Home » Kolom SMILOKUI » DI DUNIA IKLAN

DI DUNIA IKLAN

PASTI enak sekali bila kita hidup di dunia iklan. Maksud saya, dunia yang dicitrakan oleh iklan-iklan. Di situ, semua serbabagus, penuh kemukjizatan. Apa pun seolah-olah cukup dengan mantra pesulap ”simsalabim, abrakadabra” atau mantra Ali Baba ”sesame buka pintu!”
Ada spanduk iklan lembaga kursus bahasa asing yang terbentang di tengah jalan: ”Dijamin lancar berbahasa Inggris dalam 18 jam.”
Saya tahu, yang disebut 18 jam itu akumulasi waktu dari sekian pertemuan kursus. Itu tak berarti: bila Anda mulai kursus pada pukul 24.00 atau 00.00, maka pada pukul 18.00, sekeluar dari tempat kursus, Anda bisa bercasciscus dengan Victoria Beckham atau Milley Cirrus memakai bahasa yang kemungkinan keduanya pun bakal terkagum-kagum. Kok ada orang dari suatu tempat yang pernah ”dilecehkan” Justin Bieber sebagai ”random country” atau negeri antah-berantah itu bisa begitu teteh nginggris?
Bila iklan itu menjanjikan sesuatu yang benar, orang akan berbondong-bondong mendaftar sebagai peserta kursus. Hanya belajar selama 18 jam sudah terjamin lancar berbahasa Inggris, siapa yang tidak kepincut?
Lantas, bila bahasa Inggris tak cukup, dalam pergaulan internasional akan lebih afdal bila menguasai banyak bahasa. Lalu kita bayangkan ada lembaga kursus bahasa yang menawarkan 19 jam lancar berbahasa Prancis, 20 jam lancar Italia, 21 jam lancar Arab, 22 jam lancar Mandarin, 30 jam lancar Ibrani, dan sebagainya. Yakinlah, dalam satu bulan, kemungkinan seseorang lancar 20-an bahasa. Wow!
Ya, bahasa iklan memang bahasa wow. Sekali rendam dengan deterjen tertentu, baju langsung cling seperti baru. Wow, berapa rupiah kita irit karena kita tak perlu membeli baju baru lagi. Dengan sekali seruput sirup pengusir masuk angin, seseorang sudah jadi orang pintar atau orang bejo (beruntung). Wow, untuk dianggap pintar, seseorang tak lagi perlu sekolah, belajar sampai suntuk, keluar ongkos banyak.
Saya jadi ingat guyonan semasa sekolah ketika saya dan teman-teman suntuk menghafal suatu materi pelajaran. Ada orang memberi tips jitu. ”Bakar saja kertas yang berisi materi hafalan itu. Taburkan abu bakarannya ke gelas berisi air putih. Biarkan beberapa saat sebelum airnya diminum. Dijamin materi pelajaran itu akan masuk ke dalam tubuh kita.”
Ada seorang teman yang mematuhi tips tersebut. Hasilnya? Ah, Anda sudah bisa menerkanya: catatan yang dia tulis dengan susah-payah itu hilang dengan sekali bakar, dan ketika diuji, dia lebih banyak memandang langit-langit kelas.

***

”TAPI analisismu keliru,” protes Jon Lebay tiba-tiba, ”Yang dimaksud iklan bahwa orang pintar minum produk itu artinya yang tidak pintar ya jangan minum itu.”
”Jadi kalau kita bodoh atau merasa bodoh, ya tidak boleh minum itu? Padahal betapapun kita bodoh, kita sering ingin merasa pintar. Jadi kenapa tidak minum produk itu biar dianggap pintar? Lalu apa parameter eh ukuran seseorang itu bodoh atau pintar?” balas saya.
”Halah, kamu suka njelimet. Ukurannya ya jelas: yang minum produk itu orang yang pintar.”
”Hahaha… kamu bekerja di bagian marketing perusahaan produk itu ya, Jon?”
Jon tak menjawab dan tinggal glanggang colong playu. Mungkin saja dia tak mau berdiskusi lebih lama, atau dia sebenarnya sudah tahu bahwa bahasa iklan itu memang bahasa wow, penuh hiperbolisme, penuh sofistikasi, dan bla-bla-bla. Bahasa iklan itu bahasa untuk merayu, dan merayu muskil memakai untaian kata yang biasa-biasa saja. Bahkan, isi rayuan itu tak harus
sesuai kenyataan.
Mau contoh lain? Kita yang rata-rata berkulit eksotis (untuk tidak menyebut hitam, cokelat, cokelat mangkak, sawo matang) dan ngebet ingin berkulit seperti orang-orang dari ras Kaukasia, tak perlu khawatir. Dengan sekali oles krim pemutih, putih bersih berserilah kulit kita.
Itu akan jadi suatu ironisme ketika kita tahu banyak orang dari ras Kaukasian menjemur tubuh mereka di tepi pantai di bawah terik matahari. Semakin gosong kulit mereka, semakin riang mereka. Hahaha, kita yang berkulit ”gosong” ingin seputih sinyo-noni, eh para menir yang kulitnya seputih susu dengan nuansa kemerah-merahan begitu ngebet ingin punya kulit segosong punya kita.
Ya, iklan memang berfungsi untuk mencitrakan sesuatu yang ditawarkan. ”Citra” dalam KBBI berarti ”rupa, gambar, gambaran”, atau arti lainnya: ”gambaran yang dimiliki orang banyak mengenai pribadi, perusahaan, organisasi, atau produk”. Intinya gambaran, dan gambaran itu bisa buruk, bisa bagus, bergantung atas kenyataannya. Hanya saja, sekarang ini, ”citra” mengalami penyempitan makna, hanya untuk gambaran yang bagus-bagus saja. Maka muncullah kata ”pencitraan”, upaya membagus-baguskan.
Hari gini, siapa pun yang dicitrakan bagus bakal merebut popularitas. Setelah populer, dia bisa menjadi apa saja, termasuk jadi presiden. Bila nanti cara kerjanya tidak seperti yang dicitrakan, jangan khawatir, sebab kita masih punya dada untuk dielus sembari berucap, ”Kok dulu milih dia, ya?” (*)

Kolom Smilokui, Suara Merdeka, 30 Maret 2014


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Pemungut Kata dari Udara

Tuit-Tuit

  • #Cerita196:CINTA-32. Manon pulang, Eva lelap. Angin santer lewat jendela. Manon merapatkan selimut dan cium keningnya, dan menutup jendela.i 1 year ago
  • #Cerita195:GENDUT. "Rekening Arya tambah gendut. Kau juga, perutmu! Meski begitu, buatku kau tetap six-pack," ujar Eva. Manon hanya ngakak. 1 year ago
  • #Cerita194:PIKIRAN. Di dalam pikiran Manon, Eva itu Putri jelita. Bahkan wajah kusut Eva seusai bangun tidur tampak begitu menawan. 1 year ago
  • #Cerita193:GERIMIS. Manon senang senang duduk di balkon saat gerimis belum menjadi hujan. Eva tak pernah alpa menyeduhkan teh untuknya. 1 year ago
  • #Cerita192:PANIK. Ada berita pesawat jatuh. Eva panik dan menelepon Manon. "Kamu tidak di pesawat, kan?" "Aku di kamar, sayang." 1 year ago

Pilih-Pilih

%d bloggers like this: