Home » Kolom SMILOKUI » MINYAK DI SENDOK

MINYAK DI SENDOK

PASTI amat menyenangkan bila kita bekerja, sukses, barakah alias berkah, dan itu dilakukan dengan penuh kegembiraan, yang pada akhirnya membuat kita bahagia. Mungkin ada tekanan dalam prosesnya, tapi itu tak mengurangi kegembiraan kita dalam bekerja.
Sayang sekali, itu tidak mudah. Kita bekerja, mungkin penuh kegembiraan, tapi tak selalu menemu keberhasilan atau kesuksesan. Kalau sudah bekerja dengan gembira dan sukses, belum tentu hasilnya berkah. Maksudnya, hasil pekerjaan kita punya kontribusi baik untuk orang lain, minimal untuk anggota keluarga kita.
Yang tragis, sudah kita bekerja penuh ketegangan dan jauh dari keriangan, tetap tidak sukses, apalagi kok berkah. Dan saya sering merasa berada pada situasi yang ”tragis” seperti itu. Karena itu, saya selalu takjub setiap kali bertemu orang-orang yang mengaku selalu enjoi ketika bekerja dan ternyata sukses, dan mengaku bahagia.
”Jalani semua dengan riang, Bro,” ujar orang-orang sukses itu. ”Bayangkan, ketika kau bekerja tanpa kegembiraan dan gagal, kau akan kehilangan dua hal. Kegembiraan dan keberhasilan. Kalau kita bekerja dengan gembira, bila pun gagal, kita hanya kehilangan satu: keberhasilan. Tapi itu pun bisa kita upayakan lagi.”
Ya, kata-kata itu ringan didengarkan, tapi sering berat diwujudkan. Sebab, memang bekerja dengan gembira tak serenyah omongan para motivator atau orang-orang sukses yang kisahnya sering kita baca di koran atau lihat di televisi. Untuk berbahagia, jalannya bisa sangat rumit, berat, dan berliku.
Salah satu contohnya, Paulo Coelho. Dia adalah pengarang Brasil yang berhasil, dan hampir semua novelnya bak kacang goreng. Sang Alkemis yang mengisahkan Santiago, bocah penggembala kambing yang memutuskan mengikuti impian dalam tidurnya, adalah novel pembuka kesuksesannya sebagai pengarang. Sebelum memutuskan pergi dan berjalan kaki mengikuti Jalan Perziarahan ke Santiago (perbatasan Spanyol-Prancis), Coelho telah sukses sebagai direktur program sebuah radio ternama. Tapi dia tidak berbahagia. Bolehlah dibilang, dia kini berbahagia menjadi pengarang, dan sukses, dan penuh berkah. Isi novelnya sering dikutip orang dan memberi berkah batin pada ratusan juta pembacanya di dunia.

***

SAYA akan menceritakan ulang satu nukilan kisah yang ditulis Coelho dalam Sang Alkemis. Mungkin sebagian besar dari Anda sudah pernah membaca atau mendengarnya. Tapi kisah yang bagus boleh diceritakan berulang-ulang, bukan?
Seorang pedagang meminta anaknya pergi untuk mempelajari Rahasia Kebahagiaan pada seseorang yang dikenal paling bijak di suatu negeri. Si anak muda menjelajahi gurun pasir selama 40 hari hingga menjumpai sebuah kastil indah di puncak bukit. Di situlah si orang bijak tinggal.
Tapi tak mudah menemui orang bijak tersebut. Ada banyak orang yang sedang punya urusan dengannya, juga ada banyak aktivitas di situ. Para pedagang datang-pergi, kerumunan orang mengobrol di salah satu sudut, orkestra kecil mengalunkan nada lembut, dan sebuah meja jamuan besar penuh hidangan dari seluruh dunia.
Si anak muda harus menunggu semua itu hingga gilirannya tiba. Sang bijak dengan saksama mendengar tujuan si anak muda dan berkata singkat bahwa dirinya tak punya waktu menjelaskan Rahasia Kebahagiaan. Dia sarankan si anak muda berkeliling ke semua bagian tempat tinggalnya.
”Oya, Anak Muda, saat kau berkeliling,” ujarnya sembari meneteskan dua tetes minyak ke sendok, ”bawalah sendok ini dan jangan sampai minyaknya tumpah.”
Si anak muda segera berjalan, naik-turun tangga dengan tetap memperhatikan sendok. Dua jam berikutnya dia kembali menemui sang bijak.
”Jadi, kau sudah melihat karpet persia indah di dinding-dindingku? Kau lihat taman buatan para maestro? Kau lihat perkamen indah di perpustakaanku?”
Si anak merasa malu dan mengakui dirinya tak melihat apa pun selain berkonsentrasi menjaga agar minyak di sendok tidak tumpah.
”Lakukan lagi. Bagaimana kau memercayai seseorang tanpa mengenali rumahnya?”
Kali ini si anak muda menikmati semua yang dia lihat dan ketika kembali bisa menceritakannya secara detil.
”Tapi mana dua tetes minyak yang kupercayakan padamu?”
Si anak baru menyadari, minyak di sendok itu telah tumpah, entah di mana.
”Satu-satunya saran untukmu, Rahasia Kebahagiaan itu terletak pada cara kita menikmati keajaiban dunia tanpa melupakan tetes minyak di sendok kita.”
Saya tak perlu menyimpulkan kisah itu untuk Anda karena saya yakin Anda sudah bisa mencerna maknanya. Hanya saja, kita sering seperti si anak muda. Kita bekerja keras dan sering abai pada sekitar. Atau, kita sering terlalu peduli terhadap lingkungan sekitar, tapi lupa pada tujuan pribadi. Lebih mengenaskan, andai semua itu kita lakoni tanpa kegembiraan. (*)

Kolom Smilokui, Suara Merdeka, 8 Desember 2013


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Pemungut Kata dari Udara

Tuit-Tuit

  • #Cerita196:CINTA-32. Manon pulang, Eva lelap. Angin santer lewat jendela. Manon merapatkan selimut dan cium keningnya, dan menutup jendela.i 1 year ago
  • #Cerita195:GENDUT. "Rekening Arya tambah gendut. Kau juga, perutmu! Meski begitu, buatku kau tetap six-pack," ujar Eva. Manon hanya ngakak. 1 year ago
  • #Cerita194:PIKIRAN. Di dalam pikiran Manon, Eva itu Putri jelita. Bahkan wajah kusut Eva seusai bangun tidur tampak begitu menawan. 1 year ago
  • #Cerita193:GERIMIS. Manon senang senang duduk di balkon saat gerimis belum menjadi hujan. Eva tak pernah alpa menyeduhkan teh untuknya. 1 year ago
  • #Cerita192:PANIK. Ada berita pesawat jatuh. Eva panik dan menelepon Manon. "Kamu tidak di pesawat, kan?" "Aku di kamar, sayang." 1 year ago

Pilih-Pilih

%d bloggers like this: