Home » Kolom SMILOKUI » BELAJAR DARI GIGI

BELAJAR DARI GIGI

INI kisah tentang seorang lelaki muda yang begitu dicintai penduduk sebuah desa kecil di dekat Kota Napoli, Italia. Namanya Giuseppe Frabrizio Luca Santini, tapi orang-orang lebih suka memanggilnya Gigi L’Amoroso alias Gigi Si Pecinta.
Bersama tiga kawannya, Gigi membentuk band yang manggung pada pesta desa setiap Sabtu malam. Sebagai vokalis, kemunculan Gigi selalu menciptakan histeria. Ya, tak hanya mengagumi kualitasnya dalam bernyanyi, orang-orang memuja sosoknya. Khususnya para perempuan, mereka tergila-gila padanya dan tahu diri mereka bakal patah hati: istri si tukang roti yang buru-buru menutup kedainya untuk bisa menyaksikan aksi Gigi; juga istri seorang notaris yang sekian lama dikenal sebagai sosok suci dan tak pernah membohongi suaminya; atau janda si kolonel mendadak ogah mau terus-terusan memakai jubah bela sungkawa atas kematian suaminya untuk selanjutnya terpaku menyaksikan aksi Gigi.
Dan benar-benar patah hatilah semua perempuan itu ketika datang seorang perempuan kaya dari Amerika. Dia juga jatuh cinta pada Gigi dan mengajak si lelaki muda untuk pergi bersamanya. ”Aku akan membawamu ke Hollywood. Di sana kau akan mendapat ketenaran dan gelimang dolar.”
Gigi pergi. Semua orang kehilangan tapi bangga oleh harapan bahwa salah seorang dari mereka bakal menaklukkan Hollywood, menaklukkan Amerika. Mereka semua mengantar lelaki kecintaan itu ke stasiun. Sapu tangan mereka basah oleh deraian air mata kesedihan.
Sepeninggal Gigi, suasana desa tak lagi riang. Istri si tukang roti tak lagi menyalakan tungkunya untuk membakar roti. Istri notaris melampiaskan rasa frustrasinya kepada banyak kekasih. Dan janda si kolonel kembali memakai jubah bela sungkawanya.
Lima tahun berlalu tanpa kabar tentang Gigi. Apakah dia telah berhasil menaklukkan Amerika? Tidak. Suatu hari, si pencerita kisah ini menjumpai lelaki kecintaan itu berada di ruangan suram, tengah menangis.
”Aduh Gigi, itukah hasilmu dari Amerika? Seperti itukah Gigi Si Amerika? Ingatlah, namamu Giuseppe Frabrizio Luca Santini, kau seorang Napoli. Di sinilah rumahmu. Di sini kau itu raja.”
Kisah itu meluncur lewat lagu ”Gigi L’Amoroso” karya Jacqueline Misrahi, Paul Sebastian, dan Lana Sebastian yang didendangkan Dalida. Nama yang disebut terakhir itu penyanyi bernama asli Iolanda Cristina Gigliotti itu blasteran Italia-Mesir yang menjadi ratu panggung di Eropa pada 1960-1980-an. Begitu masyhur namanya di Eropa hingga orang-orang Amerika Serikat menginginkannya konser di negara mereka. Tak seperti Gigi, sosok yang dia ceritakan dalam lagunya, Dalida selalu menolak dan baru meluluskan beberapa tahun dari saat undangan disampaikan.

***

TAPI, salahkah Gigi yang bermimpi menaklukkan Hollywood? Tentu saja tidak. Dia tahu dirinya seorang ”raja” di sekitar orang-orang yang mengenalnya. Hanya saja, ia raja kecil. Dan ketika terbuka peluang untuk bisa menjadi bagian di pusat hiburan dunia seperti Hollywood, syukur-syukur menjadi Raja Hollywood, kenapa tidak?
Saya melihat sekarang ini begitu banyak orang yang berada dalam situasi serupa yang dialami Gigi. Misalnya saja, orang-orang yang sedang mempersiapkan diri menjadi anggota legislatif atau kandidat bupati/wali kota, gubernur, dan presiden. Anda bisa menulis senarai panjang mengenai orang-orang itu yang sebenarnya sudah menjadi ”raja” di kantor atau perusahaannya.
Tak ada yang salah dalam hal itu. Kita bebas memilih menjadi yang kita inginkan. Undang-undang menjamin hal tersebut. Apalagi ada adagium yang menyerukan: bermimpilah dan bercita-citalah setinggi langit.
Tapi ada juga orang-orang yang sudah puas hanya menjadi seorang raja kecil di komunitasnya yang kecil. Orang seperti ini barangkali benar-benar mengikuti peribahasa Spanyol, mas vale ser cabeza de raton que cola de leon (lebih baik jadi kepala tikus ketimbang ekor singa).
Jadi, ini semata soal pilihan masing-masing. Tapi belajar dari nasib Gigi, jangan sampai kita bak peribahasa ”melepas burung yang ada dalam genggaman lantaran ingin menangkap burung di dahan pohon.” (*)

Kolom Smilokui, Suara Merdeka, 3 November 2013


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Pemungut Kata dari Udara

Tuit-Tuit

  • #Cerita196:CINTA-32. Manon pulang, Eva lelap. Angin santer lewat jendela. Manon merapatkan selimut dan cium keningnya, dan menutup jendela.i 1 year ago
  • #Cerita195:GENDUT. "Rekening Arya tambah gendut. Kau juga, perutmu! Meski begitu, buatku kau tetap six-pack," ujar Eva. Manon hanya ngakak. 1 year ago
  • #Cerita194:PIKIRAN. Di dalam pikiran Manon, Eva itu Putri jelita. Bahkan wajah kusut Eva seusai bangun tidur tampak begitu menawan. 1 year ago
  • #Cerita193:GERIMIS. Manon senang senang duduk di balkon saat gerimis belum menjadi hujan. Eva tak pernah alpa menyeduhkan teh untuknya. 1 year ago
  • #Cerita192:PANIK. Ada berita pesawat jatuh. Eva panik dan menelepon Manon. "Kamu tidak di pesawat, kan?" "Aku di kamar, sayang." 1 year ago

Pilih-Pilih

%d bloggers like this: