Home » Kolom SMILOKUI » KOK BISA

KOK BISA

“KOK bisa, seorang profesor, guru besar perguruan tinggi ternama, takluk oleh suap?” gugat seorang kawan setelah dirinya mendengar penangkapan Prof Rudi Rubiandini oleh KPK lantaran suap dari Kernel Oil, beberapa waktu lalu.
Seingat saya, dia sering bertanya, eh bukan, lebih tepatnya menggugat, kasus-kasus tertentu yang ramai dibicarakan. Pasalnya, ”kok bisa” tak termasuk kata tanya seperti ”kenapa” atau ”mengapa” yang membutuhkan jawaban berupa alasan tindakan seseorang. ”Kok bisa” mengandung aspek ketidakpercayaan atau bahkan gugatan atas tindakan seseorang. Jadi, dalam hal ini, dia tidak sedang menanyakan alasan dari tindakan sang profesor. Dia tidak percaya sang profesor bisa menerima disuap, lantas menggugatnya.
”Kok bisa, pengadaan Alquran dikorupsi padahal orang-orangnya itu kan melek agama?”
Itu salah satu gugatannya yang lain. Kalau jumlah ”kok bisa”-nya sudah mencapai seribu, nanti saya usulkan ke Muri untuk memberinya gelar Mister Kok Bisa, hahaha….
Saya yakin, tak hanya teman saya yang bereaksi seperti itu terhadap kasus-kasus yang agaknya susah dinalar. Anda mungkin juga bereaksi serupa. Umumnya, lontaran gugatan itu hanya jadi pembuka obrolan ringan yang mungkin tidak seilmiah analisis para profesor intelektual itu.
Dalam topik obrolan santai tentang Prof Rudi, saya bilang, ”Ya bisa dong. Dalam banyak hal, sebagian besar kita ini, terutama orang Indonesia, adalah manusia serbabisa.”
Lantas, agar pas dengan topik, saya mengobrolkan pendidikan di Indonesia yang sering tidak nyambung dengan profesi atau pekerjaan seseorang. ”Seorang teman berkuliah serius pada Jurusan Hukum Pidana. Dia ingin jadi pengacara. Tapi lantaran berbagai alasan, termasuk kekurangan modal untuk mencari lisensi pengacara, dia banting setir jadi salesman. Jadi, salesman itu butuh ilmu tentang marketing. Itu hal yang sama sekali asing sebelum dia benar-benar terjun sebagai pedagang keliling. Dia mengaku tak pernah memakai sama sekali pengetahuannya mengenai ilmu hukum pidana. Kalau lihat kesuksesannya sekarang, ilmu marketingnya boleh dibilang bagus. Dan itu tidak dia dapat dari bangku kuliah. Ternyata bisa, kan?”
Saya beri contoh-contoh lain seperti guru bahasa Inggris yang ijazah S-1-nya Pendidikan Bahasa Prancis. Lantaran, tak banyak SMA yang memiliki mata pelajaran bahasa Prancis, dia dikarbit jadi guru bahasa Inggris. Dan bisa!
”Ah, kau menyederhanakan persoalan. Seolah-olah bidang studi itu berkaitan dengan profesi seseorang…,” sergah sang kawan.
”Mungkin saya menyederhanakan persoalan. Tapi idealnya, seseorang bekerja dengan mengembangkan keilmuan yang dia pelajari di lembaga pendidikannya.”
”Berarti kau termasuk yang tidak ideal, dong? Kau kuliah di institut pendidikan dan keguruan, dan idealnya jadi guru, kok bisa jadi wartawan?”

***

WADUH, skakmat ini! Saya tersipu-sipu, tapi dalam obrolan ringan, saya berhak mengeluarkan ajian ngeles. ”Ya, memang tidak ideal, tapi seperti saya bilang, kita ini manusia serbabisa. Aku termasuk salah seorang itu, kan?”
Kami tertawa, dan sang teman itu rupanya masih ingin menskakmat saya. ”Karena serbabisa, kau bisa jadi apa saja, termasuk jadi juri lomba MC, kan?
Aha, saya ingat, begitu dia tahu saya jadi juri lomba MC di sebuah perguruan tinggi, jurus ”kok bisa”-nya dia lemparkan ke arah saya. Saat itu saya mengakui, ilmu public speaking saya nol, seumur-umur sekali jadi MC pun tidak pernah, lantas sadar diri tidak menguasai bidang MC, kok bisa saya he-eh saja diminta jadi juri?
Saat itu jurus ”kok bisa” miliknya tidak saya lawan dengan jurus ”manusia serbabisa”. Saya hanya ngeles, ”Saya kan cuma juri pocokan, dan buktinya lomba oke-oke saja. Bahkan, dalam interaksi dengan peserta yang dibuat model Indonesian Idol, gaya saya tidak kalah kok dengan Ahmad Dhani atau Anang Hermansyah. Gaya kemaki-nya, hahaha….”
Maaf Pembaca nan bijaksana, saya ceritakan obrolan ringan untuk kasus serumit korupsi itu karena sebagian besar dari kita hanya mampu mengobrolkannya. Analisis para pakar seputar penanggulangan korupsi sudah banyak berseliweran di media massa. Umumnya analisis itu sangat ilmiah dan mengungkapkan tips-tips ideal penanggulangan penyakit rasuah itu. KPK juga sudah all-out memberantasnya.
Tapi laku rasuah tetap jalan. Dan di dunia ”serbabisa”, siapa saja bisa mengakali sorot mata KPK. Kalau ada yang tertangkap, para pelaku rasuah itu bisa saja berkoar-koar atau hanya membatin, ”Oh, banyak yang lain dan aku yang kejatuhan nahas….”
Kalau teman saya mendengar keluhan sang pelaku rasuah itu, mungkin sekali dia akan segera mengeluarkan jurusnya. ”Kok bisa dia bilang nahas? Apakah bila tidak ketahuan dia menganggap dirinya orang yang beruntung?”
Ya, seperti teman saya itu, kita sering ingin menggugat meski hanya berupa ”kok bisa.” (*)

Suara Merdeka, Kolom Smilokui, 1 September 2013


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Pemungut Kata dari Udara

Tuit-Tuit

  • #Cerita196:CINTA-32. Manon pulang, Eva lelap. Angin santer lewat jendela. Manon merapatkan selimut dan cium keningnya, dan menutup jendela.i 1 year ago
  • #Cerita195:GENDUT. "Rekening Arya tambah gendut. Kau juga, perutmu! Meski begitu, buatku kau tetap six-pack," ujar Eva. Manon hanya ngakak. 1 year ago
  • #Cerita194:PIKIRAN. Di dalam pikiran Manon, Eva itu Putri jelita. Bahkan wajah kusut Eva seusai bangun tidur tampak begitu menawan. 1 year ago
  • #Cerita193:GERIMIS. Manon senang senang duduk di balkon saat gerimis belum menjadi hujan. Eva tak pernah alpa menyeduhkan teh untuknya. 1 year ago
  • #Cerita192:PANIK. Ada berita pesawat jatuh. Eva panik dan menelepon Manon. "Kamu tidak di pesawat, kan?" "Aku di kamar, sayang." 1 year ago

Pilih-Pilih

%d bloggers like this: