Home » Kolom SMILOKUI » KEB(ER)UNTUNGAN

KEB(ER)UNTUNGAN

HARIAN Suara Merdeka berulang tanggal kelahiran yang ke-64 pada 11 Februari lalu. Sudah menjadi tradisi, milad itu disyukuri dengan pelbagai kegiatan. Salah satunya pesta hiburan yang selalu dilengkapi dengan pemberian door prize (Pusat Bahasa mengidonesiakannya menjadi ”hadiah lawang”, atau bila istilah itu berkesan aneh, bolehlah kita terjemahkan sebagai ”hadiah cuma-cuma”).
Tidak perlu saya sebutkan jenis barang yang dihadiahkan secara cuma-cuma untuk semua karyawan Suara Merdeka Group dan pihak-pihak yang bekerja sama dengannya, yang jelas, beragam dan berjumlah banyak. Hanya saja, lantaran yang memasukkan nomor undian hadiah lawang itu jauh lebih banyak, tentu yang ”beruntung” mendapatkannya hanya sebagian orang saja. Semestinya kata ”untung” itu berantonim atau berlawan kata dengan kata ”buntung” atau ”sial” atau ”nahas”. Dalam ihwal hadiah lawang, ketiga antonim itu agaknya tidak pas diterapkan. Karena itu, pada kata beruntung saya beri tanda kutip. Umumnya orang yang tidak mendapat hadiah lawang hanya berujar, ”Ah, belum beruntung.” Saya sendiri tak pernah mendengar yang bilang, ”Dasar nahas, jadi tidak dapat door prize.”
Ya, siapa pun yang memasukkan kartu undian hadiah lawang berkesempatan mendapatkan salah satunya. Kesempatan masing-masing orang juga sama. Tapi kenapa hanya beberapa yang dapat? Apakah itu lantaran yang mendapat memiliki keberuntungan lebih dari yang tidak mendapat? Kenapa pula ada orang yang setiap mengikuti acara door prize ”selalu” disebutkan nomor atau namanya, tapi sebaliknya si Fulham, eh maaf Si Fulan, ”selalu” termangu-mangu menunggu dan pulang dengan menggeremeng, ”Oh nasib, nasib….”
Sesudah acara penarikan hadiah lawang, kawan-kawan saya sering begitu gayeng membicarakan orang-orang tertentu yang ”selalu dapat” dan ”selalu tidak dapat”. Muncullah komentar untuk orang yang sudah tersohor ”selalu dapat”: ”Dia ahli zikir, sih….” Dan pada yang mengaku ”selalu tidak dapat”, komentarnya begini: ”Kau kurang doa….”

***

BUAT saya, komentar yang menghubungkan hadiah cuma-cuma dengan doa itu sungguh menarik. Mungkin saja, komentar-komentar seperti itu hanya asal ucap. Tapi komentar itu menegaskan bahwa teman-teman saya itu begitu meyakini kekuatan doa. Tapi apakah keberuntungan seseorang ada kaitannya dengan kekuatan doa atau zikir atau wirid? Silakan Anda renungkan sendiri.
Tapi saya sangat meyakini bahwa setiap orang memiliki keberuntungan dan kebuntungan (ketidakberuntungan) sendiri-sendiri. Hanya saja bentuk dan wujudnya, kita tak pernah tahu.
Hmm, selalu mengasyikkan berbicara ihwal keberuntungan dan kebuntungan. Selain teman yang ”langganan <I>door prize<P>”, ada teman saya yang mengatakan dirinya selalu mendapatkan keberuntungan. Berasal dari keluarga biasa dengan tingkat perekonomian sedang-sedang saja, dia merasa beruntung bisa menyunting putri tunggal seseorang yang terkenal dan kaya raya.
Ketika berkarier sebagai pengacara, dia bukan pengacara ternama, bahkan di kota tempat praktiknya. Tapi, suatu hari dia dipercaya untuk menangani kasus besar di Jakarta. Saat itu dia bilang, ”Saya beruntung sekali. Kalau toh ada ganjalan, keberuntungan saya ini menjadi ketidakberuntungan orang atau pihak lain.”
Ketika itu saya agak heran karena sebagai pengacara, sudah sewajarnya membela klien untuk memenangkan perkara sang klien. Dia lantas menyebutkan istilah blessing in disguise. Kalau diterjemahbebaskan, istilah itu berarti mendapat berkat (keberuntungan) dari penderitaan orang lain. ”Saya jalani karena saya profesional,” ujarnya.
Selanjutnya, dia bisa mendapatkan restoran waralaba dengan hanya puluhan juta rupiah sementara harga pasaran resminya mencapai ratusan juta rupiah. Dan masih banyak lagi yang lainnya. Saat itu saya berpikir, hidupnya penuh keberuntungan, dan tak setiap orang bisa mengalaminya.
Beberapa waktu setelah itu, saya terkesiap ketika mendengar dirinya menjadi korban pembunuhan di suatu tempat (maaf sengaja tidak saya sebutkan untuk menjaga privasi keluarganya). Saya terkesiap lantaran berpikir bahwa orang yang selalu merasa mendapat keburuntungan itu berakhir seperti itu. Tak sampai hati saya beranggapan bahwa sekali-sekalinya mendapat ketidakberuntungan kok tebusannya nyawa.
Ya, kita tak pernah tahu keberuntungan dan kebuntungan kita. Kita hanya bisa berupaya menuju keberuntungan dan menghindari kebuntungan. Man proposes, God disposes (Manusia berkehendak, Tuhan menentukan). (*)

Kolom Smilokui, Suara Merdeka, 16 Februari 2014


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Pemungut Kata dari Udara

Tuit-Tuit

  • #Cerita196:CINTA-32. Manon pulang, Eva lelap. Angin santer lewat jendela. Manon merapatkan selimut dan cium keningnya, dan menutup jendela.i 1 year ago
  • #Cerita195:GENDUT. "Rekening Arya tambah gendut. Kau juga, perutmu! Meski begitu, buatku kau tetap six-pack," ujar Eva. Manon hanya ngakak. 1 year ago
  • #Cerita194:PIKIRAN. Di dalam pikiran Manon, Eva itu Putri jelita. Bahkan wajah kusut Eva seusai bangun tidur tampak begitu menawan. 1 year ago
  • #Cerita193:GERIMIS. Manon senang senang duduk di balkon saat gerimis belum menjadi hujan. Eva tak pernah alpa menyeduhkan teh untuknya. 1 year ago
  • #Cerita192:PANIK. Ada berita pesawat jatuh. Eva panik dan menelepon Manon. "Kamu tidak di pesawat, kan?" "Aku di kamar, sayang." 1 year ago

Pilih-Pilih

%d bloggers like this: