Home » Kolom SMILOKUI » MAKLUMAT, EH MAKLUMLAH…

MAKLUMAT, EH MAKLUMLAH…

”Barangsiapa dapat menangkap pembuang sampah akan diberi hadiah. Ttd Lurah.”
MAKLUMAT itu ditulis di papan berukuran sekitar 40 cm x 30 cm. Dibuat dobel dan dipaku berpunggungan pada sebatang pohon kecil di tepi jalan kecil yang ramai, pemaklumat berharap pesannya terbaca pelintas dari dua arah.
Maklumat itu tidak menonjol. Yang segera menyergap mata pelalu-lalang adalah tumpukan sampah di bawah pohon kecil itu. Alih-alih menghilang, sampah itu semakin banyak. Itu pengamatan sepintas saya ulang-alik melintasi jalan tersebut selama beberapa hari.
Maklumat itu memang tidak menonjol, tapi dalam jarak sepembuangan sampah, si pembuang pasti bisa membaca bila dia tidak buta huruf. Apa yang dia pikirkan saat membuang sampah? Saya membayangkan orang itu ragu-ragu, tengak-tengok, dan ketika tak melihat gelagat ”calon penangkap” di sekitarnya lantas tangannya ”mak-wuer” sebelum ngeloyor. Atau, dia tersenyum kecil saat membaca papan maklumat, dan pikirannya teringat selorohan orang-orang: ”Ah, peraturan ada untuk dilanggar, setidak-tidaknya disiasatilah. Lagian nggak ada orang inih….”
Peraturan dibuat dan diberlakukan untuk ditegakkan, bukan untuk dilanggar atau dicari cara melancunginya. Tapi di dekat rambu huruf P tersilang, banyak kendaraan parkir. Ada rambu huruf S tersilang lengkap dengan ketentuan jaraknya, tapi kendaraan berhenti, bahkan ngetem di situ.
Padahal, banyak rambu atau maklumat dibuat tidak melulu untuk pencegahan, tapi sudah untuk penyelesaian. Di suatu tempat yang parkiran kendaraannya bikin macet lalu-lintas, dipasanglah rambu P tersilang. Maklumat di pohon itu juga pasti dibuat lantaran mendadak banyak sampah di bawahnya. Sebagai pelintas rutin jalan itu, saya tahu umur maklumat itu sedikit lebih muda dari usia sampah yang ada di situ.
Begitu pula, pemilik bangunan yang kesal lantaran pagar bangunannya beraroma selingkung alias khas dari parfum berbahan urin manusia, dia membuat tulisan dengan cat: Dilarang kencing di sini! Atau, bila kedongkolannya sudah sampai tingkat dewa, tulisan itu berbunyi: Hanya anjing yang kencing di sini!

***

MANJUR bin mujarabkah ungkapan amarah si pemilik bangunan? Datang saja ke tempat-tempat yang ada tulisan seperti itu, Anda akan bisa menyimpulkan sendiri. Para penyebar parfum bermerek Urine d’Homme alias air kencing manusia itu kadangkala punya selera humor yang sayang sekali tak bakal membuat tertawa pemilik bangunan atau pelintas yang harus menutup hidung.
Apa wujud humornya? Dia tidak kencing di bawah atau di area bertulisan, tapi di sisi kanan atau kirinya. Selera humor itu mirip kepunyaan teman-teman saya semasa kuliah. Bila saya menempelkan secarik kertas di pintu kamar seorang kawan kos yang berisi permintaan untuk membangunkan saya pada jam tertentu, sangat mungkin tak ada gedoran pintu atau panggilan nama saya secara berulangan. Dan di kertas itu, saya menjumpai tulisan baru, persis di bawah tulisan saya: ”Hei bangun, sudah jam …. Katanya mau kuliah?”
Meskipun mengkal lantaran terpaksa bolos kuliah, saya tertawa. Tapi saya yakin, Pak Lurah yang ber-ttd alias bertanda tangan pada papan maklumat itu tidak bisa tertawa melihat sampah semakin menumpuk; pemilik bangunan yang tak suka digratisi ”parfum ajaib” itu mungkin beristigfar beberapa kali sambil membuang napas panjang.
Itu baru maklumat (boleh pula disebut ancaman tertulis) yang sanksinya tak harus berhubungan dengan hotel prodeo alias bui, dan paling banter tilang, yang konon menurut sahibul hikayat, bisa dilunasi di tempat. Ya, jangankan yang sanksinya seperti itu, yang ancaman hukumannya berbilang tahun saja masih banyak yang berani melanggar. Lihat saja, kurang apa KPK dengan Pedang Demokles-nya menebas siapa pun yang melakukan rasuah? Tapi setiap saat kita dengar pencokokan pelaku rasuah.
Apakah lantaran para pelaku rasuah itu juga punya selera humor tertentu? ”Ah, Bro, ndak perlu cemen! Paling juga berapa tahun inih. Dendanya juga ndak ada sekuku hitam inih. Ndak bakal jadi kere. Kita bisa diperkarakan, tapi ndak mungkin, benar ndak mungkin, inih taruhannya kuku saya, kita ndak mungkin diper-kere-kan. Ndak percaya? Ya wis takbuktiin, coba berapa denda prekara Pak Jenderal itu? Iya toh?” (Kalau menyimak cara bicara tokoh kita ini, kira-kira orang mana, ya? Kalau tebakan saya sih, dia orang udik yang kemetropolis-metropolisan, hahaha….)
Itu sebabnya, saya lebih suka para perasuah alias koruptor itu dikerekan (baca: dimiskinkan). Mereka mungkin akan kehilangan selera humor lantaran sibuk memikirkan bayar utang atau perut yang minta diisi. Mana ada orang mau hidup tanpa pernah bisa tertawa?
Oya, untuk Pak Lurah yang bertanda tangan di papan maklumat itu: ”Pak, hari gini memang harus ada iming-iming hadiah, ya? Mungkin gitu kali ya, Pak? Jangankan menangkap pembuang sampah yang bisa secerdik tikus, agar banyak yang datang ke pengajian, panitia pun sesekali mengiming-imingi doorprize, kan? Tapi naga-naganya saya kok masih belum bisa memakluminya….” (*)

Suara Merdeka, Kolom Smilokui, 8 September 2013


1 Comment

  1. Ayo posting lagi pak, saya tertarik baca artikelnya, bagus.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Pemungut Kata dari Udara

Tuit-Tuit

  • #Cerita196:CINTA-32. Manon pulang, Eva lelap. Angin santer lewat jendela. Manon merapatkan selimut dan cium keningnya, dan menutup jendela.i 1 year ago
  • #Cerita195:GENDUT. "Rekening Arya tambah gendut. Kau juga, perutmu! Meski begitu, buatku kau tetap six-pack," ujar Eva. Manon hanya ngakak. 1 year ago
  • #Cerita194:PIKIRAN. Di dalam pikiran Manon, Eva itu Putri jelita. Bahkan wajah kusut Eva seusai bangun tidur tampak begitu menawan. 1 year ago
  • #Cerita193:GERIMIS. Manon senang senang duduk di balkon saat gerimis belum menjadi hujan. Eva tak pernah alpa menyeduhkan teh untuknya. 1 year ago
  • #Cerita192:PANIK. Ada berita pesawat jatuh. Eva panik dan menelepon Manon. "Kamu tidak di pesawat, kan?" "Aku di kamar, sayang." 1 year ago

Pilih-Pilih

%d bloggers like this: