Home » Kolom SMILOKUI » GOYANG-GOYANGAN

GOYANG-GOYANGAN

SEBENARNYA ada berapa jenis goyang di dunia ini? Oya, sebelum mengurai tentang jenis-jenisnya, apakah bergoyang itu insting manusiawi untuk mereaksi sesuatu, khususnya alunan musik?
Bisa jadi. Setahu saya, cicak di dinding kalem-kalem saja dan cool banget meski kita setel keras-keras lagu dangdut koplo. Kerbau yang berbaring di kandangnya, asyik-asyik saja melakukan aktivitas buka-pejam mata alias merem-melek ketika di dekatnya diputarkan lagu ”Bukak Sithik Joss” dari Juwita Bahar. Mulutnya memang ”bergoyang-goyang”, tapi itu lantaran dia sedang ngganyemi utawa mengunyah-ngunyah sisa rumput di mulut, bukan karena mengikuti detakan musik.
Kita mungkin pernah melihat kera atau monyet yang konon bisa sepintar manusia itu bergoyang seiring alunan musik. Itu pun karena sudah dilatih dan diperintah si pawang topeng monyet. Melakukan sesuatu berdasarkan latihan dan perintah, tentu saja bukan insting. Insting cicak, kerbau, kera tentu saja insting hewani. Bergoyang (bisa jadi) bukan insting hewani. Bebek atau itik bergoyang-goyang, itu bukan insting melainkan karakter gerakannya memang seperti yang dicontoh Zaskia Gotik. Apalagi, bila bergoyang itu insting hewani untuk mereaksi alunan musik, jangan-jangan para itik itu yang bakal bergantian mencontoh goyangan Inul Daratista, Dewi Perssik, Caisar, dan kawan-kawannya. Mereka akan sibuk memopulerkan Gonul, Gossik, Gosar kepada masyakat itik.
Jadi, bergoyang, khususnya saat mereaksi alunan musik, itu insting manusiawi? Insting itu dorongan mendadak untuk melakukan sesuatu tanpa harus dipelajari terlebih dahulu. Itu dimiliki baik manusia maupun hewan. Bayi tanpa diajari ngusel-usel mencari puting payudara ibunya. Bayi sapi tanpa diajari juga tahu caranya minum dari puting susu induknya.
Penjelasan sederhana versi saya itu perlu diterangkan untuk membedakan insting dari intuisi. Kedua hal itu mungkin dilakukan spontan dan tanpa sadar. Tapi bila insting tersebut ada dengan sendirinya, intuisi harus dibelajarkan. Lionel Messi saat hendak menendang bola ke gawang lawan, dia tidak mempertimbangkan terlalu lama mau pakai kaki kiri atau kanan, mau pakai ujung kaki atau punggung kaki, mau menendang dengan kecepatan 200 km/jam atau hanya 20 km/jam. Karena itu, orang bilang, ”hanya dalam sepersekian detik, dia harus memutuskan sesuatu”. Satu detik saja cepatnya minta ampun, apalagi sepersekiannya? Jadi, Messi mengandalkan intuisi. Tapi intuisi itu tidak menyatu dalam dirinya tanpa latihan atau belajar terus-menerus. Singkatnya, insting tak dibelajarkan, intuisi wajib dibelajarkan.

***

NAH, kembali ke soal goyang-bergoyang, apakah itu insting manusiawi?
Di Surabaya, pada acara sebuah partai, dihadirkan Soneta Girl (apa kabar girlband dangdut perempuan ini?). Lagu-lagu girlband yang pembentukannya dibidani Rhoma Irama tentu saja berciri musikal ala Bang Haji. Mereka bergoyang di panggung, tentu saja, tapi goyangannya tak jauh-jauh dari gaya Rhoma. Hanya ke kanan, ke kiri, dan pasti bukan pilihan penggemar dangdut asolole.
Panggung dibagi dua: satu sisi untuk Soneta Girl, sisi satunya untuk duduk beberapa narasumber pada sesi dialog. Salah seorang narasumber itu kiai ternama dari Kota Pahlawan. Selama Soneta Girl beraksi, tak sekali pun sang kiai melihat ke arah mereka. Satu lirikan pun tidak. Sang kiai bergeming dengan tatapan lurus ke depan. Tapi selama musik dimainkan dan lagu didendangkan, ujung kakinya bergoyang-goyang seturut bunyi kendang.
Itu sebabnya saya berpendapat, bergoyang itu insting manusiawi. Hanya saja, tersebab manusia tak puas hanya dengan mengandalkan insting, karena itu ia mengembangkannya dengan proses belajar terus-menerus sehingga insting itu menjadi intuisi.
Tak hanya itu, para pakar keilmuan bilang bahwa selain homo socius (makhluk sosial) yang sapiens (pintar), manusia juga homo ludens (makhluk yang suka bermain). Ketika bermain pun, ia tak puas hanya dengan satu permainan saja. Dan bila bergoyang bisa disebut insting manusiawi yang dikembangkan untuk memuaskan kehendak ”bermain”,  maka ia butuh beragam jenis permainan goyang-menggoyang.
Eh, rupanya ketika hanya mengekplorasi insting manusiawi berupa goyangan saja sudah bisa bikin sensasi, sampailah kita pada pertanyaan berapa jenis goyang di dunia ini. Ada goyang ngebor, goyang gergaji, goyang itik, goyang gayung, dan yang terbaru goyang tak seronok twerking ala Miley Cirus. Masih banyak lagi dan semuanya sensasional meskipun hanya sebentar tempo.
Ups, tapi maaf Pembaca, kalau saya sebut dan jelaskan semuanya, kolom ini tidak cukup. Tak bertujuan ngeles lantaran saya takut dicap bukan jago goyang, saya justru memberi kesempatan Anda bergoyang. Ya, siapa tahu perut Anda sudah bergoyang-goyang dan perlu mencari tempat untuk goyang lidah…. (*)

Kolom Smilokui, Suara Merdeka, 29 September 2013


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Pemungut Kata dari Udara

Tuit-Tuit

  • #Cerita196:CINTA-32. Manon pulang, Eva lelap. Angin santer lewat jendela. Manon merapatkan selimut dan cium keningnya, dan menutup jendela.i 1 year ago
  • #Cerita195:GENDUT. "Rekening Arya tambah gendut. Kau juga, perutmu! Meski begitu, buatku kau tetap six-pack," ujar Eva. Manon hanya ngakak. 1 year ago
  • #Cerita194:PIKIRAN. Di dalam pikiran Manon, Eva itu Putri jelita. Bahkan wajah kusut Eva seusai bangun tidur tampak begitu menawan. 1 year ago
  • #Cerita193:GERIMIS. Manon senang senang duduk di balkon saat gerimis belum menjadi hujan. Eva tak pernah alpa menyeduhkan teh untuknya. 1 year ago
  • #Cerita192:PANIK. Ada berita pesawat jatuh. Eva panik dan menelepon Manon. "Kamu tidak di pesawat, kan?" "Aku di kamar, sayang." 1 year ago

Pilih-Pilih

%d bloggers like this: