Home » Kolom SMILOKUI » DI KOTA POSTER

DI KOTA POSTER

BAYANGKAN: seseorang pulang ke rumah setelah berkeliling di jalanan kotanya, lantas tidur dalam waktu lama.
Ini bukan kisah sesedih Christiane Kerner yang mengalami serangan jantung dan koma selama beberapa bulan. Perempuan dalam film Good Bye, Lenin! (disutradari Wolfgang Becker) tersebut pendukung supersetia Partai Sosialis yang berkuasa di Jerman Timur. Saking setianya, dia rela ditinggal sang suami yang menyeberang ke Jerman Barat. Selama dia koma, Tembok Berlin diruntuhkan dan tidak ada lagi dua Jerman.
Film itu asyik sekali lantaran begitu si perempuan siuman, kedua anaknya mati-matian ”menyenangkan” ibu mereka bahwa situasi masih oke-oke saja seperti sebelum dirinya koma. Mereka bahkan harus mencari koran-koran lama, label produk khas Jerman Timur, membuat video berita seolah-olah Partai Sosialis masih berkuasa. Upaya yang tak mudah sebab rezim sudah berganti. Mereka bahkan menyewa anak sekolah untuk menyanyi lagu-lagu mars khas sosialisme Jerman Timur.
Tapi apa lacur, ketika Christiane yang sudah agak baikan keluar dari apartemen dan melihat Patung Lenin yang sebelumnya bertakhta dengan jumawa di pusat kota tengah dihela helikopter untuk dibuang. Dia syok, tapi film tidak menceritakan lebih lanjut nasib si ibu.
Ya, tak perlu membayangkan tokoh kita yang tidur beberapa lama itu mengalami keterkejutan seperti Christiane. Tidurnya pun tidak perlu selama tiga pemuda yang disebut Ashabul Kahfi dalam Alquran, atau macam Kumbakarna, adik Rahwana yang tidur panjang. Cukup beberapa minggu tokoh kita tidur, lantas bangun dan berjalan-jalan lagi di kotanya. Belum lama berjalan, dia syok. Dia mengira dirinya tersesat, atau malah amnesia. Wajah kotanya tak lagi sama. Pada hampir semua sudut, tepian jalan, dinding-dinding, tertempel, terpacak, terpasak poster-poster, bendera aneka warna-aneka lambang, dalam tatanan silang-sengkarut dan asal pasang-asal tempel. Ketika dia sadar bahwa sebentar lagi pemilu digelar, barulah dia yakin dirinya sedang tidak tersesat. Tapi sebagai orang yang mencintai kotanya, dia kecewa bahwa wajah cantik lansekap kotanya rusak oleh aneka atribut caleg dan partai. Padahal keinginannya begitu sederhana: silakan pasang dan tempel, tapi pertimbangkan tatanan yang enak dipandang mata.

***

”HALAH, mau ngomong pemandangan dikotori poster dan bendera saja putar-putar sampai Jerman Timur, Ashabul Kahfi hingga Kumbakarna. Bilang saja dengan tegas: yang merusak pemandangan wajib dibersihkan. Kalau halamanmu banyak sampah saja kau akan buru-buru mengambil sapu, kok,” sindir Jon Lebay kepada saya.
Saya tergelak, lalu berbisik padanya, ”Sst, ini teknik berpanjang-panjang kata, tahu? Bayangkan kalau saya nulis di koran luar negeri yang honornya per kata, banyak dolarnya, kan?”
Lalu dengan bisikan yang lebih lirih: ”Ini rahasia kita berdua, tulisan ini nggak berhonor, jadi anggap saja ini amalku. Tapi karena amal ini sudah kuceritakan kepadamu, kata Mbah Kiai, ya hilang pahalanya, malah mungkin aku dapat dosa riya alias pamer. Kau sih memancingku untuk pamer. Tapi hari gini, siapa yang nggak narsis?”
Alih-alih menjawab, Jon hanya menjulurkan lidah. ”Tapi untunglah, Jon, poster para caleg itu rata-rata tidak menarik dipandang, setampan atau secantik apa pun wajah mereka. Lebih-lebih kata-kata penyertanya, sering sukar dibaca dan dipahami. Andai mereka berpose macam model iklan sabun atau produk suplemen untuk lelaki, atau bergaya penyanyi dangdut asolole, pasti yang terjadi tak cuma ketidaknyamanan pandang. Bisa jadi setiap pengendara berhenti dulu untuk menikmati pose mereka barang sekejap. Akibatnya, kemacetan di mana-mana. Repot, kan?”
Muka Jon menunjukkan ekspresi orang mau muntah dan berkata, ”Hei, yang menyandang nama lebay itu aku, kok situ yang kalimat-kalimatnya lebay, sih?”
Hahaha, tapi saya akui, para caleg itu orang-orang yang suka ”berbesar hati”. Lihat saja, mereka rela wajah mereka ditempel di bak sampah, di dinding yang sering beraroma urin, di pohon bersandingkan iklan sedot WC atau pijat tunanetra, di pagar bersisian dengan iklan badut sulap. Kalau tidak punya kebesaran hati, apa coba sebutannya? Mereka juga rela blusukan ke gang-gang kumuh atau pasar becek, bersalaman dengan tangan yang bau ikan.
Tapi begitulah bila orang ingin agar dirinya dipilih. ABG, anak muda, atau ”ABG tua” pun melakukannya ketika sedang merayu gebetan. Semasa pedekate atau ta’aruf agar dipilih sebagai kekasih atau istri atau suami, seseorang bisa punya banyak ”kebesaran hati”. Diminta menunggu di ujung gang pada malam dingin dan dikerubungi nyamuk, dia akan menulis SMS pada sang gebetan, ”Oh demi menantimu, jangankan seekor, satu triliun nyamuk menggigitku pun oke sajalah. Sungguh, betapa indah gigitan mereka.”
Tapi setelah diterima jadi pacar atau istri atau suami, sangat mungkin dia kehilangan kata-kata rayuan yang puitis itu. Lupa dibikinkan kopi saja bisa seperti Jon Lebay yang berteriak, ”Apa kita sudah tak punya kebun kopi hingga harus impor dulu? Cukuplah keledai eh kedelai dan beras. Cepat kopinya dengan takaran pas!”
Tapi saya yakin, bila terpilih nanti, para caleg itu tak bakal suka teriak macam Jon. Paling-paling… tidur saat rapat. (*)

Kolom Smilokui, Suara Merdeka, 23 Maret 2014


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Pemungut Kata dari Udara

Tuit-Tuit

  • #Cerita196:CINTA-32. Manon pulang, Eva lelap. Angin santer lewat jendela. Manon merapatkan selimut dan cium keningnya, dan menutup jendela.i 1 year ago
  • #Cerita195:GENDUT. "Rekening Arya tambah gendut. Kau juga, perutmu! Meski begitu, buatku kau tetap six-pack," ujar Eva. Manon hanya ngakak. 1 year ago
  • #Cerita194:PIKIRAN. Di dalam pikiran Manon, Eva itu Putri jelita. Bahkan wajah kusut Eva seusai bangun tidur tampak begitu menawan. 1 year ago
  • #Cerita193:GERIMIS. Manon senang senang duduk di balkon saat gerimis belum menjadi hujan. Eva tak pernah alpa menyeduhkan teh untuknya. 1 year ago
  • #Cerita192:PANIK. Ada berita pesawat jatuh. Eva panik dan menelepon Manon. "Kamu tidak di pesawat, kan?" "Aku di kamar, sayang." 1 year ago

Pilih-Pilih

%d bloggers like this: