (BB). Kali ini Jon Lebay kita kehilangan selera ikut-ikutan. Bahkan, sewaktu banyak temannya ”memprovokasi” untuk pakai BB, dia bergeming. Lagi-lagi dalih kehilangan renjana bermedia sosial yang dia paparkan.
”Kalau BBM-an kan enak, tak usah keluar pulsa kayak SMS-an,” ujar kawan-kawannya.
Jon Lebay mau tertawa tapi tak jadi. Pikirnya, untuk paket BB, apa ya gratis?
Tapi dia menyerah saat suatu pagi seorang kenalan mengantar BB baru dan memaksanya ber-BBM-an. Saya sendiri heran dengan tokoh kita ini, kok beruntung banget dapat BB cap ratu alias ora tuku alias gretongan. Tapi saya langsung sadar bahwa orang punya keberuntungannya sendiri-sendiri.
Awalnya, dia merasa asyik-asyik saja. BBM-an, ikut grup, ikut-ikutan broadcast pesan, yah apa saja yang dilakukan orang lewat BB, dia lakukan.

***

PUN ketika Android muncul, Jon juga beli telepon seluler yang bisa androidan. Tak lupa dia juga bikin akun Whatsapp. ”Jadi aku tetap bisa komunikasi dengan yang nggak pakai BB.”
Instagram juga dia jabanin. Bahkan, dia sering memotret asal-asalan dan diunggah ke akunnya. Lantas, sewaktu Android membuka aplikasi BBM, dia juga bikin. Jadi bisa dibayangkan, kali ini dia punya dua nomor PIN, satu dari Blackberry, satunya dari Blackberry rasa Android.
Sampai tahap ini, Jon Lebay tak berbeda dengan banyak orang lain. Tapi lalu penyakit bosanannya kambuh. Dalih sakti kehilangan renjana, lagi-lagi keluar dari mulutnya. ”Aku kok merasa cukup dengan SMS-an dan telepon-teleponan.”
BB-nya lalu dimangkrakkan. Androidnya bernasib serupa. Itulah saat dirinya jadi sasaran keluhan yang membuatnya tidak nyaman.
”BB-mu ke mana? Aku pang-ping sampai jari keriting nggak direspons sih?”
”Aku chat kamu pakai whatsapp beberapa kali kok didiamkan saja?”
Mention-ku di Twitter kok nggak kamu rewes?”
”Aku selalu tag kamu di Instagram, kok nggak pernah kasih komen sih?”
”Berkali-kali aku tulis pesan di kotak pesan pesbukmu, pigimane nasibnya?”
Tibalah saat ketika tokoh kita ini merasa ”terganggu” lantaran dia berpikir bahwa dengan semua perangkat digital itu, dengan semua aplikasi pada perangkat digital itu, dia merasa ”kewajiban”-nya dalam hidup keseharian semakin banyak. Dan itu sering membuatnya kurang nyaman, terutama saat dirinya ingin menikmati waktu luang.
Lalu muncul pertanyaan darinya, ”Pentingkah semua itu?”
Dia bercerita lagi, suatu malam seorang kawannya menelepon sambil terguguk karena kontak BB-nya di-delete salah seorang kawannya. Seorang kawan yang lain galau ketika melihat foto dan status BB salah seorang temannya. Akibatnya, muncullah duga-sangka.
”Di Twitter, banyak sekali yang kirim pesan untuk polbek (follow back). Dan ada yang sangat girang ketika aku polbek. Pentingkah semua itu?”
Waduh, sebenarnya saya ingin menjawab, ”Jon, hanya engkau seorang yang tahu mana yang penting, mana yang kurang atau tidak penting. Tapi kalau engkau merasa tidak nyaman, banting saja semua perangkat digitalmu dan pergilah ke hutan atau gua. Bertapalah di sana.”
Kalimat itu hanya saya batin sebab saya tahu Jon Lebay itu agak sensi (peka), dan kalau sudah sensi, ke-lebay-an dia bakal membuat saya tidak nyaman. Padahal saat itu, saya juga ingin nge-ping dia dan meminta polbek…. (*)

Kolom Smilokui, Suara Merdeka, 23 Februari 2014


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Pemungut Kata dari Udara

Tuit-Tuit

  • #Cerita196:CINTA-32. Manon pulang, Eva lelap. Angin santer lewat jendela. Manon merapatkan selimut dan cium keningnya, dan menutup jendela.i 1 year ago
  • #Cerita195:GENDUT. "Rekening Arya tambah gendut. Kau juga, perutmu! Meski begitu, buatku kau tetap six-pack," ujar Eva. Manon hanya ngakak. 1 year ago
  • #Cerita194:PIKIRAN. Di dalam pikiran Manon, Eva itu Putri jelita. Bahkan wajah kusut Eva seusai bangun tidur tampak begitu menawan. 1 year ago
  • #Cerita193:GERIMIS. Manon senang senang duduk di balkon saat gerimis belum menjadi hujan. Eva tak pernah alpa menyeduhkan teh untuknya. 1 year ago
  • #Cerita192:PANIK. Ada berita pesawat jatuh. Eva panik dan menelepon Manon. "Kamu tidak di pesawat, kan?" "Aku di kamar, sayang." 1 year ago

Pilih-Pilih

%d bloggers like this: