Home » Kolom SMILOKUI » HANTU

HANTU

ANDA punya kemampuan melihat hantu di sebuah rumah, gedung, atau tempat-tempat tertentu? Saya, tidak. Kalau Anda juga tidak punya kemampuan itu, pernahkah Anda melihat hantu secara kebetulan? Saya, tidak pernah.

Bahkan, ketika banyak orang mengaku pernah melihat hantu di beberapa tempat yang yang menjadi wahana aktivitas saya, baik saat sepi maupun ramai, hantu yang diceritakan itu tak pernah menongolkan batang hidungnya. Ups, kok saya menyebut batang hidung sih? Ya kalau hantu itu punya hidung, kalau tidak? Ah, mana saya tahu, kan tidak pernah melihat satu kali jua.

Mungkin karena tak pernah melihat hantu, saya agak tidak percaya ketika banyak orang mengaku melihat hantu di suatu tempat. Seorang kawan bercerita mengenai hotel berhantu dan di situ setiap orang yang menginap ”merasa” diganggu hantu. Itu cerita biasa seandainya sang kawan tidak menegaskan bahwa semua penginap memberikan pengakuan sama. Yang aneh buat saya, kamar-kamar di hotel itu hampir selalu berpenginap. Ketika saya bilang itu kemungkinan trik pengelola hotel, si kawan malah menyergah begini: ”Kau belum pernah menginap di sana sih?”
Hotel itu ada di Manado, Sulut, daerah yang baru saja mengalami bencana banjir. Tapi saya tidak akan menyebut namanya. Selain masih ragu-ragu terhadap kebenaran cerita hantunya, rugi dong ikut mempromosikan hotel itu tanpa pernah bilang ”wani pira?” kepada pengelolanya, hehehe….
”Meski berhantu, dan hantu itu selalu mengganggu penginap, kamarnya selalu penuh? Apakah mereka tidak ketakutan?” tanya saya.
”Takut sih takut, tapi penasaran. Yang dicari sensasinya…”
Aha, itu dia, sensasi! Aneh juga kadang kita yang manusia ini: pada satu sisi, kita tidak ingin diliputi perasaan takut, tapi di sisi lain kita kerap mendekati dan mencari-cari sensasi ketakutan. Orang takut diputar-putar dalam ketinggian tertentu, tapi dia mengeluarkan duit untuk naik komidi putar. Orang takut hantu, tapi begitu ada hotel, juga rumah sakit hantu seperti di salah satu wahana wisata, mereka ramai-ramai mengunjunginya. Orang takut dicekam perasaan horor, tapi keluar kocek untuk menonton film horor.

***

BEBERAPA orang pernah bertanya apakah saya takut pada hantu. Saya tidak bisa memberikan jawaban yang pasti karena, sekali lagi, saya belum pernah melihatnya. Tapi bukankah perasaan takut itu muncul untuk sesuatu yang belum pernah kita alami? Oh, itu betul. Kita takut pada kematian, kiamat, ancaman terorisme, ancaman para kriminal, dan banyak lagi lainnya.
Ya, rasa takut yang ada dalam diri kita itulah sejatinya hantu-hantu kita. Ketakutan terhadap sesuatu itulah yang sebenarnya menghantui kita. Tapi itu bukti kita masih manusia. Apakah jin (atau yang sering diberi beragam nama seperti hantu, pocong, sundel bolong, vampir, hantu labu, ah banyak lagi lainnya kalau ada yang mau bikin senarai perhantuan yang ada di muka bumi ini) juga punya rasa takut? Saya tidak tahu. Atau, jangan-jangan para makhluk halus itu juga takut pada manusia. Jangan-jangan mereka juga lari lintang-pukang atau sekadar menutup muka ketika melihat sosok kita yang manusia.
Bagaimana bila ternyata kita ini makhluk paling menyeramkan menurut persepsi kalangan jin? Pertanyaan itulah yang saya lempar balik ke orang yang menanyakan apakah saya takut pada hantu. Dengan berseloroh saya bilang, ”Saya tak pernah melihat jin atau hantu karena mereka sudah lari sipat kuping ketika melihat saya. Atau, mereka mungkin tahu bahwa saya selalu tertawa terbahak-bahak ketika melihat hantu di televisi atau film. Mereka takut saya tertawakan atau merasa rugi membuat saya tertawa tapi gratisan. Apalagi, saya kurang yakin, mereka tipe humoris atau pelawak.”
Nah, meski tidak pernah melihat, saya tetap percaya makhluk halus dengan beragam sebutannya itu ada. Seperti apa bentuk atau sosoknya, saya tidak tahu. Saya tidak pernah melihat udara atau angin, tapi saya percaya keberadaannya dan sangat membutuhkannya. Karena itu saya berterima kasih kepada orang-orang kreatif yang menciptakan model-model makhluk halus menurut imajinasi mereka. Kita jadi kaya imajinasi. Hanya saja, saking kayanya imajinasi, ketika misalnya kita melihat ”sesuatu” berwarna putih yang berkelebat dalam kekelaman malam, keesokan harinya dengan sangat berapi-api kita bercerita telah melihat pocong, hehehe….
Jadi, bila kita masih merasa takut ketika melihat sesuatu yang kita namai hantu, sesuatu yang menghantui kita, apa pun ujudnya, bersyukurlah bahwa kita masih diingatkan sebagai manusia. Bila harus berteriak atau menangis, lakukan saja, toh tidak ada hukum atau undang-undang yang melarangnya. Tapi jangan lama-lama soalnya nanti kita lupa bahwa kita juga bisa tertawa….(*)

Kolom Smilokui, Suara Merdeka, 19 Januari2014


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Pemungut Kata dari Udara

Tuit-Tuit

  • #Cerita196:CINTA-32. Manon pulang, Eva lelap. Angin santer lewat jendela. Manon merapatkan selimut dan cium keningnya, dan menutup jendela.i 1 year ago
  • #Cerita195:GENDUT. "Rekening Arya tambah gendut. Kau juga, perutmu! Meski begitu, buatku kau tetap six-pack," ujar Eva. Manon hanya ngakak. 1 year ago
  • #Cerita194:PIKIRAN. Di dalam pikiran Manon, Eva itu Putri jelita. Bahkan wajah kusut Eva seusai bangun tidur tampak begitu menawan. 1 year ago
  • #Cerita193:GERIMIS. Manon senang senang duduk di balkon saat gerimis belum menjadi hujan. Eva tak pernah alpa menyeduhkan teh untuknya. 1 year ago
  • #Cerita192:PANIK. Ada berita pesawat jatuh. Eva panik dan menelepon Manon. "Kamu tidak di pesawat, kan?" "Aku di kamar, sayang." 1 year ago

Pilih-Pilih

%d bloggers like this: