Home » Kolom SMILOKUI » HANYA IMPIAN

HANYA IMPIAN

KITA semua punya impian. Ada yang hanya menyimpannya dalam hati. Ada yang menceritakannya ke semua orang, atau hanya ke orang-orang tertentu. Ada yang merasa impian itu lebih afdal bila dituliskan, entah itu lewat catatan di blog, atau lewat puisi dan prosa.
Pada pengujung tahun seperti hari-hari ini, sebagian dari kita sedang membaca lagi tulisan kita mengenai impian (atau keinginan) selama setahun dan bersiap-siap menuliskan yang baru untuk setahun ke depan. Kita menggalibkannya dengan istilah resolusi.
Ya, kita semua memiliki impian. Tapi apakah kita mewujudkan impian itu menjadi kenyataan? Tidak selalu. Mungkin lantaran sulit proses perwujudannya. Mungkin kita memang tidak mengukuhkan renjana (passion) untuk membuat the dreams come true, atau mungkin kita justru takut mewujudkannya.
Agak aneh memang bila seseorang mengimpikan sesuatu tapi takut mewujudkannya sebagai kenyataan. Dia hanya menyimpan impian itu agar merasa dirinya selalu punya harapan. Bila impian sudah jadi kenyataan, dia takut tak lagi memiliki harapan.
Kisah mengenai pedagang kristal di ujung jalan berbukit di Tangier, Maroko bisa dijadikan contoh mengenai seseorang yang hanya menyimpan impian agar dirinya tetap memiliki harapan. Ya, begitu memulai usaha, dia mengimpikan suatu hari bisa naik haji. Dia akan mengumpulkan uang untuk perjalanan mengikuti karavan melintasi gurun pasir menuju Makkah. Tentu saja dia juga punya impian lain: kaya raya dan memiliki beberapa istri yang cantik. Tapi impian ke Makkah itulah yang paling utama.
Ada saat-saat toko kristalnya ramai dikunjungi orang: para pedagang Arab yang telah melintasi padang pasir, para ahli geologi dari Prancis dan Inggris, juga para serdadu Jerman. Pada saat-saat itu, dia merasa impian-impiannya bakal segera terwujud. Dia punya uang untuk ke Makkah, juga untuk menikah.
Tiga dasawarsa berlalu. Ia masih pedagang kristal yang ”sama” dengan saat memulai usaha: jomblo dan tetap belum juga ke Makkah. Bahkan, selama beberapa tahun berselang, tokonya sudah jarang didatangi pembeli.
Sang pedagang kristal bertahan tanpa melupakan sedikit pun pada impian-impiannya, terutama impian berhaji ke Makkah. Tentu saja, sering pula dia dihinggapi keinginan untuk menyerah, tapi dia tidak tahu akan melakukan apa selain telah ”terbiasa” berjualan barang-barang kristal. Lalu datanglah seorang pemuda ke tokonya.

***

PEMUDA itu berasal dari Spanyol yang sudah merasa menikmati hidup sebagai penggembala kambing. Tapi selama beberapa malam dia bermimpi menemukan harta karun di sebuah piramida. Dia memburu impian itu dengan menyeberangi selat menuju Afrika untuk selanjutnya ke Mesir. Sudah dia jual semua kambingnya untuk bekal perjalanan, tapi begitu sampai di sebuah pasar di Tangier, seseorang telah menipunya dan membawa kabur semua uangnya.
Karena bokek, si pemuda menawarkan dirinya bekerja untuk pedagang kristal. Itu tawaran aneh buat si pedagang. Dia tidak membutuhkan pekerja. Tak banyak pekerjaan di toko itu lantaran tak ada pembeli. Bila pun ramai, si pedagang merasa bisa melakukan semuanya seorang diri.
Tapi kedatangan si pemuda dianggap si pedagang sebagai berkah. Itu karena bersama kedatangannya, datang beberapa pembeli. Singkat cerita, si pemuda bekerja di situ, dan toko kristal yang sekian tahun sepi itu kembali ramai. Si pedagang mulai bisa mengumpulkan uang lagi. Pada suatu hari, kepada si pemuda, dia mengungkapkan impiannya untuk ke Makkah.
”Kok, Bapak tidak pergi ke Makkah sekarang?” tanya pemuda itu.
”Justru pikiran tentang Makkah-lah yang membuatku terus hidup. Itulah yang membuatku kuat menghadapi hari-hari yang sama belaka; yang membuatku tahan menghadapi kristal-kristal bisu di rak, dan sanggup makan siang dan makan malam di warung jelek yang itu-itu juga. Aku takut bila impianku terwujud, aku tak punya alasan lagi untuk melanjutkan hidup. Kamu bermimpi tentang domba-domba dan piramida, tapi kamu beda denganku, karena kamu ingin mewujudkan impianmu. Aku hanya mengimpikan Makkah. Sudah ribuan kali kubayangkan diriku melewati gurun pasir, tiba di Kakbah, mengitarinya tujuh kali sebelum aku menyentuhnya. Kubayangkan orang-orang yang akan berada di sampingku, dan yang di depanku, dan percakapan dan doa-doa yang kami panjatkan bersama. Tapi aku takut semua itu akhirnya akan membuatku kecewa, jadi aku lebih suka mengimpikannya saja.”
Kita, setidak-tidaknya saya, sering seperti pedagang kristal dalam cerita Sang Alkemis karya Paulo Coelho itu. Saya takut memenuhi impian karena takut gagal dan kehilangan sesuatu yang diimpi-impikan. Alih-alih mewujudkan impian, saya sering menciptakan impian baru. Itu sebabnya saya selalu mengagumi orang-orang yang mengikuti mimpi-mimpinya. Saya ingin mengikuti jalan mereka. (*)

Kolom Smilokui, Suara Merdeka, 29 Desember 2013


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Pemungut Kata dari Udara

Tuit-Tuit

  • #Cerita196:CINTA-32. Manon pulang, Eva lelap. Angin santer lewat jendela. Manon merapatkan selimut dan cium keningnya, dan menutup jendela.i 1 year ago
  • #Cerita195:GENDUT. "Rekening Arya tambah gendut. Kau juga, perutmu! Meski begitu, buatku kau tetap six-pack," ujar Eva. Manon hanya ngakak. 1 year ago
  • #Cerita194:PIKIRAN. Di dalam pikiran Manon, Eva itu Putri jelita. Bahkan wajah kusut Eva seusai bangun tidur tampak begitu menawan. 1 year ago
  • #Cerita193:GERIMIS. Manon senang senang duduk di balkon saat gerimis belum menjadi hujan. Eva tak pernah alpa menyeduhkan teh untuknya. 1 year ago
  • #Cerita192:PANIK. Ada berita pesawat jatuh. Eva panik dan menelepon Manon. "Kamu tidak di pesawat, kan?" "Aku di kamar, sayang." 1 year ago

Pilih-Pilih

%d bloggers like this: