Home » Kolom SMILOKUI » (BUKAN) PULANG KAMPUNG

(BUKAN) PULANG KAMPUNG

LEBARAN tahun ini, seperti banyak orang lain, saya mudik. Kata ”mudik” yang konon berasal dari tradisi masyarakat Betawi zaman baheula itu diartikan sebagai ”menuju udik”. Itu juga arti ”mudik” dalam KBBI, selain ”pulang kampung”. ”Udik” berarti ”daerah hulu sungai”, ”pedalaman”, ”kampung”, atau ”desa”. Dan, sama seperti banyak orang lain, saya mudik, tapi menolak dianggap orang udik; saya pulang kampung, tapi tentu saja menyangkal disebut kampungan. Setahu saya, Thukul Arwana yang bangga sebagai orang ndesa juga tak pernah menyebut dirinya orang udik, hahaha….
Tapi apakah saya layak menyebut diri bahwa saya pulang kampung? Mungkin lebih tepatnya mengunjungi bekas kampung. Sebab, bila dilihat dari sisi administrasi pemerintahan, tempat yang saya datangi semasa Lebaran itu sudah bukan kampung saya lagi. Nama kampung atau desa di KTP saya sudah berganti belasan tahun lalu.
Beruntunglah ada istilah kampung halaman yang kata KBBI adalah daerah atau desa kelahiran. Jadi, lebih pas saya menyebutnya sebagai kunjungan atau napak tilas ke kampung halaman. Di situlah saya lahir dan tumbuh hingga usia remaja sebelum hijrah ke tempat lain.
Mungkin pula, dibandingkan sebagian orang lain, sejauh-jauhnya saya pergi atau selama-lamanya saya meninggalkan kampung halaman itu, saya masih punya ikatan dengannya. Ibu, saudara kandung, dan kerabat masih tinggal di situ. Sebab, ada orang-orang tertentu yang tak lagi memiliki orang yang didatangi di kampung halamannya.
Hanya saja, dengan hanya ikatan seperti itu, interaksi saya dengan kampung halaman tidak kuat. Saya tak punya andil dalam perubahan yang terjadi di kampung halaman. Sebuah kampung itu bukan situs purbakala semacam candi yang kalaupun berubah butuh waktu berabad-abad atau bahkan bermilenium-milenium. Perubahannya bisa sangat cepat. Karena itu, setiap kali datang, saya mirip orang asing yang menjumpai sesuatu yang selalu berbeda.
Ya, saya tak lagi menjumpai bantaran sungai yang mirip rawa kecil penuh perdu, tanaman krangkungan, keong, kadal, atau ular air, sebab di daerah kekuasaan tanaman liar dan hewan air itu telah bertakhta ”istana manusia” dalam ujud bangunan yang sebagian permanen. Atau, pekarangan tak lagi ditumbuhi mangga, jambu, atau pisang, tapi ”tumbuhan” dari batu dalam bentuk rumah. Gang-gang yang semasa saya kanak-kanak bisa untuk main gobak sodor atau bentengan, kini seseorang harus berjalan satu demi satu ketika melaluinya. Pasalnya, pagar rumah orang sudah ikut mengambil jatah wahana permainan masa kecil saya dan teman-teman.
Ya, banyak yang berubah di kampung halaman saya, dan saya tak pernah punya andil.

***

SAYA tahu, perubahan sebuah kampung adalah keniscayaan. Tentu saja tak semata perubahan yang bersifat fisikal, tapi juga perubahan psikologis orang-orangnya yang berhubungan dengan gaya hidup dan cara berpikir. Dengan orang-orang yang telah berubah gaya hidup dan cara berpikirnya itulah saya berinteraksi selama beberapa hari Lebaran.
Benar, sebagian besar di antara mereka adalah teman main kelereng, mancing ikan mujair di tambak, mencari genggong (jangkrik besar) di sawah; mereka adalah teman seperguruan ngaji, satu SD, satu madrasah diniyah, teman setikar saat tidur di mushala. Selanjutnya, sebagian dari kami pergi dari kampung halaman dan beranak-pinak, sebagian lainnya menetap dan juga beranak-pinak. Sama seperti mereka, gaya hidup dan cara berpikir saya mengalami perubahan. Apa yang terjadi ketika orang-orang yang sudah saling berubah itu harus berinteraksi?
Selama ini, saya belum mengalami kesulitan berinteraksi. Apalagi, percakapan dalam interaksi itu masih seputar pekerjaan, jumlah anak, dan sesekali diselingi kenangan masa kecil yang telah hilang.
Tapi ada beberapa momentum yang membuat saya termehek-mehek. Kalau hanya dimintai pendapat mengenai persoalan tertentu, saya masih bisa urun opini. Namun bagaimana bisa saya memenuhi permintaan beberapa kerabat agar saya bisa menghentikan kebiasaan berjudi salah seorang kerabat kami? Saya mengenal si pejudi itu, tapi itu dulu, semasa kami sama-sama belum disunat. Padahal, selama bertahun-tahun, tak setiap Lebaran kami bisa bertemu. Tanpa saya ceritakan kelanjutannya, Anda pasti sudah menerka hasilnya.
Saya menceritakan hal itu lantaran saya yakin, yang mengalami ketermehek-mehekan ketika pulang ke kampung halaman itu tidak hanya saya seorang. Sebagian dari Anda mungkin mengalami hal serupa. Yang saya tahu, seseorang yang tak berkontribusi apa pun dalam suatu perubahan masyarakat atau kelompok tertentu, dia bukan orang tepat sebagai penyelesai persoalan, lebih-lebih persoalan yang menyangkut manusia atau orang-orang. Seorang pemimpin, misalnya, yang tak tahu siapa yang dia pimpin, hanya akan mengalami kepilonan. Orang-orang itu bukan kambing-kambing yang ketika penggembalanya berhalangan sebentar atau tetap, bisa digembalakan oleh pengembala baru. (*)

Suara Merdeka, Kolom Smilokui, 18 Agustus 2013


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Pemungut Kata dari Udara

Tuit-Tuit

  • #Cerita196:CINTA-32. Manon pulang, Eva lelap. Angin santer lewat jendela. Manon merapatkan selimut dan cium keningnya, dan menutup jendela.i 1 year ago
  • #Cerita195:GENDUT. "Rekening Arya tambah gendut. Kau juga, perutmu! Meski begitu, buatku kau tetap six-pack," ujar Eva. Manon hanya ngakak. 1 year ago
  • #Cerita194:PIKIRAN. Di dalam pikiran Manon, Eva itu Putri jelita. Bahkan wajah kusut Eva seusai bangun tidur tampak begitu menawan. 1 year ago
  • #Cerita193:GERIMIS. Manon senang senang duduk di balkon saat gerimis belum menjadi hujan. Eva tak pernah alpa menyeduhkan teh untuknya. 1 year ago
  • #Cerita192:PANIK. Ada berita pesawat jatuh. Eva panik dan menelepon Manon. "Kamu tidak di pesawat, kan?" "Aku di kamar, sayang." 1 year ago

Pilih-Pilih

%d bloggers like this: