Home » Kolom SMILOKUI » PILIHAN

PILIHAN

JON Lebay menyodori saya sebungkus rokok. Merek yang saya isap. Hmm, janur gunung alias kadingaren alias tidak seperti adatnya dia. Padahal bila diminta mentraktir secangkir kopi saja, dia sering pura-pura tidak bawa dompet. Tapi saya harus berpikir positif, dan harus saya buang persangkaan: ”Jangan-jangan ini ada apa-apanya.”
Apalagi, tak hanya sebungkus rokok, dia juga mengajak saya ngopi. ”Di warung tenda yang nggak mahal saja, ya?” ajaknya. Alhamdulillah!
Setelah beberapa seruputan kopi, Jon berkata lirih, ”Sekali-sekali buang kebiasaan lamamu. 9 April mendatang ke TPS, ya?”
Sejenak saya memikirkan maksud omongan Jon itu. Apa hubungan antara kebiasaan lama yang harus dibuang dengan tanggal 9 April 2014 dan TPS? Saya tahu itu tanggal pencoblosan pemilu legislatif yang sering disebut pileg. Saya sendiri agak kurang suka dengan singkatan itu sebab kalau diucapkan, mirip-mirip dengan pilek. Padahal setiap orang tak suka pilek, penyakit yang mungkin saja sepele buat kita yang hidup di wilayah tropis, tapi bisa bikin belingsatan mereka yang berada di kawasan subtropis. Lagi pula, kalau kita memilih orang-orang yang pilek, jangan-jangan mereka nanti tidak mau bersuara, atau kalau bersuara pun, suaranya bindeng alias sengau. Apa enaknya mendengar suara sengau? Hehehe….
Melihat saya tidak menjawab, Jon berkata lagi, ”Maksudku, buang kebiasaan golput-mu itu!”
O-oh, Jon tahu juga rupanya bahwa semenjak memiliki hak memilih (dan dipilih) dalam pemilu, saya tidak pernah pergi ke TPS. Ups, tapi itu tak sepenuhnya benar. Saya pernah satu kali ke TPS. Saat itu Jon entah di mana. Karena itu kepadanya saya ceritakan kisah satu-satunya saya berada di TPS.
Ketika itu pemilihan bupati dan wakil bupati di daerah saya. Jujur saja, saya tidak berniat mencoblos dengan alasan sangat sederhana: saya tak mengenal para kandidat. Tapi apa lacur, TPS persis di depan rumah saya, dan salah satu anggota KPPS adalah ipar saya. Pergilah saya ke bilik suara dan semoga Anda memahami alasan saya. Eh, anak saya yang sulung, saat itu berusia tujuh tahun, ikut-ikutan masuk bilik. Dia ambil surat suara dari tangan saya, membukanya, dan bilang, ”Coblos nomor tiga, Yah!” Dia ambil paku, dan blos! Jadilah saya seorang pemilih lewat tangan anak saya.
Setelah kembali ke rumah, saya tanya kepadanya kenapa dia memilih nomor tiga. ”Kampanyenya paling ramai!”

***

MESKIPUN tertawa mendengar cerita itu, Jon tetap mengatakan bahwa saya tak berhak mengklaim pernah melakukan pencoblosan dalam pemilu. Katanya, itu ”kreativitas” anak saya. ”Kebiasaan golput-mu belum dihitung sirna. Jadi, Rabu mendatang, gunakan hak pilihmu!”
”Lalu harus kupilih siapa?”
”Terserah, sesuai hati nuranimu.”
Saya tertawa. Sesuai hati nurani? ”Jon, Jon, bicaralah yang bisa kupahami. Kau mungkin lebih pantas jadi filsuf. Yang sesuai hati nurani itu yang seperti apa? Apakah berdasarkan visi-misi partai? Konsep ideologis partai? Program-programnya? Keberpihakannya? Kualitas para caleg?”
Jon diam dan mengambil rokok saya hasil pemberiannya itu. Saya yang jadi ”panas”, lalu mencerocos lagi. ”Semua partai bervisi-misi bagus. Ideologinya juga sejalan dengan konsep ideologis bangsa ini. Programnya apa lagi, serbabagus. Keberpihakannya wow, semua mengaku berpihak pada rakyat. Kualitas para caleg, ya mungkin hebat. Terbukti sudah lolos sensor dari KPU. Kalau semua bagus, masak harus kupilih semua? Kalau kupilih semua, kartu suaraku bakal dianggap rusak dong.”
Jon tetap bergeming, tetap mengasyiki rokok milik saya. ”Ayo Jon, kasih pendapat,” desak saya lagi, ”Atau menurutmu, lebih bagus aku pilih kandidat yang paling populer saja? Yang gambar wajahnya ada di poster, baliho, spanduk, iklan koran, iklan televisi, warung-warung, angkot? Pokoknya yang paling heboh, yang paling ramai? Hehehe, kok kayak mau makan saja, cari warung yang ramai. Yang ramai kan belum tentu enak. Dan yang enak belum tentu penjualnya ramah. Bukankah kamu suka merutuk-rutuk setiap habis makan pecel yang laris tapi penjualnya pasang muka manyun bin cemberut?
Anakku pilih yang kampanyenya paling ramai. Saat itu dia kelas 1 SD. Jadi, kalau aku memilih yang paling ramai, berarti aku masih seusia anak….”
”Stop!” akhirnya Jon bicara juga, ”Susah ngomong sama engkau. Kalau semua seperti engkau, demokrasi tidak jalan. Kau bisa dianggap menghambat proses demokrasi, lo.”
”Waduh, Jon, Jon, ini kan cuma pendapatku. Apa pernah aku berkampanye, berdemonstrasi, nulis di mana saja yang isinya mengajak orang untuk tidak menggunakan hak pilih? Tidak sekali pun, bahkan ke keluarga sendiri. Mereka punya hak dan berhak menggunakannya. Aku juga punya hak, dan berhak tidak menggunakannya, bukan? Lain soal kalau nanti mencoblos itu kewajiban. Pasti seterpaksa apa pun, aku harus melaksanakan kewajibanku.”
Jon memperlihatkan gelagat tidak betah. Dia meraba-raba kantung celananya. Syukurlah dia mengeluarkan dompet dan membayar kopi kami. Sebelum berlalu, dia sempat berkata, ”Kutunggu engkau di TPS pada 9 April mendatang.”
”Jangan khawatir, Jon. Aku sudah punya pilihan, kok,” ujar saya.
Sebenarnya, saya ingin menjelaskan lebih lanjut soal ”punya pilihan” itu, tapi dia keburu ngeloyor. Sayang sekali…. (*)

Kolom Smilokui, Suara Merdeka, 6 April 2014


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Pemungut Kata dari Udara

Tuit-Tuit

  • #Cerita196:CINTA-32. Manon pulang, Eva lelap. Angin santer lewat jendela. Manon merapatkan selimut dan cium keningnya, dan menutup jendela.i 1 year ago
  • #Cerita195:GENDUT. "Rekening Arya tambah gendut. Kau juga, perutmu! Meski begitu, buatku kau tetap six-pack," ujar Eva. Manon hanya ngakak. 1 year ago
  • #Cerita194:PIKIRAN. Di dalam pikiran Manon, Eva itu Putri jelita. Bahkan wajah kusut Eva seusai bangun tidur tampak begitu menawan. 1 year ago
  • #Cerita193:GERIMIS. Manon senang senang duduk di balkon saat gerimis belum menjadi hujan. Eva tak pernah alpa menyeduhkan teh untuknya. 1 year ago
  • #Cerita192:PANIK. Ada berita pesawat jatuh. Eva panik dan menelepon Manon. "Kamu tidak di pesawat, kan?" "Aku di kamar, sayang." 1 year ago

Pilih-Pilih

%d bloggers like this: