Home » Kolom SMILOKUI » AKU MEMAAFKANMU

AKU MEMAAFKANMU

AMON Leopold Goeth punya kebiasaan berolahraga ekstrem setiap bangun tidur. Lelaki kelahiran Wina, Austria itu seorang SS-Hauptsturmfuhrer (Perwira Nazi berpangkat Kapten) yang mengomandani Kamp Konsentrasi Krakow-Plaszow di Polandia mulai Februari 1943. Sebagai komandan, dia diberi tempat tinggal istimewa: sebuah vila berbalkon yang berada di tempat tinggi.
Di balkon itulah dia menunaikan olahraga ekstremnya. Begitu bangun tidur, bertelanjang dada, dia menuju balkon sambil menyandang senapan. Matanya memandang ke sekeliling. Bila menemukan seorang tawanan Yahudi yang lamban bekerja atau tengah rehat, laras senapannya langsung diarahkan ke sang tawanan dan jari-jari Amon langsung menarik picu.
Maka, dalam waktu yang tak lama, terdengar beberapa kali letusan. Di tanah terbuka, tempat para tawanan itu bekerja, sudah tergolek beberapa tubuh dalam simbahan darah. Sejenak, dengan tanpa ekspresi, Amon memandang ke tubuh-tubuh tergolek itu. Dengan tanpa ekspresi pula, dia meletakkan senapannya dan berjalan masuk ke dalam vila.
Oskar Schindler, pebisnis yang memasok barang-barang kebutuhan tentara Nazi, tahu kebiasaan Amon itu. Lalu, dalam suatu kesempatan mereka bersantai sembari menikmati minuman, terjadilah dialog tentang kekuatan suatu pengampunan, berikut ini:
”Aku lihat kau tak pernah mabuk. Itu benar-benar sebuah kontrol diri, dan itu adalah kekuatan,” ujar Amon.
”Apakah lantaran kekuatan itu, mereka (orang-orang Yahudi-Red) takut kepada kita?” tanya Oskar.
”Kita punya kekuatan untuk membunuh, itulah sebabnya mereka takut pada kita.”
”Mereka takut pada kita karena kita punya kekuatan untuk membunuh dengan sewenang-wenang. Seseorang melakukan kejahatan, dia seharusnya lebih tahu. Kita membunuhnya, dan kita merasa senang. Atau kita membunuhnya
dan merasa lebih baik. Tapi itu bukan kekuatan. Itu keadilan, berbeda dengan kekuatan. Kekuatan itu ketika punya alasan untuk membunuh… tapi kita tak melakukannya.”
”Menurutmu itu kekuatan?” tanya Amon serius.
”Itulah yang dimiliki seorang kaisar pada zaman dulu. Seseorang mencuri sesuatu dan dia ditangkap, lalu dibawa ke hadapan kaisar. Pencuri itu berlutut dan meminta pengampunan. Dia tahu dia akan mati. Tapi kaisar memaafkannya. Pencuri itu sama sekali bukan orang yang berharga, tapi kaisar memaafkannya.”
”Kurasa, kali ini kau mabuk, Oskar.”
”Itu baru kekuatan, Amon. Itu, baru namanya kekuatan!”
Beberapa waktu setelah percakapan itu, Amon mempraktikkan konsep pengampunan yang dipaparkan Oskar. Setiap laras senapannya terarah ke salah seorang tawanan, dia urung menarik picu dan berucap,”Aku memaafkanmu.”
Tapi itu hanya berlangsung sebentar. Amon tak pernah benar-benar bisa memberikan pengampunan seperti sang kaisar versi Oskar. Ucapan pengampunannya tidak berasal dari hatinya, hanya lamis alias di bibir semata.

***

KISAH dan percakapan itu saya kutip dari film Schindler’s List (1993). Film garapan Steven Spielberg dari kisah nyata itu dimainkan dengan apik oleh Liam Neeson (Oskar Schindler) dan Ralph Fiennes (Amon Goeth).
Jadi, orang yang kuat itu bukan ia yang menghukum melainkan ia yang memberi pengampunan. Kekuatan dalam versi Oskar adalah sebuah konsep yang tidak rumit, tapi tak mudah dijalankan.
Terhadap seekor semut yang tidak tahu bahwa perjalanannya ternyata masuk ke lorong gelap di dalam celana kita, dalam waktu sekejap tangan kita sudah membuatnya menjadi mantan semut. Ya, seringkali kita menjadi makhluk tanpa pengampunan. Dan sering sering tidak kita sadari atau pikirkan, kita ingin menegaskan bahwa diri kita memiliki kekuatan terhadap si semut. Itulah yang saya sebut betapa susahnya mempraktikkan konsep kekuatan ala Oskar. Barangkali lantaran kita menganggap semut itu telah menyakiti kita, maka tak ada alasan untuk tidak menghukumnya.
Jangankan pengampunan, sekadar memberi maaf terhadap orang yang melakukan kesalahan atau menyakiti kita, terkadang membuat kita  menimbang-nimbang dahulu. Atau, barangkali mulut kita mengucapkan pemberian maaf, tapi rasa kesal tetap menyungsang di hati. Kita seringkali hanyalah seorang Amon.
Beberapa hari ini, kita baru melakukan ritus meminta maaf dan memaafkan, ratusan atau ribuan kali. Maka, pada kesempatan ini, saya ingin mengajak Anda untuk menghitung berapa yang bersifat tulus, bukan ucapan lamis atau hanya deretan teks mekanis lewat SMS, BBM, Whatsapp, dan lain-lain.
Jujur saja, hitungan ketulusan ucapan atau teks permintaan-pemberian maaf saya tidak banyak. Karena itu, untuk menambahi angka ketulusan itu, kepada pembaca Smilokui ini, saya memohon maaf (yang insyaallah) tulus. (*)

Suara Merdeka, Kolom Smilokui, 11 Agustus 2013


1 Comment

  1. BBM dan SMS permintaan maaf sudah berkurang pada tahun ini Mas.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Pemungut Kata dari Udara

Tuit-Tuit

  • #Cerita196:CINTA-32. Manon pulang, Eva lelap. Angin santer lewat jendela. Manon merapatkan selimut dan cium keningnya, dan menutup jendela.i 1 year ago
  • #Cerita195:GENDUT. "Rekening Arya tambah gendut. Kau juga, perutmu! Meski begitu, buatku kau tetap six-pack," ujar Eva. Manon hanya ngakak. 1 year ago
  • #Cerita194:PIKIRAN. Di dalam pikiran Manon, Eva itu Putri jelita. Bahkan wajah kusut Eva seusai bangun tidur tampak begitu menawan. 1 year ago
  • #Cerita193:GERIMIS. Manon senang senang duduk di balkon saat gerimis belum menjadi hujan. Eva tak pernah alpa menyeduhkan teh untuknya. 1 year ago
  • #Cerita192:PANIK. Ada berita pesawat jatuh. Eva panik dan menelepon Manon. "Kamu tidak di pesawat, kan?" "Aku di kamar, sayang." 1 year ago

Pilih-Pilih

%d bloggers like this: