Home » Kolom SMILOKUI » GALAU MEMILIH

GALAU MEMILIH

Gadis itu galau. Keluarga besarnya ingin dia jadi guru PNS. Ibunya memang memberinya kebebasan memilih, tapi dia lebih suka anaknya berstatus PNS. Kepastian penghidupan, itulah alasan mereka.
Dia tahu, dengan menjadi guru PNS, penghidupan per bulannya sangat mungkin terjamin lewat gaji tetap. Lebih-lebih bila telah menggenggam selembar kertas sertifikasi, dia akan lebih terjamin. Atau, bila mendadak dituntut kebutuhan mendesak, dia bisa memilih jalan pintas dengan ”menyekolahkan” surat keputusan (SK) PNS-nya.
”Aku ingin menyenangkan mereka. Tapi itu bukan pilihanku. Jadi, pilihan mereka atau pilihanku?” tanyanya ketika mengakhiri cerita.
Saya ingin menjawab, ”Pilih saja pilihanmu!” Tapi kalimat itu tak terucap. Saya justru menggodanya dengan jawaban: Pilih ‘atau’ saja!”
Dia mendadak cemberut. Saya semakin menggodanya. ”Atau, kawin saja, cari laki-laki kaya yang bakal menjamin penghidupanmu tak hanya sebulan, tapi berbulan-bulan, bertahun-tahun, atau bahkan selama tujuh turunan. Keluargamu akan senang karena kau sudah terjamin.”
Mukanya semakin mengeriut. Maklum, gadis muda itu masih jomblo. Bukannya tak laku, melainkan dia masih pilih-pilih dari beberapa lelaki yang berusaha dekat dengannya.
Ah, dasar pemilih yang tak pernah mampu memilih! Tapi itu hanya ucapan batin saya. Terhadap orang yang sedang galau menentukan pilihan, saya lantas menghiburnya dengan kisah mengenai Farhan Qureshi.
Farhan begitu menyukai fotografi alam liar. Tapi ayahnya ingin dia jadi ”tukang ingsinyur”. Dia tak bisa melawan kehendak itu dan masuk ke perguruan tinggi teknik. Dia tak memiliki renjana (passion) ketika mempelajari mesin dan semua ihwal perteknikan.
Akibatnya, nilai-nilai Farhan selalu jelek. Di dalam tasnya, ada surat yang tak pernah dikirimkan. Itu surat pengajuan lamaran menjadi asisten seorang fotografer alam bebas kelas dunia. Diam-diam, Rancho, salah seorang kawan karibnya mengirimkan surat itu ke fotografer yang dituju.
Coba simak saat Farhan mengatakan niatnya mengikuti keinginan hatinya kepada sang ayah. “Gaji saya mungkin kecil. Rumah dan mobil saya mungkin kecil. Tapi aku bahagia, Ayah.”

***

CERITA saya belum habis, dia segera menyergah. ”Lagi-lagi tentang Rancho, Farhan, dan Raju. Saya sudah kebal terhadap ‘khotbah’-mu mengenai film 3 Idiots itu.”
O-oh, saya ketahuan: lebay karena mengulang-ulang film itu sebagai referensi dan ”barang jualan” saya ketika berusaha memotivasi orang lain, juga sotoy alias sok tahu padahal ilmunya cuma kisah dalam film itu doang.
Lantas, saya bercerita tentang Peter Klausen yang sedang kebingungan memilih antara langsung menuju kantor atau pergi ke apotek di kawasan Spitalgasse, Berne, Swis. Dia perlu membelikan obat antinyeri untuk istrinya tapi dia juga perlu datang tepat waktu ke kantor. Itu terjadi pada suatu senja 16 April 1905.
Bila akhirnya Peter memilih terus ke kantor, dia tak bisa membelikan obat antinyeri. Lantaran tak diobati, sakit nyeri di kaki istri Peter sangat mungkin bertambah parah. Itu akan membuat dia tak bisa ikut wisata keluarga ke Danau Jenewa. Dan jika tak pergi pada 23 Juni 1905, dia tak bakal bertemu dengan Catherine d’Epinay yang tengah berjalan-jalan di sekitar situ. Itu artinya dia tak bakal bisa mengenalkan nona itu pada putranya, Richard. Selanjutnya Richard dan Catherine tak akan menikah pada 17 Desember 1908. Anak mereka Friedrich Klausen tak akan lahir pada 8 Juli 1912. Friedrich tak akan menjadi ayah bagi Hans Klausen pada 22 Agustus 1938. Dan tanpa lelaki yang disebut terakhir itu Eropa Bersatu tak bakal terbentuk pada 1979.
”Halah, itu artinya Peter memilih ke apotek, kan? Aku sudah membacanya dari Mimpi-Mimpi Einstein karya Alan Lightman. Basi, tauuuuk?”
Ketahuan lagi bahwa sok pintar saya itu cuma mencontek dari buku orang. Tapi… ”Peter tak pernah menyadari bahwa pilihannya ke apotek bakal membuatnya jadi Kakek-Buyut seorang tokoh besar Eropa.”
Saya menunggu komentarnya tapi dia bergeming.
”Atau, bagaimana bila betapapun istri Peter tetap ke Danau Jenewa, tapi Catherine tak pernah nongol di sekitar situ, bagaimana?”
”Tak akan pernah ada Hans Klausen.”
”Nah, selalu ada kemungkinan lain, bukan? Bakal ada atau tidak adanya Hans, kepergian Peter ke apotek untuk membeli obat itu harus disimpulkan bahwa dia memilih itu lantaran tak ingin istrinya menderita karena dia sangat menyayanginya, dan dia bahagia oleh hal itu.”
”Jadi, menurutmu aku harus memilih yang kusukai?”
”Apa perlu aku bercerita lagi tentang Farhan dan Peter Klausen? Bukan kamu yang bosan, melainkan pembaca, tauuuuuk?” (*)

Kolom Smilokui, Suara Merdeka, 22 September 2013


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Pemungut Kata dari Udara

Tuit-Tuit

  • #Cerita196:CINTA-32. Manon pulang, Eva lelap. Angin santer lewat jendela. Manon merapatkan selimut dan cium keningnya, dan menutup jendela.i 1 year ago
  • #Cerita195:GENDUT. "Rekening Arya tambah gendut. Kau juga, perutmu! Meski begitu, buatku kau tetap six-pack," ujar Eva. Manon hanya ngakak. 1 year ago
  • #Cerita194:PIKIRAN. Di dalam pikiran Manon, Eva itu Putri jelita. Bahkan wajah kusut Eva seusai bangun tidur tampak begitu menawan. 1 year ago
  • #Cerita193:GERIMIS. Manon senang senang duduk di balkon saat gerimis belum menjadi hujan. Eva tak pernah alpa menyeduhkan teh untuknya. 1 year ago
  • #Cerita192:PANIK. Ada berita pesawat jatuh. Eva panik dan menelepon Manon. "Kamu tidak di pesawat, kan?" "Aku di kamar, sayang." 1 year ago

Pilih-Pilih

%d bloggers like this: