Home » Kolom SMILOKUI » PERIBAHASA ATAU BAHASA PERI

PERIBAHASA ATAU BAHASA PERI

DALAM obrolan ringan dan supersantai, saya sering menggoda lawan bicara, terutama bila sebuah peribahasa sudah disebut-sebut. Lebih khusus lagi adalah peribahasa yang menurut saya sudah tidak kontekstual lagi.
Saya tahu, orang berperibahasa punya maksud berkias-kias. Meskipun begitu, bila objek atau referensinya tak lagi dikenali atau sudah tak ”sesuai” dengan realitas, suatu peribahasa bisa kehilangan daya persuasif atau kontekstualnya.
Saya menggoda si lawan bicara bahwa ada baiknya sebagian peribahasa itu dibuang dari daftar, senarai, atau kamus (itu kalau sudah ada kamus peribahasa). Sebenarnya, godaan saya itu semata untuk berhumor atau iseng-iseng saja. Maklumlah, saya sadar siapa diri saya ini kok mau mengubah ujaran yang sudah menjadi bagian kekayaan verbal masyarakat.
Orang bilang, ”Sedikit demi sedikit lama-lama jadi bukit.” Kita sama-sama tahu maksud peribahasa itu. Tapi selama ini, pernahkah Anda mendengar ada orang yang benar-benar membuat bukit? Yang ada ialah ”sebukit demi sebukit lama-lama jadi hunian atau jalan tol.” Hahaha, bukit dipapras biar kendaraan yang semakin banyak itu bisa lempang melintasi jalan layang, atau tanah hasil paprasannya bisa untuk menguruk calon perumahan.
”Sepandai-pandai tupai melompat, pasti akan jatuh juga.” Tanyakan pada anak-anak Anda, pernahkah mereka melihat tupai? Jangankan yang tinggal di kota, tempat yang sangat mungkin tanpa pohon kelapa, di desa-desa yang masih punya nyiur yang melambai-lambai pun pada hari gini anak-anaknya barangkali lebih sibuk main-main gawai, baik untuk SMS-an, main game, fesbukan, twitteran, atau internetan.
”Tupai itu apa? Kalau binatang, itu seperti apa?” Mungkin saja, si anak akan bertanya seperti itu. Lantas, kita sibuk berkonsultasi pada Mbah Google untuk mencarikan si anak tersayang gambar tupai alias bajing. Kalau gambar tidak cukup, cari video di Youtube mengenai aksi si tupai.
Cukup? Mungkin juga, ”Tak ada tupai asli, gambar atau video tupai pun jadi.” Serupa dengan ”Tak ada akar, rotan pun jadi.” Seperti apa rupa rotan itu? Syukurlah bila di rumah kita ada kursi rotan, kita bisa bilang, ”Itu lo yang kamu duduki.”
Atau peribahasa ini: ”Sekali merengkuh dayung, dua tiga pulau terlampaui.” Dengan pesawat terbang, jangankan tiga pulau, berpuluh-puluh pulau pun bisa kita lampaui, bukan? Atau, ”Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian.” Masih adakah rakit di sekitar kita? Entahlah, tiga puluhan tahun lalu, saya masih sering melihat orang menaiki rakit yang terbuat dari ikatan bambu dan tampak asyik menyusuri sungai menuju muara. Bukan ke hulu melainkan ke hilir. Saya tidak bisa membayangkan bila Pak Rakit itu menghela rakitnya ke hulu sementara aliran air mengarah ke hilir.
Dan ini yang sudah sering dipelesetkan: ”Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian.” Sungguh peribahasa yang memberi semangat kejuangan tanpa batas untuk bisa sukses. Pelesetannya: ”Bersakit-sakit dahulu, mati kemudian.” Meskipun mati diyakini sebagai takdir, pelesetan itu sering dipakai untuk ”menghumori” biaya dokter dan rumah sakit yang muahal-nya minta ampun.
Silakan cari lagi peribahasa lainnya, dan siapa tahu Anda tertular keisengan menghumorinya, hahaha….

***

TENTU saja, meskipun sebagian referensinya tak lagi sesuai dengan zaman, peribahasa masih sangat layak disimpan sebagai kekayaan berbahasa. Itu berbeda dengan ”bahasa peri” yang sekarang ini lagi ramai dibicarakan. Salah satu makna peri dalam kamus kita adalah roh atau jin perempuan yang elok rupanya, dan umumnya kita kenal dalam dongengan. Umumnya, Ibu Peri itu datang membawa kabar baik. Jadi, pasti bahasa yang keluar dari mulutnya adalah kata-kata yang indah dan mengajak si pendengar bermimpi.
Sayang sekali, peri itu sosok khayalan sehingga apa yang dia ucapkan pun hanya ada di awang-awang.
”Ini ide saya, ketimbang dihukum mati, koruptor itu dimiskinkan dan dipotong jari-jarinya. Itu agar ketika dia bermasyarakat, orang tahu bahwa si jari putung itu koruptor.” Anda tahu, itu ucapan siapa lagi kalau bukan dari orang yang lagi jadi trending topic beberapa pekan ini. Ya, Akil Mocthar.
Menurut saya, kata-kata dari mulut Pak Akil itu bahasa peri, dan sudah pasti indah.
Atau nyang ini, Bro: ”Kalau ada satu rupiah saja Anas korupsi hambalang, gantung Anas di Monas.” Itu juga bahasa peri, dan kalau diperibahasakan menjadi ”Mulutmu harimaumu.”
Tapi lantaran harimau juga semakin jarang, orang sekarang ”boleh” berbuih-buih melontarkan omongan tanpa takut diterkam si ”harimau”. Coba Anda cek tagline atau janji-janji para calon pemimpin kita, begitu banyak kata-kata yang terangkum dalam bahasa peri.
Tapi bahasa peri itu hanya manis sebelum saya tergeragap bangun. Begitu bangun, saya mencoba mengingat-ingat kata-kata Pak Akil dan Mas Anas. Agaknya sih ”… potong jari-jari daun pohon di rumah saya…. Gantung Anas di pohon nanas di dekat Monas….”
Kalau di dekat Monas tidak ada tanaman nanas, ya jangan protes pada saya. Mohon maaf, saya baru terbangun dari impian indah penuh bahasa peri…. (*)

Kolom Smilokui, Suara Merdeka, 13 Oktober 2013


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Pemungut Kata dari Udara

Tuit-Tuit

  • #Cerita196:CINTA-32. Manon pulang, Eva lelap. Angin santer lewat jendela. Manon merapatkan selimut dan cium keningnya, dan menutup jendela.i 1 year ago
  • #Cerita195:GENDUT. "Rekening Arya tambah gendut. Kau juga, perutmu! Meski begitu, buatku kau tetap six-pack," ujar Eva. Manon hanya ngakak. 1 year ago
  • #Cerita194:PIKIRAN. Di dalam pikiran Manon, Eva itu Putri jelita. Bahkan wajah kusut Eva seusai bangun tidur tampak begitu menawan. 1 year ago
  • #Cerita193:GERIMIS. Manon senang senang duduk di balkon saat gerimis belum menjadi hujan. Eva tak pernah alpa menyeduhkan teh untuknya. 1 year ago
  • #Cerita192:PANIK. Ada berita pesawat jatuh. Eva panik dan menelepon Manon. "Kamu tidak di pesawat, kan?" "Aku di kamar, sayang." 1 year ago

Pilih-Pilih

%d bloggers like this: