Home » Kolom SMILOKUI » BUNDA (PIARA) PUTRI

BUNDA (PIARA) PUTRI

WAKTU anak perempuan pertama masih ditimang-timang dan belum bisa bicara, saya berikhtiar untuk memanggilkan orang yang mengandung dan melahirkannya dengan sebutan bunda. Panggilan itu belum jamak di lingkungan sekitar rumah saya. Alhasil, tidak lakulah panggilan itu, kalah dari sebutan mama. Ketika lahir anak kedua, panggilan mama itu sudah pewe alias posisi wuenak.
Hmm, andaikan ikhtiar itu terpenuhi, saya tak akan kesulitan menjawab bila ada yang bertanya siapakah Bunda Putri. ”Itu jelas bunda kedua putri saya, ya istri saya. Dan percayalah, dia benar-benar kenal SBY, tapi cuma nama dan gambarnya doang. Bahkan, saya tidak yakin, pada dua kali pilpres itu, dia memilihnya. Hahaha….”
Lagi pula, siapa yang mau-maunya menanyakan sosok sejati dari Bunda Putri kepada saya. Jadilah dia misterius. Terhadap sesuatu atau sosok misterius, kita tentu saja lebih suka berspekulasi, mereka-reka, menganalisis, sesekali sotoy alias sok tahu, atau bergunjing.
”Oh, si Bunda itu nama aslinya Non Saputri dari Cilimus di Kuningan, Jabar. Rumahnya di Pondok Indah. Itu baru yang konangan. Orangnya sudah estewe tapi masih seksi sampai-sampai pejabat teras di Kementan saja merelakan istrinya yang artis demi bisa bersanding dengan si Bunda. Dia bukan Black Widow bukan pula White Widow yang bikin belingsatan Interpol. Meski begitu, siapa saja yang ingin berurusan dengan kalangan istana mesti meminta restu padanya. Kau ingin jadi dirjen atau menteri, ya ke dia dong.”
Atau, ”Oh tidak, dia bukan Non Saputri melainkan Sylvia Solehah. Panggilan kesehariannya Bu Pur tapi punya nama sandi Bunda Putri. Suaminya masih kerabat Bu Ani, Bunda Ratu eh maaf, istri Pak SBY yang Presiden RI itu.”
Tak cukup gunjingan ala infotainment, biar lebih sahih dan bergaya analisis-intelektual, dipajanglah beberapa foto tokoh trending topic kita Bunda Putri: yang lagi bareng Bang Kumis Andi Mallarangeng, Pak Poernomo Yosgiantoro, Pak Dipo Alam, sembari diberi catatan: ”Mereka tampak akrab.”
Saya, mungkin juga Anda, asyik-asyik saja membaca dan mendengar semua itu. Hitung-hitung kita sedang membaca novel detektif Agatha Christie atau Sir Arthur Conan Doyle. Hitung-hitung kita ini sedang menjadi sebagai Detektif Hercule Poirot atau Sherlock Holmes.
Lebih-lebih lagi, kita sebenarnya sudah akrab dengan sebutan bunda atau putri. Jadi, kerja detektifnya sudah punya kata kunci. Hanya saja, Bunda Putri? Sepertinya ungkapan itu belum begitu akrab, kecuali bila si ibunda itu punya nama Putri di KTP, Putri Amangkurat, misalnya. Apalagi, bukankah bunda itu selalu berjenis kelamin putri alias perempuan?

***

NAH, saat para ”detektif” itu sibuk membongkar misteri Bunda Putri, izinkan saya membuka alasan keinginan panggilan bunda dari anak-anak kami untuk istri saya. Tak ada alasan yang muluk-muluk. Saat itu, kayaknya panggilan tersebut keren dan punya nilai beda. Di lingkungan saya saat itu, panggilan anak-anak untuk orang yang melahirkan mereka kalau tidak ibu, mama, mami, ya ummi.
Alasan lain, biar klop dengan panggilan ayah untuk saya. Bukankah umumnya pasangan ayah itu bunda, sama dengan mama-papa, ibu-bapak? Bila kesampaian, saya bisa meninabobokan anak-anak kami dengan lagu ”Bunda Piara” karya Cornel Simanjuntak: Bila kuingat lelah/ayah bunda/Bunda piara piara akan daku/sehingga aku besarlah//Waktuku kecil hidupku/amatlah senang/senang dipangku dipangku dipeluknya/serta dicium dicium dimanjakan/namanya kesayangan.
Yang pasti, menurut saya, panggilan bunda itu keren. Dalam dongeng, khususnya milik HC Andersen, sosok bunda biasanya ratu yang baik hati. Itu beda dengan Ibu Suri yang adakalanya jahat. Coba saja Anda tonton film-film Mandarin tentang dinasti-dinasti di China.
Begitu pula, panggilan bunda itu punya nilai penghormatan yang agung. Orang yang selama hidupnya berdarmabakti bagi kemanusiaan seperti Agnes Gonxha Bojaxhiu kita sebut dengan hormat: Bunda Teresa. Orang Katolik juga sangat menghormati Bunda Maria. Dan perempuan yang dengan telaten menyelamatkan anak-anak Slank dari kekelaman lembah narkoba itu punya sebutan Bunda Iffet.
Dengan begitu, sebutan bunda umumnya diberikan kepada perempuan, baik tua maupun estewe, yang berkarakter baik. Kalau dalam cerita, dia selalu protagonis. Itu berbeda dengan sebutan putri. Ia tak selalu baik karena ada pula tokoh putri jahat.
Jadi, siapa Bunda Putri? Belum juga terjawab, kini muncul lagi tokoh yang disebut Bunda Daging. Waduh, tambah berat kerja para ”detektif”. Dan naga-naganya diri kita bakal kenyang cerita tanpa akhiran lantaran setiap hari ada sosok dan kasus baru, tapi kita, bahkan pers, sering lupa mencari tahu keberlanjutan kisahnya.
Nah, sebelum lupa, saya ingin menyarankan Anda, khususnya yang pesohor, bila ada orang yang ikut mejeng pada sesi pemotretan Anda, tanyakan dulu identitas dia: KTP, SIM atau paspor. Kalau tidak bawa, ya setidak-tidaknya panggilannya: bunda atau apa? Bukankah tidak keren bila kita tak bisa menjawab siapa sosok yang bersama kita dalam sebuah foto? Ya, siapa tahu sosok yang nyrunthul ikut foto itu Angelina Jolie atau Kim Kardarshian, kan Anda ikut ngetop juga. (*)

Kolom Smilokui, Suara Merdeka, 27 Oktober 2013


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Pemungut Kata dari Udara

Tuit-Tuit

  • #Cerita196:CINTA-32. Manon pulang, Eva lelap. Angin santer lewat jendela. Manon merapatkan selimut dan cium keningnya, dan menutup jendela.i 1 year ago
  • #Cerita195:GENDUT. "Rekening Arya tambah gendut. Kau juga, perutmu! Meski begitu, buatku kau tetap six-pack," ujar Eva. Manon hanya ngakak. 1 year ago
  • #Cerita194:PIKIRAN. Di dalam pikiran Manon, Eva itu Putri jelita. Bahkan wajah kusut Eva seusai bangun tidur tampak begitu menawan. 1 year ago
  • #Cerita193:GERIMIS. Manon senang senang duduk di balkon saat gerimis belum menjadi hujan. Eva tak pernah alpa menyeduhkan teh untuknya. 1 year ago
  • #Cerita192:PANIK. Ada berita pesawat jatuh. Eva panik dan menelepon Manon. "Kamu tidak di pesawat, kan?" "Aku di kamar, sayang." 1 year ago

Pilih-Pilih

%d bloggers like this: