Home » Kolom SMILOKUI » MANJA

MANJA

SIAPA pun tak suka hati bila disebut manja, aleman, kolokan, cemen. Tapi saya tetap yakin, berapa pun usia kita, kita sering ingin bermanja-manja, ingin dimanjakan.

Itu manusiawi. Saya pun begitu, kan saya juga manusia. Sekadar ingin dibuatkan kopi atau teh, diambilkan telepon genggam atau apa pun yang remeh-temeh. La wong bisa membuat kopi atau teh sendiri, bisa mengambil telepon sendiri kok minta diambilkan, itu pasti muncul dari impuls rasa manja dalam diri kita.

Kadangkala kemanjaan itu memiliki target siapa yang harus memanjakan. Kalau yang mengambilkan makanan bukan si X, orang yang lagi bermanja-manja itu mau menyentuh pun tidak, apalagi kok melahap makanan yang sudah disajikan. Aneh memang, hanya soal memindahkan barang dari satu tempat ke tempat lain yang pasti tidak berpengaruh pada cita rasa makanan itu. Lain soalnya bila penolakan mengudap penganan itu lantaran chef-nya berbeda. Itu mungkin sudah berurusan dengan ihwal selera.
Tapi sekali lagi perlu ditegaskan bahwa kemanjaan atau keinginan bermanja-manja itu manusiawi tanpa si empunya harus diberi predikat si manja. Lebih-lebih ketika kita sakit, seolah-olah kita memiliki pembenaran untuk bermanja-manja. Kita punya alasan bahwa secara fisik, kita sedang tak berdaya, jadi lumrah meminta orang lain mengurusi kita, bahkan misalnya hanya untuk menyendokkan makanan dan membawakannya ke mulut kita. Karena kemanjaan itu acap punya sasaran pemanja yang khusus, ketika sakit, keinginan yang lumrah dan manusiawi itu bisa saja membuat rumit persoalan.
Saya sering menjumpai orang-orang sakit yang kemanjaannya agak bikin repot orang-orang yang sedang mengurusinya. Seorang nenek-nenek yang harus opname beberapa hari di rumah sakit untuk memulihkan sakit yang diakibatkan tekanan darah tinggi itu sudah nyaman diurusi beberapa anaknya. Tapi dari mulutnya terus terucap nama anaknya yang tinggal di kota yang jauh. Seolah-olah si anak sebutan itulah yang paling layak menemani dan mengurusinya ketika sakit. Memang belum merepotkan lantaran dia masih mau menuruti apa saja yang disarankan dokter dan mau diurusi anak-anaknya yang ada di situ. Hanya saja, anak-anaknya itu jadi agak ilfil ketika berpikir seolah-olah apa yang mereka lakukan sama sekali tak berharga.
Banyak lagi cerita yang mirip-mirip dengan itu. Seorang kepala desa yang meriang karena demam langsung sembuh total bila anak perempuan yang kebetulan tinggal di kota dengan jarak tempuh sekitar tiga jam itu sudah membesuknya. Padahal anaknya banyak yang tinggal di sekitar rumahnya, termasuk beberapa anak perempuan. Tapi hanya si putri kinasih itulah yang selalu disebut ketika tubuhnya meriang.

***

SOAL kenapa hanya satu anak di antara sekian anak kita yang menjadi kinasihan, saya tak bisa menjawab. Itu rahasia ilahi. Saya sering bertanya kepada orang-orang yang memiliki anak lebih dari satu, dan umumnya dengan gaya argumentatif menjawab, ”Rasa kasih sayang untuk semua anak itu sama. Perlakuannya juga sama, tapi memang hanya satu yang terasa paling dekat dengan diri kita.”
Ya, seperti halnya kenapa ada miliaran orang, tapi hati kita terpaut hanya dengan satu orang? Pasti itu juga rahasia ilahi. Karena itu, bila ada yang menautkan hati ke lebih dari satu orang, kita akan menganggapnya sebagai ”keluar” dari jalur yang semestinya, dan sering sekali berbuah kegegeran.
Jadi, kemanjaan, apa pun bentuknya dan siapa pun sasaran khususnya, tetaplah manusiawi. Itu sebabnya saya menganggap masih pada batas-batas manusiawi ketika Anas Urbaningrum, sosok yang lagi berurusan dengan KPK, dianggap terlalu manja dan melakukan permintaan yang aneh-aneh. Dia tidak mau makan bila makanan tidak dimasak dari rumahnya. Dia ingin dipijat oleh pemijat langganannya.
Di jejaring sosial, ”hujatan” terhadap sikap neko-neko Anas itu bermuara dengan predikat: bayi tuwa yang manja. Buat saya, siapa pun, betapa pun sudah kaken-ninen, kita sering berlaku sebagai bayi tuwa. Manusiawi banget, Bro.
Yang tidak saya sepakati dari kemanjaan Anas soal makanan adalah isu yang mengikutinya. Dia tak mau makan makanan dari KPK karena takut penganan itu diracun. Begitulah yang saya baca dari pemberitaan. Saya akui, sebagai politikus, dia cempiang untuk urusan membuat isu dan membentuk opini publik. Dia pintar memanfaatkan kemanjaan personalnya untuk menghadirkan teror: seolah-olah ada calon-calon peracun yang ingin meracuninya.
Saya sebenarnya membayangkan Anas mengatakan begini sambil tertawa: ”Saya ini tak pernah jajan di luar. Agak manja juga saya ini. Kalau tidak dari rumah sendiri, kok ogah. Kalau tak percaya, tanya istri saya deh. Tapi bila Anda menjumpai saya tengah jajan di luar, itu pasti karena terpaksa saya melakukan itu….”
Hahaha, omongan politikus, ya? Tapi saya yakin, bila nanti terbukti dia korupsi, itu pasti bukan karena kemanjaan atau keterpaksaan. (*)

Kolom Smilokui, Suara Merdeka, 2 Februari 2014


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Pemungut Kata dari Udara

Tuit-Tuit

  • #Cerita196:CINTA-32. Manon pulang, Eva lelap. Angin santer lewat jendela. Manon merapatkan selimut dan cium keningnya, dan menutup jendela.i 1 year ago
  • #Cerita195:GENDUT. "Rekening Arya tambah gendut. Kau juga, perutmu! Meski begitu, buatku kau tetap six-pack," ujar Eva. Manon hanya ngakak. 1 year ago
  • #Cerita194:PIKIRAN. Di dalam pikiran Manon, Eva itu Putri jelita. Bahkan wajah kusut Eva seusai bangun tidur tampak begitu menawan. 1 year ago
  • #Cerita193:GERIMIS. Manon senang senang duduk di balkon saat gerimis belum menjadi hujan. Eva tak pernah alpa menyeduhkan teh untuknya. 1 year ago
  • #Cerita192:PANIK. Ada berita pesawat jatuh. Eva panik dan menelepon Manon. "Kamu tidak di pesawat, kan?" "Aku di kamar, sayang." 1 year ago

Pilih-Pilih

%d bloggers like this: