Home » Kolom SMILOKUI » AYAM (JADI) MONSTER

AYAM (JADI) MONSTER

ANDA kemungkinan akan terbahak bila ditanya apakah Anda takut kepada ayam, lalu bilang, ”Itu kan unggas ternak yang jinak sejinak-jinaknya. Dan saban hari aku makan ayam.” 

Tapi bagaimana bila ayam itu berubah jadi monster? Saya yakin bila pun Anda seorang pemberani, Anda tak akan segera bisa menjawab. Ini bukan monster yang dalam KBBI berarti ”barang contoh untuk dinilai mutunya.” Ini monster yang berupa sosok khayali seram dan menerbitkan teror. Jadi, lumrah saja bila Anda langsung menyergah, ”Ya, takutlah….” Tak hanya ayam, apa saja yang berubah jadi monster pasti bikin keder.
Nah, saya punya teman yang setiap melihat atau bertemu ayam merasa seolah-olah dia berhadapan dengan seekor monster ayam. Ya, kami sedang berjalan ke tempat parkir mobilnya. Sontak, dia bertingkah aneh. Mukanya memias pasi. Kami berhenti dan dia memutar-mutarkan pandang ke area parkir.
”Tadi di tempat parkir ada ayam. Jangan-jangan masih di situ…,” ucapnya bergetar.
”Lo, kamu takut pada ayam?”
Dia mengangguk. Saya tahan keinginan untuk tertawa, apalagi kepada orang yang mukanya pias pasi.
”Tapi kamu makan ayam?”
Dia mengangguk lagi sambil tetap memutar-mutar pandang mencari-cari si ”monster ayam” itu.
”Baguslah, kamu bisa makan sesuatu yang kamu takuti. Lagi pula yang kamu makan bukan lagi ayam melainkan mantan ayam.”
Seloroh saya tetap tak bisa membuatnya rileks.
”Kalau lihat mata ayam plerak-plerok, kayak ngejekkin gitu.”
Di bidang psikologi ada istilah yang disebut fobia. Itu gangguan psikologis yang berkenaan dengan rasa takut berlebihan kepada sesuatu. Sesuatu itu bagi kebanyakan orang bisa saja hanya hal remeh-temeh. Dan sumber ketakutan yang ”remeh-temeh” itu banyak sekali. Sila Anda mengecek senarai fobia di buku-buku psikologi.
Adakalanya pula ketakutan berlebihan itu bikin rempong. Orang yang takut pada gelang karet atau buah salak bisa saja menyingkiri benda-benda itu dengan mudah, atau meminta orang lain untuk menyingkirkannya. Bagaimana dengan orang yang mengalami hydrophobia alias takut pada air? Kalau tak sembuh-sembuh, sangat mungkin sepanjang hidupnya dia tak pernah mandi, kecuali dia mau mandi debu seperti kucing. Alamak!

***

FOBIA, namanya juga gangguan yang berkategori penyakit psikologis, tentu saja harus disembuhkan. Para pakar psikologi menyebutkan proses penyembuhannya bisa dengan obat-obatan dan bisa pula dengan ”membelajarkan” penderita mendekati atau melakukan sesuatu yang ditakuti. Penderita akrofobia atau takut ketinggian bisa diajak untuk pergi ke gedung bertingkat, menuju salah satu balkonnya dan memandangi lansekap di bawah. Atau latihan naik komidi putar. Penderita agorafobia yang takut pada lapangan, bolehlah diajak nonton pertandingan sepak bola.
Mudahkah? Tentu saja tidak, tapi tetap harus diupayakan. Begitulah saran para pakar psikologi dan dokter jiwa.
Ya, setiap orang itu memiliki keberanian pada hal-hal tertentu tapi memiliki ketakutan pada hal-hal tertentu pula. Tentu saja seperti istilah ”tak ada asap tanpa api”, selalu ada picu atau stimulus yang menyebabkan seseorang takut terhadap sesuatu. Orang yang takut kepada buah salak bisa saja dipicu oleh rasa takut atau jijik terhadap ”tinggi” alias kutu busuk. Lo kok? Mungkin saja si penderita begitu takzim memahami cangkriman Jawa yang berbunyi sega sakkepel dirubung tinggi (nasi sekepal dirubung kutu busuk) untuk menyebut buah salak. Lalu yang takut pada gelang karet, jangan-jangan dia pernah ”dijebret” dengan benda itu oleh orang yang sangat dibenci dan kebencian akibat jebretan itu menahun dan menjadi fobia. Hahaha, itu analisis ngawur saya yang bukan ahli ilmu psikologi lo, ya….
Apa pun picu ketakutan itu, si pemicu itu harus disingkirkan atau diakrabkan. Itulah inti saran dokter. Juga bila picu itu berupa aksi sekelompok orang yang tergabung dalam Front Pembela Islam (FPI) seperti yang baru saja terjadi di Surabaya berupa pembubaran acara bedah buku Tan Malaka. Tentu saja, aksi sewenang-wenang itu membuat kegeraman massal. Di sisi lain, aksi itu juga menerbitkan ketakutan untuk menggelar acara serupa. Bila ketakutan itu berlarut dan traumatis, bisa-bisa senarai fobia ditambah satu istilah lagi: FPI-fobia.
Sekali lagi, fobia bisa disembuhkan dengan obat-obatan atau dengan mendekati objek atau mengakrabi objek yang bikin takut. Atau cara paling sederhana: menyingkirkan atau menjauhkan si objek.
Nah, bila FPI yang memang sudah sangat sering melakukan aksi serupa itu jadi objek kefobiaan, bagaimana cara mengatasinya? Aduh maaf, saya tak bisa menjawab. Wong terhadap teman saya yang takut ayam saja saya hanya bisa bilang, ”Jauhi ayam atau mintalah pemilik atau orang yang berani menangkap ayam itu untuk menjauhkannya darimu. Syukur-syukur kamu bisa meminta semua pemilik ayam untuk mengandangkan semua ayam itu biar tidak berkeliaran dan membuatmu takut. Santailah, saya maklum kok bahwa untukmu, ayam yang jinak itu adalah monster mengerikan.”
Jadi, FPI itu mirip ayam yang jadi monster dalam persepsi seseorang? Jadi, jangan dibiarkan berkeliaran dan harus dikandangkan? Hmm, kalau Anda menyimpulkan seperti itu, silakan saja. Atu tih ta bica cimpulin coalnya atu atut cama F**, hehehe…. (*)

Kolom Smilokui, Suara Merdeka, 9 Februari 2014


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Pemungut Kata dari Udara

Tuit-Tuit

  • #Cerita196:CINTA-32. Manon pulang, Eva lelap. Angin santer lewat jendela. Manon merapatkan selimut dan cium keningnya, dan menutup jendela.i 1 year ago
  • #Cerita195:GENDUT. "Rekening Arya tambah gendut. Kau juga, perutmu! Meski begitu, buatku kau tetap six-pack," ujar Eva. Manon hanya ngakak. 1 year ago
  • #Cerita194:PIKIRAN. Di dalam pikiran Manon, Eva itu Putri jelita. Bahkan wajah kusut Eva seusai bangun tidur tampak begitu menawan. 1 year ago
  • #Cerita193:GERIMIS. Manon senang senang duduk di balkon saat gerimis belum menjadi hujan. Eva tak pernah alpa menyeduhkan teh untuknya. 1 year ago
  • #Cerita192:PANIK. Ada berita pesawat jatuh. Eva panik dan menelepon Manon. "Kamu tidak di pesawat, kan?" "Aku di kamar, sayang." 1 year ago

Pilih-Pilih

%d bloggers like this: