Home » Kolom SMILOKUI » DUKUN

DUKUN

SEORANG dukun punya sebutan keren: wong pinter (orang pintar). Dan saya yakin, tak ada sekolah atau lembaga pendidikan yang menjadi jalan seseorang untuk jadi orang pintar yang dukun. Yang lewat jalur pendidikan adalah anak atau bocah pintar. Anda ingat bukan, untuk anak yang bersekolah, para orang tua atau kerabat hanya berpesan, ”Sekolahlah yang benar biar jadi anak pintar.”
Anak pintar tentu saja berbeda dengan orang pintar. Sepintar-pintarnya seorang anak, dia masih tetap disebut bocah yang kalah mangan gempalane jagat ketimbang para orang tua. Kalau ada bocah yang jadi dukun, sebutannya pun dukun cilik, bukan orang pintar cilik.
Lantaran tak ada sekolah, juga ijazah sebagai sertifikat pengesahnya (gagasan sertifikat untuk para dukun, paranormal, atau apa pun sebutannya, pernah menjadi wacana publik), setiap orang bisa menjadi dukun, atau hanya mendaku bahwa dirinya itu dukun. Dia boleh bercerita prosesnya menjadi dukun. Misalnya, itu hasil bersemadi 40 hari 40 malam di puncak gunung, hasil kungkum 7 hari 7 malam di beberapa sendang atau telaga, hasil dari ilmu tiban, dan sebagainya.
Orang boleh percaya atau tidak terhadap pengakuannya. Orang yang bangga terhadap kemodernannya, baik dalam pola pikir maupun tindak-tanduknya, boleh saja bilang, ”Hari gini kok percaya sama dukun? Ndak rasional blas!” Tapi kenyataannya, tidak sedikit yang percaya terhadap mulut si dukun yang mungkin saja ponsel atau gawainya lebih canggih dan supermodern ketimbang si pasien atau klien. Disebut klien, karena aksi dukun tak selalu berhubungan dengan pengobatan, tapi bisa juga semata mirip konsultan dalam konsepsi modern.
Jadi, tak hanya pintar mengobati orang sakit, dukun harus pula piawai dalam banyak kemampuan lain seperti meramal, menghitung hari, mengusir jin atau roh jahat, dan banyak lagi lainnya. Jadi, urusan apa pun serahkan pada seorang dukun, maka bereslah.
Belum lagi hal-hal yang dianggap tidak logis dan dan tidak rasional dalam pikiran orang modern. Misalnya, terhadap seseorang yang datang untuk meminta kelancaran usaha, si dukun hanya memberikan kertas berisi rajah yang terkomposisi dari huruf-huruf aneh. Kertas rajah itu cukup ditaruh di tempat usaha, maka lancarlah rezeki mengalir seperti air di Grojogan Sewu. Peneliti seilmiah apa pun pasti kesulitan mencari korelasi antara kertas rajah dan kelancaran usaha.

***

YA, cara-cara dukun sering tak bisa dinalar dengan akal sehat tapi digandrungi orang-orang yang mengaku berasal dari zaman modern yang mendewakan akal sehat, logika, dan rasionalitas. Ia juga profesi yang seolah-olah tak lekang oleh waktu, bahkan ketika perannya sudah bisa digantikan oleh mereka yang bersandarkan pada keilmuan modern. Untuk mengobati sakit misalnya, sudah ada dokter yang ilmu dan peranti pengobatannya boleh dibilang modern bahkan supermodern.
Jdi, kenapa orang-orang yang mendewakan rasionalitas mendatangi orang yang cara-caranya sering bersandar pada irasionalitas? Saya tak bisa menjawab. Jon Lebay yang sering sok pintar saja juga tak bisa memberi jawaban. Dia hanya mengungkapkan kemungkinan, ”Jangan-jangan kita ini memang sering takjub kepada banyak hal. Takjub terhadap orang yang bisa membengkokkan sendok. Takjub terhadap orang yang bisa menunjukkan bahwa di perut seseorang ada bersarang rambut, jarum, dan silet. Dan yang paling banyak itu, kita sering takjub terhadap orang yang kata-katanya manis melipur lara dan memberikan janji-janji akan pengharapan. Orang yang datang ke dukun, orang pintar, guru spiritual, atau apa pun sebutannya, itu orang yang sangat berharap. Terhadap orang yang sangat berharap, cukuplah janji-janji manis diberikan. Mereka akan terlipur dan bakal sangat percaya pada si pemberi janji. Dukun tak ubahnya para caleg atau calon pemimpin yang gemar berjanji karena tahu orang yang diberi janji lagi sangat berharap. Hasilnya? Ya jangan tanya aku dong, Bro, kan aku bukan caleg.”
Ah, dasar Jon Lebay, ngomongin dukun kok malah ke caleg-caleg sih? Tapi kalau saya simak, kok saya seperti tak boleh mengabaikan omongan si Jon, ya?
Karena itu, saya mempraktikkan ”ajaran” Jon Lebay untuk tidak mudah takjub ketika suatu hari ada seseorang yang melakukan aksi pamer di tanah terbuka yang penuh rumput untuk mendatangkan batu-batu mulia dari entah berantah. Beberapa orang yang ada di situ, setahu saya, kebanyakan adalah teman-teman orang yang mau pamer. Dia bilang, ”Siapa pun bisa memilikinya dengan mahar berupa penggantian uang. Seikhlasnya.”
Dia pun beraksi. Benarlah, dari balik rerumputan, beberapa batu seperti muncul begitu saja. Saya tetap ingat-ingat fatwa Jon: tidak takjub. Saya malah tertarik sebuah batu mulia warna biru yang saya bayangkan itu safir. Safir konon termasuk batu mulia yang mahal. Saya ambil itu dan saya keluarkan uang Rp 10 ribu. Si orang pintar berkerenyit dahinya, lalu dengan dalih tertentu, dia bilang, ”Ah, batu ini belum sempurna keluarnya. Saya harus menyempurnakannya dulu.” Batu itu pindah ke sakunya. Dan saya hanya bisa bilang, ”Lah, katanya seikhlasnya?”
Haha, saya tahu, itu batu-batu koleksinya. Dan saya bakal untung besar bila memiliki safir seharga Rp 10 ribu. (*)

Kolom Smilokui, Suara Merdeka, 16 Maret 2014


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Pemungut Kata dari Udara

Tuit-Tuit

  • #Cerita196:CINTA-32. Manon pulang, Eva lelap. Angin santer lewat jendela. Manon merapatkan selimut dan cium keningnya, dan menutup jendela.i 1 year ago
  • #Cerita195:GENDUT. "Rekening Arya tambah gendut. Kau juga, perutmu! Meski begitu, buatku kau tetap six-pack," ujar Eva. Manon hanya ngakak. 1 year ago
  • #Cerita194:PIKIRAN. Di dalam pikiran Manon, Eva itu Putri jelita. Bahkan wajah kusut Eva seusai bangun tidur tampak begitu menawan. 1 year ago
  • #Cerita193:GERIMIS. Manon senang senang duduk di balkon saat gerimis belum menjadi hujan. Eva tak pernah alpa menyeduhkan teh untuknya. 1 year ago
  • #Cerita192:PANIK. Ada berita pesawat jatuh. Eva panik dan menelepon Manon. "Kamu tidak di pesawat, kan?" "Aku di kamar, sayang." 1 year ago

Pilih-Pilih

%d bloggers like this: