Home » Kolom SMILOKUI » DILARANG MELARANG

DILARANG MELARANG

KITA sering membaca tulisan di ujung gang atau jalan suatu perumahan: Pemulung Dilarang Masuk! Di toko-toko terpampang kertas bertulisan: Ngamen Gratis, atau Ngamen Hari Jumat.
Itu tulisan berisi seruan atau larangan yang biasa karena kita sudah terbiasa dengan ihwal tersebut. Umumnya, kita sudah maklum dan memahami alasan maklumat itu. Larangan bagi pemulung memasuki suatu gang atau perkampungan biasanya lahir dari kegemasan para penghuni yang sering kehilangan barang. Pekerjaan pemulung memang memulung barang, dan menurut KBBI, salah satu arti kata ”pulung” adalah mengumpulkan barang-barang bekas yang bisa didaur ulang. Tapi adakalanya para pemulung itu berimprovisasi dengan memulungi barang bekas yang masih disimpan pemilik, atau bahkan yang belum bekas.
Nah, penghuni yang mengkal hati dan sering luput menangkap tangan si ”pemulung improvisatif” itu lalu bersepakat bikin maklumat. Efektif? Mungkin. Tapi bagaimana cara mendeteksi seseorang yang masuk ke gang atau perumahan itu pemulung atau bukan? Saya tak yakin ada orang yang mencantumkan ”pemulung” pada kolom pekerjaan di KTP.
”Gampang, Bro, seseorang yang berpakaian kusam, membawa karung atau gerobak, itu pasti orangnya.”
Hmm, kalau begitu, mudah betul mengidentifikasi seseorang hanya dari tampilan luar saja. Tukul Arwana yang gemar ngomong ”Don’t judge a book by its cover”, bisa protes, dong. Tapi yang jelas, para penghuni perumahan sudah puas karena sudah mengekspresikan kemengkalan mereka, dan lewat kata-kata (bahasa), mereka sudah menunjukkan kekuasaan. Mereka sudah menciptakan hukum berupa larangan untuk seseorang atau sekumpulan orang dengan profesi tertentu. Saya membayangkan di gang atau perumahan itu tak tinggal seorang pun yang berprofesi memulungi barang bekas. Kalau ada, dia mesti pindah tempat, kan?
Lantas, apakah ngamen itu suatu profesi, atau sebut saja pekerjaan? Saya juga yakin tak ada orang yang mencantumkan ”mengamen” dalam KTP. Tapi karena kita sudah membiasa dengan para pengamen di hampir semua tempat umum (bahkan bisa ke tempat pribadi seperti rumah kita), kita sudah memaklumi ”aksi” itu sebagai pekerjaan. Kalau toh ada penolakan, itu cuma gerundelan, ”Cari gampangnya saja, kerja kok ngamen.”
Tulisan ”Ngamen Gratis” atau ”Ngamen Hari Jumat” itu juga termasuk pengakuan atas pekerjaan para pengamen sekaligus maklumat kekuasaan pengelola toko atas seseorang. Sama seperti ”Pemulung Dilarang Masuk”, ”Ngamen Gratis” itu hanya eufimisme atau penghalusan dari ”Dilarang Ngamen di Sini”. Lalu, ”Ngamen Hari Jumat” juga representasi kekuasaan berupa ”semacam anjuran atau perintah” bahwa para pengamen boleh beraksi di toko itu pada hari Jumat. Selain hari itu, ya dilarang dong!

***

KENAPA¬†saya menuliskan hal remeh-temeh yang sudah membiasa bagi kita? Ya, karena sudah membiasa itulah saya perlu menyentil Anda, duhai Pembaca, bahwa ternyata hidup kita ini tak bisa dilepaskan dari hukum. Hukum memang mengatur masyarakat agar tatanan kehidupan berjalan harmonis dan tidak kacau-balau. Tak hanya negara, agama, perusahaan tempat kita bekerja, ternyata orang-orang dalam kumpulan, atau bahkan individu pun bisa menciptakan hukum sendiri. Baguskah bila setiap orang bisa menciptakan hukum sendiri? Para ahli hukum bakal berteriak, ”Gawat!”
Beberapa waktu lalu, dalam perjalanan, selintasan saya membaca spanduk besar terpentang kuat di ujung jalan sebuah perumahan, tepat di tepi jalan raya Semarang-Surabaya. Saya tidak membaca lengkap isinya sebab kendaraan yang saya tumpangi ”tak tahu” saya sedang membaca tulisan itu, hehehe…. Tapi cukuplah untuk saya bagi isinya kepada Anda.
Nah, serupa seperti maklumat larangan kepada pemulung, spanduk larangan itu menurut saya lebih dahsyat. Yang sempat saya baca adalah larangan masuk ke perumahan untuk para pekerja seks komersial (PSK) dan PK (sebutan untuk perempuan pemandu karaoke). Setahu saya, di kawasan sekitar perumahan itu memang banyak tempat karaoke. Sama seperti pemulung dan pengamen, adakah orang yang mencantumkan PSK atau PK di kolom pekerjaan dalam KTP? Kalau tak ada, berarti negara tidak menganggap aksi mereka sebagai pekerjaan. Tapi, itu juga sebentuk kekuasaan atas orang-orang tertentu, kekuasaan yang baru bisa diwujudkan dengan aksi ”melarang”.
Saya sering tidak nyaman ketika membaca maklumat-maklumat seperti itu. Itu sebabnya saya lebih suka membaca tulisan di bak truk. Sudah tulisannya menggelitik dan merangsang humor, gambarnya juga bisa aduhai. Tapi kesukaan saya yang ini juga belakangan agak terganggu lantaran bak truk sekarang lagi gandrung pada gambar seseorang yang tersenyum, menyapa tanpa kesan jumawa: Piye kabare? Isih enak jamanku toh?
Itu memang sapaan manis, bukan larangan, tapi saya kok lebih asoi baca yang kayak gini: ”Dua anak cukup, dua istri bangkrut.” Kalau menurut penyair, kalimat itu mengandung persajakan. Puitis, Sob…. (*)

Kolom Smilokui, Suara Merdeka, 15 Desember 2013


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Pemungut Kata dari Udara

Tuit-Tuit

  • #Cerita196:CINTA-32. Manon pulang, Eva lelap. Angin santer lewat jendela. Manon merapatkan selimut dan cium keningnya, dan menutup jendela.i 1 year ago
  • #Cerita195:GENDUT. "Rekening Arya tambah gendut. Kau juga, perutmu! Meski begitu, buatku kau tetap six-pack," ujar Eva. Manon hanya ngakak. 1 year ago
  • #Cerita194:PIKIRAN. Di dalam pikiran Manon, Eva itu Putri jelita. Bahkan wajah kusut Eva seusai bangun tidur tampak begitu menawan. 1 year ago
  • #Cerita193:GERIMIS. Manon senang senang duduk di balkon saat gerimis belum menjadi hujan. Eva tak pernah alpa menyeduhkan teh untuknya. 1 year ago
  • #Cerita192:PANIK. Ada berita pesawat jatuh. Eva panik dan menelepon Manon. "Kamu tidak di pesawat, kan?" "Aku di kamar, sayang." 1 year ago

Pilih-Pilih

%d bloggers like this: