Home » Kolom SMILOKUI » PERAYAAN

PERAYAAN

BILA perayaan itu wujud rasa syukur, maka sebagian besar dari kita adalah orang-orang yang pandai bersyukur. Pasalnya, hidup kita diisi oleh perayaan demi perayaan.
Kita merayakan tanggal kelahiran dengan mengundang orang-orang dalam sebuah pesta atau hanya mentraktir mereka makan-minum di warung atau restoran. Bila kita telah berkeluarga, kita merayakan hal sama untuk istri/suami dan anak-anak kita.
Sebelum memasuki bahtera rumah tangga, beberapa perayaan juga dilakukan. Jadian pacaran, dirayakan. Bertunangan, dipestakan, dan berpuncak pada perhelatan pernikahan. Bayangkan bila seseorang tidak hanya sekali berpacaran, bertunangan, atau menikah, berapa perayaan dilangsungkan?
Lalu saat istri hamil, beberapa ritus perayaan dilakukan: upacara empat bulan, upacara tujuh bulan. Begitu si jabang bayi lahir, beberapa syukuran digelar, termasuk akikah dengan menyembelih kambing.
Dalam pekerjaan, kali pertama diterima sebuah kantor atau perusahaan, kita undang orang-orang untuk selamatan. Terima gaji pertama, alhamdulillah, lalu undang beberapa orang untuk mensyukurinya. Gaji naik, wasyukurillah, kita ajak beberapa teman merubung tumpeng yang kita buat. Naik jabatan, apalagi. Bahkan ketika harus mutasi atau pindah tempat kerja, perpisahan dengan kolega pun dirayakan.
Itu baru perayaan yang bersifat personal atau individual. Lantaran kita itu makhluk sosial dan masyarakat juga punya banyak tradisi merayakan sesuatu, kita juga terlibat di dalamnya. Di desa, sekadar contoh saja, ada tradisi perayaan sedekah bumi, atau sedekah laut yang desanya ada di pinggir laut. Perayaannya bisa sangat meriah dengan nanggap wayang, ketoprak, atau grup dangdut.
Tahun Baru atau peringatan HUT RI, juga dirayakan secara besar-besaran. Lalu, yang beberapa hari ini sudah terasa benar degupnya adalah perayaan Hari Lebaran. Yang hampir serupa, perayaan Natal dan Imlek.

***

YA, perayaan adalah wujud syukur yang selalu berkaitan dengan kebahagiaan, atau setidak-tidaknya kegembiraan. Mungkin hanya selamatan untuk mendoakan arwah seseorang yang sudah meninggal saja yang perayaannya bukan ekspresi kegembiraan. Jadi, kalau dalam setahun saja, begitu sering kita merayakan sesuatu, bolehlah disebut bahwa sebagian dari kita adalah orang-orang yang bergembira.
Tapi mengekspresikan kegembiraan itu butuh biaya. Tak ada perayaan yang gratis. Itu sebabnya bentuk perayaan masing-masing orang tidak sama.
Ada yang merayakan tanggal kelahiran (saya lebih suka pakai istilah itu ketimbang ulang tahun, sebab yang diulang bukan tahun melainkan tanggal kelahiran seseorang) cukup berdua dengan pacar atau  istri dan anak-anak dengan menikmati hidangan sederhana, tapi ada pula yang perlu membuat pesta megah-meriah sekaligus mengundang para pekerja media massa.
Tapi, sederhana atau gegap-gempita, semua butuh biaya. Kegembiraan memang tak selalu berkaitan dengan uang, tapi perayaannya hampir selalu membutuhkan biaya. Bahkan bila wujud perayaan itu sama sekali tidak membuat kita gembira. Ambil contoh, untuk kemeriahan sedekah bumi, pihak desa memutuskan mengundang penyanyi dangdut koplo. Tentu saja bila kita tidak menyukai jenis hiburan itu, kita tidak perlu ikut merayakannya. Bukankah kita memang tidak merayakan sesuatu yang membuat kita tidak bergembira? Meski tidak merayakannya, kita tetap harus mengisi kertas dalam map yang disodorkan perangkat desa atau kelurahan.
Benar, untuk bisa bergembira, kita memang perlu berkorban. Dan kita tak hanya menyadari konsepnya, tapi juga mempraktikkannya benar-benar. Untuk bisa bergembira dengan keluarga, sanak-saudara, dan kerabat di kampung halaman pada saat Lebaran, kita harus melakukan banyak pengorbanan, kita membutuhkan banyak biaya.
Ada orang bilang, ”Ah, uang kan bisa dicari. Untuk mensyukuri kegembiraan, kenapa harus sayang keluar duit? Toh Lebaran hanya setahun sekali….”
Ya, Lebaran hanya setahun sekali, sebab bila momentum itu berlangsung setiap bulan, lalu kapan kita bekerja mencari uang untuk mengongkosi biaya berlebaran? Begitu pula, perulangan tanggal kelahiran itu pun setahun sekali (kecuali yang empat tahun sekali lantaran lahir tanggal 29 Februari), ulang tanggal perkawinan juga setahun sekali.
Kalau dihitung dengan banyak perayaan lain, jangan-jangan kita melewatkan satu tahun dengan banyak perayaan. Dan karena perayaan itu wujud syukur dan ekspresi kegembiraan, saya ingin membayangkan bahwa diri kita ini orang-orang yang selalu bersyukur dan bergembira. (*)

Suara Merdeka, Kolom Smilokui, 4 Agustus 2013, edisi menjelang Lebaran pada 8 Agustus 2013

 


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Pemungut Kata dari Udara

Tuit-Tuit

  • #Cerita196:CINTA-32. Manon pulang, Eva lelap. Angin santer lewat jendela. Manon merapatkan selimut dan cium keningnya, dan menutup jendela.i 1 year ago
  • #Cerita195:GENDUT. "Rekening Arya tambah gendut. Kau juga, perutmu! Meski begitu, buatku kau tetap six-pack," ujar Eva. Manon hanya ngakak. 1 year ago
  • #Cerita194:PIKIRAN. Di dalam pikiran Manon, Eva itu Putri jelita. Bahkan wajah kusut Eva seusai bangun tidur tampak begitu menawan. 1 year ago
  • #Cerita193:GERIMIS. Manon senang senang duduk di balkon saat gerimis belum menjadi hujan. Eva tak pernah alpa menyeduhkan teh untuknya. 1 year ago
  • #Cerita192:PANIK. Ada berita pesawat jatuh. Eva panik dan menelepon Manon. "Kamu tidak di pesawat, kan?" "Aku di kamar, sayang." 1 year ago

Pilih-Pilih

%d bloggers like this: