Home » Kolom SMILOKUI » MESIN WAKTU

MESIN WAKTU

SUDAH lama sekali saya tidak pesbukan. Pasalnya, saya sudah kehilangan passion alias renjana untuk berkomunikasi di jejaring sosial tersebut. Sekali-sekali saya masuk ke dalam grup tertutup yang hanya beranggotakan beberapa orang untuk berkoordinasi mengenai pekerjaan. Itu pun hanya melirik selintasan pada dinding pesbuk. Jadi, saya buta tentang dinamika yang terjadi di dalamnya.
Lalu beberapa hari lalu seseorang mengatakan kepada saya bahwa diri saya tengah ramai diperbincangkan di dalam status pesbuk seorang teman. Wow, macam pesohor saja. Meski kualitas diri saya pas-pasan, saya tetap berharap itu bukan ghibah utawa pergunjingan. Tak ada orang yang ingin digunjing, bukan?
”Kau disebut-sebut mirip seseorang.”
Wah, kalau itu sih sudah sering. Beberapa kali saya dimirip-miripkan dengan orang yang berbeda-beda. Kadang dengan Alex Komang, kadang dengan Master Limbad, sering dengan Yesus Kristus ketika rambut saya panjang, pernah dengan Abraham Samad, dan pernah juga dengan Sumanto. Saya menanggapinya biasa-biasa saja. Tidak bungah, tidak pun sedih. Kalau ada yang memiripkan saya dengan Brad Pitt, David Beckham, utawa Tom Cruise, mungkin ke mana-mana saya bawa cermin dan mengaca setiap setengah jam, hehehe….
”Tapi ini kali dengan sosok yang belum diketahui jatidirinya. Sosok dari tahun 1965. Katanya seniman.”
Waduh, sosok belum jelas? Semoga bukan hantu lantaran seperti yang saya tulis di kolom ini minggu lalu, saya tidak berbakat melihat hantu, apalagi sampai mirip mereka. Dan tahun 1965? Jangan-jangan itu mendiang ayah saya. Tapi ayah saya ”seniman” tukang bikin pintu-jendela alias tukang kayu.
Penasaran juga saya jadinya. Saya pun masuk ke akun pesbuk. Benarlah, di dinding pesbuk seorang kawan, foto saya dijejer dengan kover buku yang gambarnya memang menampilkan seseorang yang ”mirip” saya, plus keterangan yang menyebutkan ”keheranan” si pemilik akun terhadap kemalihrupaan selalu dan kemiripan wajah saya dengan beberapa tokoh. Lumayan banyak juga komentar dan para penconteng tanda suka. Seperti yang sudah-sudah, saya tidak bungah, tidak pun sedih. Lebih-lebih saya yakin, si pengunggah foto itu semata iseng meramaikan dinding pesbuknya. Hanya saja, si pengunggah (sengaja tidak saya sebutkan namanya agar Anda penasaran, hehehe….) itu agaknya lupa bahwa dirinya pun sering dimirip-miripkan dengan saya. Begitu pun, saya sering dimirip-miripkan dengannya. Bahkan, dia bercerita, suatu hari di suatu kampus, seorang mahasiswi berteriak histeris memanggil dirinya, ”Mas Saroniii….” dan cukup membuatnya termehek-mehek.
Nah, sengaja saya tidak ikut berkomentar di dinding pesbuk itu. Hanya senyum-senyum sendiri seperti saat dimirip-miripkan di dalam dunia nyata. Lagi pula, sebagai orang yang hidup di alam manusia, sudah biasa diri kita diperbincangkan, dipergunjingkan, atau bahkan difitnah orang, bukan?

***

SEMUA ihwal mengenai upaya pemiripan untuk saya itu boleh jadi semata materi untuk berhumor. Dan hidup butuh humor, bukan? Saya yakin, Anda pernah atau bahkan sering mengalami hal itu. Setidak-tidaknya dimirip-miripkan dengan ayah, ibu, kakek, nenek, atau kerabat lain.
Beberapa orang bahkan menangguk rezeki berkat kemiripan wajahnya dengan seorang pesohor. Sodikin dari Bandung, misalnya. Bahkan mantan pesepakbola kondang Fabio Cannavaro ngetwit soal kemiripannya dengan pesepakbola Ronaldinho Gaucho dari Brasil. Dia jadi beken dengan nama Ronaldikin. Atau yang iklan produk jamu pengusir masuk anginnya masih diputar di televisi, seseorang yang mengaku Bejo atau biasa disebut Jokowi KW2, menjadi tenar dan tentu meraup duit karena kemiripan wajahnya dengan Gubernur DKI Joko Widodo.
Bila hitungannya itu raihan keuntungan dari kemiripan wajah, keberuntungan saya tak sebagus dua nama yang saya sebut itu. Tapi saya sangat yakin, saya mensyukuri wajah dan seluruh diri saya. Dimiripkan dengan siapa saja, alhamdulillah. Dan alhamdulilah pula bila dimiripkan dengan tokoh yang baik, ganteng, tajir, pakai lamborghini atau porsche, dan dipuja-puja….
Di luar perihal kemiripan, yang menarik dari perbincangan di pesbuk itu adalah soal mesin waktu. Ada yang berkomentar bahwa sosok itu benar-benar diri saya yang masuk ke mesin waktu dan mengembara ke tahun 1965. Wah, wah!
Percayakah Anda mengenai mesin waktu? Saya masih meragukannya dan lebih yakin bahwa itu rekaan dalam bentuk novel karya HG Wells berjudul The Time Machine yang terbit pada 1895. Boleh saja orang-orang macam Andrew D Basiago, John Titor, William Stillings, atau James Burda mengaku pernah mengembara melintasi, bahkan hingga ke masa prasejarah.
Kalau mesin waktu itu ada, dan Anda berkesempatan memasukinya, ke masa apa dan ke mana Anda ingin menuju? Silakan ke masa apa pun dan ke mana pun, tapi jangan sampai tersesat dan lupa pulang ke rumah. Dan berdoa semoga mesin itu tidak macet. Namanya juga mesin, suatu saat bisa macet, kan? (*)

Kolom Smilokui, Suara Merdeka, 26 Januari 2014


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Pemungut Kata dari Udara

Tuit-Tuit

  • #Cerita196:CINTA-32. Manon pulang, Eva lelap. Angin santer lewat jendela. Manon merapatkan selimut dan cium keningnya, dan menutup jendela.i 1 year ago
  • #Cerita195:GENDUT. "Rekening Arya tambah gendut. Kau juga, perutmu! Meski begitu, buatku kau tetap six-pack," ujar Eva. Manon hanya ngakak. 1 year ago
  • #Cerita194:PIKIRAN. Di dalam pikiran Manon, Eva itu Putri jelita. Bahkan wajah kusut Eva seusai bangun tidur tampak begitu menawan. 1 year ago
  • #Cerita193:GERIMIS. Manon senang senang duduk di balkon saat gerimis belum menjadi hujan. Eva tak pernah alpa menyeduhkan teh untuknya. 1 year ago
  • #Cerita192:PANIK. Ada berita pesawat jatuh. Eva panik dan menelepon Manon. "Kamu tidak di pesawat, kan?" "Aku di kamar, sayang." 1 year ago

Pilih-Pilih

%d bloggers like this: