Home » Kolom SMILOKUI » WANI PIRA?

WANI PIRA?

USTADZ Solmed ramai dibicarakan sebagai pendakwah yang memasang tarif honor sangat tinggi. Banyak yang gemas dan mencerca sikap matre sang ustadz.
Ketika kegemasan diluapkan jadi pembicaraan, maka bak fenomena gunung es, muncullah gunjingan ihwal ustadz-ustadz berhonor mahal yang tak mau mengisi tausiah bila ”ongkos administrasi”-nya cupet. Mereka lantas disebut ustadz kapitalis lantaran dakwah dijadikan kapital, jadi komoditas bisnis. Mereka bahkan dianggap mengomersialkan ayat-ayat Allah.
Bolehlah seorang pendakwah menerima bayaran dari dakwahnya? Para ahli agama berpendapat dengan mengutip beberapa ayat Alquran (Surat Huud ayat 29 dan 51; dan Surat Asy-Syu’ara ayat 109) bahwa para pendakwah tidak meminta upah atas dakwahnya sebab upah itu semata-mata dari Allah. Tapi mereka juga mengutip hadis yang membolehkan mereka menerima upah, dengan syarat: dakwah sang dai itu satu-satu aktivitas hidupnya sehingga dia diperkenankan menerima upah semata-mata untuk keberlanjutan dakwahnya.
Kalau disederhanakan, dai tidak boleh meminta tapi boleh menerima upah atau honor atau bayaran. Kata ”meminta” itu subjeknya aktif, sedangkan ”menerima” subjeknya pasif. Dari situ jelas, seorang pendakwah semestinya tidak menentukan tarif bayaran dari dakwahnya.
Tapi seorang dai itu juga manusia yang harus memenuhi kebutuhan hidupnya. Kalau dia punya istri dan anak, dia juga harus memenuhi kebutuhan hidup mereka. Mengandalkan ”pemberian” amplop sekadarnya atau seikhlasnya dari pihak yang mengundangnya, mana cukup? Selain jumlahnya tidak menentu, tak setiap hari ada undangan. Padahal kebutuhan hidup itu harus selalu dipenuhi saban hari.
Ketika saya kecil, di desa saya ada beberapa kiai yang memilih jalan dakwah dengan mulang ngaji. Tentu saja mereka tidak meminta para jamaah membayarnya. Benar, mereka menerima ”amplop” saat memimpinĀ manakiban atau memberi ceramah pernikahan. Tapi Anda bisa menebak, isi amplop itu pasti tidak tebal. Pada malam menjelang Idul Fitri, mereka juga menerima zakat fitrah sebab bagaimanapun juga mereka termasuk mustahik (penerima zakat) untuk golongan orang yang berjihad di jalan Allah.
Mereka bisa hidup, bahkan tingkat kehidupannya lebih bagus ketimbang sebagian besar orang sedesanya. Dan hanya merekalah yang bisa mengirim anak-anaknya ke pesantren yang pasti membutuhkan biaya tidak sedikit. Anak-anak itu nantinya diharapkan bakal gantian bersyiar agama sepeninggal mereka. Untuk hidup dan biaya pesantren anak-anak mereka tentu saja bukan dari amplop ”seikhlasnya” yang datang cuma sewaktu-waktu itu, melainkan (kebetulan) mereka punya banyak sawah dan pekarangan. Jadi, mereka berdakwah, tapi hidup dari pertanian, bekerja sebagai petani.

***

TIBALAH saat anak-anak mereka mentas dari pondok pesantren. Sudah punya bekal ilmu, dan siap menggantikan mereka yang mulai uzur. Tentu saja tidak semua anak itu punya ”bakat” dai. Tapi tetap ada sebagian yang melanjutkan jalan dakwah ayah mereka. Dia mulang ngaji, menjadi imam shalat, juru khotbah Jumat, pendoa dalam selamatan. Ya, tak begitu berbeda dengan ayah mereka, hidup mereka mengandalkan hasil pertanian dari sawah warisan. Tentu saja luas sawah garapan itu hanya sepersekian dari keseluruhan milik orang tua mereka lantaran sudah dibagi-bagi dengan saudara kandung.
Tapi lalu tiba pula mereka harus menikah, dan punya anak. Hanya mengandalkan hasil sawah, dan sesekali amplop alakadarnya itu, datanglah dilema antara terus berdakwah dan bekerja sebagai petani, atau mencari penghidupan lain. Di desa saya saat itu, sama seperti desa-desa sekitarnya, demam warteg mulai menggejala. Keberhasilan satu-dua pewarteg mengajak yang lainnya ikut ”berdakwah di jalan dandang nasi”. Yang punya sawah, menggadaikan atau menjualnya untuk modal, termasuk orang-orang yang sebelumnya memilih mulang ngaji.
Apakah juru dakwah desa yang saya ceritakan itu tergoda ihwal duniawi? Kita tidak berhak menilai pilihan orang dalam menjalani hidup. Yang jelas, dakwah buat sosok-sosok yang saya ceritakan itu bukan pekerjaan, melainkan panggilan mulia untuk mengajarkan nilai-nilai keagamaan. Pekerjaan mereka itu bertani, dan ketika hasil pekerjaan sebagai petani tak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup, mereka mencari pekerjaan lain yang lebih menjanjikan. Sayang sekali tidak mungkin membuka warteg di kampung karena setiap rumah pasti sudah memasak sendiri. Andai para juru dakwah itu bisa bekerja lain yang lebih baik dari bertani dan tetap di kampung, saya yakin mereka akan tetapĀ mulang ngaji.
Jadi, menurut saya, Ustadz Solmed menganggap dakwahnya itu pekerjaan, jadi dia perlu bayaran atas pekerjaannya. Karena itu pekerjaan, apalagi bila dia menganggapnya profesi, maka dia perlu pula menentukan tarif yang profesional. Ya, jangankan Ustadz Solmed yang manusia, jin saja tawar-menawar bayaran, kan? Kalau tidak percaya, ingat-ingatlah iklan rokok yang menampilkan jin dalam busana Jawa, dengan senyum dikulum bilang, ”Wani pira?” (Berani berapa?). Terhadap jin sih kita bisa membayarnya pakai daun atau uang monopoli. Tapi terhadap manusia yang suka pakai jins…? (*)

Suara Merdeka, Kolom Smilokui, 25 Agustus 2013


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Pemungut Kata dari Udara

Tuit-Tuit

  • #Cerita196:CINTA-32. Manon pulang, Eva lelap. Angin santer lewat jendela. Manon merapatkan selimut dan cium keningnya, dan menutup jendela.i 1 year ago
  • #Cerita195:GENDUT. "Rekening Arya tambah gendut. Kau juga, perutmu! Meski begitu, buatku kau tetap six-pack," ujar Eva. Manon hanya ngakak. 1 year ago
  • #Cerita194:PIKIRAN. Di dalam pikiran Manon, Eva itu Putri jelita. Bahkan wajah kusut Eva seusai bangun tidur tampak begitu menawan. 1 year ago
  • #Cerita193:GERIMIS. Manon senang senang duduk di balkon saat gerimis belum menjadi hujan. Eva tak pernah alpa menyeduhkan teh untuknya. 1 year ago
  • #Cerita192:PANIK. Ada berita pesawat jatuh. Eva panik dan menelepon Manon. "Kamu tidak di pesawat, kan?" "Aku di kamar, sayang." 1 year ago

Pilih-Pilih

%d bloggers like this: