Home » Kolom SMILOKUI » 4 L 4 Y

4 L 4 Y

DI dalam salah situs berita daring, saya tergelitik membaca tagline iklan PDI Perjuangan tentang peringatan HUT ke-41 partai tersebut (tentu saja dihitung sejak masih bernama PDI). Tagline yang lebih baik kita alihbahasakan sebagai slogan itu berbunyi: MEMPERB41KI DIRI MENCINT41 TANAH 41R (saya tulis sesuai aslinya).
Siapa pun yang sudah melek aksara, pasti tidak kesulitan membaca kalimat slogan tersebut. Tapi bagaimana bila ada yang membacanya seperti ini: memperbempatpuluhsatuki diri, mencintempatpuluhsatu tanah empatpuluhsatur? Salahkah? Mungkin tidak, tapi orang yang berbahasa Indonesia bisa saja mengira kalimat itu berasal dari bahasa alien.
Saya tergelitik, lebih pasnya tertarik, lantaran partai yang sudah berumur 41 tahun itu mengekspresikan diri dengan mengakomodasi gaya bahasa alay, cara berbahasa Anak baru gede dan remaja yang lebih sering dicemooh ketimbang dipujikan kreativitasnya. Ya, penggantian fonem ”ai” menjadi angka ”41”, umumnya dilakukan kelompok yang disebut anak alay. Kalau saya pengamat politik sekaligus pakar sosiolinguistik, pasti saya akan meuji-muji kecergasan partai tersebut dalam membuat slogan yang kemungkinan bisa merayu para pemilih pemula.
Ya, dalam beberapa kesempatan saya selalu mengaku sebagai pembela ragam bahasa alay sebagai bagian dari fenomena berbahasa Indonesia. Itu sebabnya saya sering bersilang pendapat dengan beberapa munsyi atau pakar bahasa yang getol mengatakan bahasa alay sebagai agen perusak bahasa Indonesia di kalangan remaja. Sewaktu saya memberi materi tentang ragam bahasa populer dan gaul kepada mahasiswa di Unnes, begitu saya singgung perihal bahasa alay, mereka langsung merespons dengan komentar-komentar minor. Intinya, pengguna bahasa alay itu dianggap masih labil ekonomi, eh maaf, labil secara psikologis.
Saya berargumentasi, ”Betul, penulisan kata dengan mengganti huruf dengan angka dan penulisan huruf kapital dan kecil secara random tidak ada dalam kaidah penulisan kata dalam bahasa Indonesia. Tapi menurut saya, para pemakai bahasa yang kita sebut alay itu kreatif. Setidak-tidaknya secara visual. Kalau dipertimbangkan lebih jauh, mereka ingin sesuatu yang kreatif dalam berbahasa. Mereka ingin bahasa Indonesia itu menyenangkan, setidaknya secara visual dalam tata tulis. Saya pikir, sesuatu yang menyenangkan itu modal bagus bagi para pakar bahasa, guru bahasa, dan sebagainya untuk membuat mereka mencintai bahasa Indonesia.”

***

NAH, menurut saya, mencemooh dan menuduh pemakai bahasa alay itu merusak bahasa itu sebentuk paranoia. Terlalu lebay mereaksi suatu fenomena berbahasa, atau bahkan hanya tren sesaat. Terbukti, kalangan yang dulu berjamaah memakainya kini mulai berkurang. Lagi pula, penulisan cara alay itu hanya terjumpai pada teks SMS, BBM, status Facebook, Twitter, Instagram dan beberapa jejaring sosial lain. Silakan cek ke guru-guru, adakah ABG yang kebetulan masih bersekolah, menuliskan nama dan mengisi tes dengan tata tulis alay? Apakah ketika mereka menulis surat izin juga memakai tulisan alay?
Lantas bila kita tilik latar belakang atau katakanlah asal cara alay mereka itu dari mana? Mari kita lihat, jauh sebelum ada ponsel dan internet di negeri kita, di jalanan kita sering melihat pelat nomor mobil atau sepeda motor yang angka-angkanya diasosiasikan atau ”dipaksa” menjadi huruf. Sebut saja misalnya B 10 LA (yang konon adalah mobil Idris Sardi yang ahli main biola), atau sekadar contoh, R 1 NI, A 60 ES, dan banyak lagi. Saya yakin, para pemilik mobil atau sepeda motor itu sudah tidak ABG lagi.
Bagaimanapun, bila sebutan anak alay dan pengguna bahasa alay adalah remaja labil (ada istilahnya juga yaitu ababil alias ABG labil), siapa yang sebenarnya jadi role model atau anutan? Ya, jelas para orang tua. Tapi begitu mereka ramai-ramai bergaya alay, siapa yang ramai mengecam-ngecam? Ya, tentu saja mereka yang usianya sudah tidak bisa disebut ABG lagi, meskipun mungkin secara psikologis masih merasa remaja seperti lagu ”ABG Tua”, hehehe….
Saya pikir, sebagai orang yang mengaku membela anak alay, saya sudah panjang lebar memberi argumentasi. Anda bisa tidak sependapat dengan saya. Yang pasti, saya beroleh pelajaran belajar dari gaya alay mereka. Bila para orang tua ingin menjadi anutan anak mereka, ada baiknya juga belajar dari mereka. (*)

Kolom Smilokui, Suara Merdeka, 12 Januari 2014


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Pemungut Kata dari Udara

Tuit-Tuit

  • #Cerita196:CINTA-32. Manon pulang, Eva lelap. Angin santer lewat jendela. Manon merapatkan selimut dan cium keningnya, dan menutup jendela.i 1 year ago
  • #Cerita195:GENDUT. "Rekening Arya tambah gendut. Kau juga, perutmu! Meski begitu, buatku kau tetap six-pack," ujar Eva. Manon hanya ngakak. 1 year ago
  • #Cerita194:PIKIRAN. Di dalam pikiran Manon, Eva itu Putri jelita. Bahkan wajah kusut Eva seusai bangun tidur tampak begitu menawan. 1 year ago
  • #Cerita193:GERIMIS. Manon senang senang duduk di balkon saat gerimis belum menjadi hujan. Eva tak pernah alpa menyeduhkan teh untuknya. 1 year ago
  • #Cerita192:PANIK. Ada berita pesawat jatuh. Eva panik dan menelepon Manon. "Kamu tidak di pesawat, kan?" "Aku di kamar, sayang." 1 year ago

Pilih-Pilih

%d bloggers like this: