Home » Kolom SMILOKUI » HARI KHUSUS

HARI KHUSUS

HARI ini, 22 Desember, kita merayakan Hari Ibu. Itu momentum istimewa untuk mengagungkan peran perempuan di dalam keluarganya baik sebagai ibu untuk anak-anak, istri bagi suami, maupun peran domestik dan sosial lainnya. Tak ada yang menyangkal peran seperti itu karena memang pengagungan terhadap seorang perempuan dalam peran ibu bersifat universal.
Penghormatannya dengan menjadikan satu hari dalam setahun sebagai ”hari para ibu” tak hanya dilakukan orang Indonesia. Banyak negara lain di dunia memperingati Hari Ibu (apa pun sebutannya). Yang berbeda hanyalah tanggalnya, dan itu lantaran pijakan referensinya yang berbeda. Di Indonesia, 22 Desember 1928, Kongres Perempuan I dibuka di Yogyakarta. Tanggal itulah yang lalu ditetapkan sebagai Hari Ibu. Di Eropa dan Timur Tengah yang terpengaruh budaya helenistik (Yunani kuno), memperingati Hari Ibu pada bulan Maret. Referensinya adalah kisah pemujaan terhadap Rhea, sosok istri Kronos dalam mitologi Yunani, yang biasa dilakukan orang-orang masa lalu pada sekitar bulan tersebut. Di Thailand, 12 Agustus jadi Hari Ibu sebab mereka sangat mengagungkan Ratu Sirikit yang lahir pada tanggal tersebut.
Intinya, pengagungan terhadap sosok ibu bersifat universal, tanpa batas negara, budaya, juga agama. Orang Islam, tanpa penetapan Hari Ibu pun, sedari belia diwajibkan untuk menghormati ibu mereka. Al jannatu takhta aqdamil ummahat, ya surga berada di bawah telapak kaki ibu. Orang Katolik begitu mengagungkan Maryam atau Maria sebagai Bunda. Nama ibunda Isa atau Yesus itu muncul atau didengungkan pada banyak doa mereka.
Kurang afdal tampaknya bila mengagungkan ibu tanpa pula mengagungkan bapak atau ayah atau papa atau apa pun sebutannya. Ada Hari Ayah yang konon di Indonesia dirayakan pada 12 November tapi tak begitu populer. Beberapa negara memiliki perayaan Hari Ayah pada pekan ketiga bulan Juni. Itulah hari saat para ayah diagungkan. Sama seperti Hari Ibu, bentuk perayaannya juga tak seheboh misalnya perayaan tanggal kelahiran atau tanggal pernikahan. Cukup mengucapkan selamat dan sesekali pemberian kado. Itu saja sudah membuat para ibu dan para ayah bergembira.

***

BERKAITAN dengan perayaan itu, bagaimana orang yang tak pernah menjadi ibu atau ayah? Apakah dalam setahun, tak sehari pun dia diagungkan? Tentu saja punya, paling tidak tanggal kelahirannya. Tak hanya itu, selama 365 hari atau 366 (pada tahun kabisat), seseorang diberi kesempatan menciptakan banyak momentum khusus secara individual. Dan bila dihitung dengan keberadaannya sebagai sosok warga negara, bagian agama tertentu, bagian budaya tertentu, dia akan punya hari spesial dalam setahun. Beberapa contoh saja, sebagai orang Indonesia, dia punya 17 Agustus, 10 November, dan banyak lagi lainnya. Kalau muslim, dia punya Idul Fitri, Idul Adha, dan banyak lagi lainnya. Kalau dia pemeluk kristiani, dia punya Natal, Paskah, dan lain-lain. Yang Hindu, punya Nyepi, Galungan, dan lain-lain. Yang Buddha punya Waisyak.
Walhasil, kalau dihitung semuanya, almanak dalam setahun bakal penuh catatan perayaan. Kenapa penciptaan momentum dan pengingatan terhadap momentum itu begitu penting sampai harus dirayakan, bahkan misalnya dengan berbiaya besar? Pasalnya, kita tidak ingin life is flat, tidak ingin datar-datar saja menjalani kehidupan. Kita ingin kehidupan yang selalu berwarna, kalau bisa, berbeda setiap hari, atau kalau bisa lagi setiap jamnya.
Nah, inilah repotnya. Tak setiap orang bisa menciptakan momentum yang bersifat personal. Mungkin karena kita terjebak oleh rutinitas: pekerjaan yang dari hari ke hari serupa, orang-orang serupa yang ditemui setiap saatnya, persoalan itu-itu saja. Hidup seolah-olah hanya sewarna. Ujung-ujungnya, kita gampang stres.
Sayang sekali, saya tidak piawai menciptakan tips tertentu untuk menciptakan momentum khusus secara personal, lebih-lebih untuk menghindari stres. Tapi bila memulai hari Senin, saya berusaha yakin, bahwa hari itu berbeda dengan hari Minggu dan hari Senin pekan sebelumnya. Saya mungkin akan bertemu orang-orang yang sama, tapi saya tetap yakin orang-orang itu pasti memiliki sesuatu yang berbeda dari hari kemarin.
Berhasilkah sejauh ini? Ya lumayanlah, setidak-tidaknya saya tidak terganggu oleh pikiran bahwa saya sudah terjebak rutinitas. (*)

Kolom Smilokui, Suara Merdeka, 22 Desember 2013


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Pemungut Kata dari Udara

Tuit-Tuit

  • #Cerita196:CINTA-32. Manon pulang, Eva lelap. Angin santer lewat jendela. Manon merapatkan selimut dan cium keningnya, dan menutup jendela.i 1 year ago
  • #Cerita195:GENDUT. "Rekening Arya tambah gendut. Kau juga, perutmu! Meski begitu, buatku kau tetap six-pack," ujar Eva. Manon hanya ngakak. 1 year ago
  • #Cerita194:PIKIRAN. Di dalam pikiran Manon, Eva itu Putri jelita. Bahkan wajah kusut Eva seusai bangun tidur tampak begitu menawan. 1 year ago
  • #Cerita193:GERIMIS. Manon senang senang duduk di balkon saat gerimis belum menjadi hujan. Eva tak pernah alpa menyeduhkan teh untuknya. 1 year ago
  • #Cerita192:PANIK. Ada berita pesawat jatuh. Eva panik dan menelepon Manon. "Kamu tidak di pesawat, kan?" "Aku di kamar, sayang." 1 year ago

Pilih-Pilih

%d bloggers like this: