Home » Kolom SMILOKUI » TERSERAH ANDA

TERSERAH ANDA

SEBAGAI orang yang tidak hidup di dalam gua sendirian, dalam keseharian saya tentu mau mendengarkan pendapat dan nasihat orang. Sebagian saya lakukan, sebagian lainnya saya acuhkan. Kalau saya dinasihati untuk tidak merokok di dalam angkutan umum, ya saya ikuti. Apalagi memang saya tak merasa nyaman merokok di ruangan seperti itu.
Berkenaan dengan penampilan fisik, saya pun acap mengikuti nasihat orang lain. Kalau diminta berpenampilan rapi pada suatu kesempatan, insya Allah saya akan mengupayakan diri untuk meluluskannya. Dari tatanan rambut hingga tatanan busana, sedapat mungkin saya berusaha rapi.
Tapi lantaran setiap orang memiliki konsepsi tentang kerapian yang berbeda-beda, upaya saya tak selalu membuahkan hasil bagus. Alih-alih beroleh pujian, saya justru ”dihadihi” cemoohan. Pernah suatu hari saya mematut-matut diri cukup lama di depan cermin sebelum berangkat kantor. Itu di luar kebiasaan sebab entah ”malaikat” mana yang membisiki saya untuk berpenampilan serapi mungkin pada hari itu. Di kantor, orang yang saya jumpai kali pertama, lebih tepatnya berpapasan, adalah salah seorang  atasan saya. Sekilas bertatapan dan belum sempat bertukar salam, dia berkata, ”Oh, kowe kok lethek banget…(Oh, kamu kok dekil sekali…).”
Cetar! Lalu apa arti dari mematut lama-lama yang di luar kebiasaan itu? Ya, saya seperti kena cemeti, tapi alhamdulillah saya sudah sering ”tercemeti” oleh komentar-komentar serupa itu, jadi reaksi saya saat itu hanya, ”Apa iya, Pak?”
Seperti saya, Anda mungkin pernah atau malah sering mengalami hal seperti itu. Apa yang kita bayangkan tak berbanding lurus dengan yang orang lain pikirkan tentang kita.
Awalnya saya sering merasa keki, tapi lantaran keki tak mengubah keadaan, maka saya memilih lebih santai dengan menganggap komentar baik dan buruk sebagai bentuk perhatian buat saya. Atasan saya bisa saja acuh dan memalingkan muka ketika berpapasan dengan saya. Hanya lantaran perhatiannya itulah yang membuatnya berkomentar mengenai penampilan saya.

***

LAGI pula, kita tak mampu menyetir anggapan orang tentang diri kita. Mereka sering menilai kita bukan seperti yang kita inginkan melainkan yang mereka inginkan. Tatanan rambut saya, misalnya, adalah sasaran komentar paling banyak dan beragam. Saya merasa lebih nyaman dengan rambut agak gondrong. Tapi banyak orang menginginkan saya mencukur rambut karena mereka menganggap kegondrongan itu memperburuk penampilan saya. Hmm, itu saran yang baik, bukan? Tapi selama beberapa waktu saya mengabaikan keinginan orang-orang itu. Saya tahu, mereka agak keki tapi akhirnya cuek.
Lalu suatu hari, saya muncul dengan potongan rambut satu sentimeter merata. Itu jelas di luar kebiasaan saya sepanjang usia saya. Kasih tahu usia saya, apa nggak ya…. tapi yang jelas potongan rambut terpendek saya adalah kuncung. Jadi, itu kali pertama saya berpotongan rambut satu sentimeter merata yang dulu diidentikkan dengan tentara dan polisi.
Apa reaksi mereka yang gemas dengan kegondrongan saya? Sebagian suka, sebagian menyayangkan, ”Lo kok sependek itu?” Itu komentar yang masih lumayan, sebab ada yang bilang, ”Waduh, potonganmu membuat dirimu mirip orang idiot.”
Alamak, tobil anake kadal! Lalu aku harus bagaimana? Namun, saya sudah ”pintar” tak menganggap komentar seburuk apa pun sebagai sesuatu yang cetar membahana. Saya cukup bilang, ”Idiotnya mirip Rancho, Farhan, atau Raju?” Ah, rupanya dia tak pernah menonton film 3 Idiots, yang ketiga tokohnya diejek-ejek sebagai idiot tapi berhasil menjalani hidup seperti impian masing-masing.
Itu sebabnya, sampai hari ini saya menerima saja apa yang orang pikirkan tentang diri saya. Adakalanya saya menganggapnya sebagai pemanis berinteraksi sosial, bersilaturahmi. Karena itu pula, ketika dimirip-miripkan dengan orang-orang tertentu yang sudah populer, saya juga mandah saja, bahkan seringkali menikmatinya.
Dengan potongan pendek, saya dimiripkan dengan Abraham Samad? Wow, siapa yang tak tersipu-sipu dianggap mirip dengan Ketua KPK itu? Apalagi sebelumnya, selain dimiripkan dengan Alex Komang, Limbad, saya sering pula dianggap ”kembaran” Sumanto (sekadar mengingatkan, ini tokoh yang sempat menggemparkan karena memakan daging mayat seorang nenek-nenek).
Lantaran mirip itu belum tentu sama, saya tak perlu galau bila yang dipadankan dengan saya bukan seseorang yang berpenampilan ciamik. Meski begitu, saya kerap berkeinginan seperti ini: ketika berkenalan dengan seseorang, lebih-lebih perempuan, saya akan bilang, ”Saya ini terserah yang Anda pikirkan. Anda bisa menyebut saya Tom Cruise, Brad Pitt, atau siapa sajalah. Tapi kalau Anda meyakini saya ini benar-benar Brad Pitt, tolong jangan pernah mengubah keyakinan Anda itu….” (*)

Suara Merdeka, Kolom Smilokui, 2 Juni 2013


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Pemungut Kata dari Udara

Tuit-Tuit

  • #Cerita196:CINTA-32. Manon pulang, Eva lelap. Angin santer lewat jendela. Manon merapatkan selimut dan cium keningnya, dan menutup jendela.i 1 year ago
  • #Cerita195:GENDUT. "Rekening Arya tambah gendut. Kau juga, perutmu! Meski begitu, buatku kau tetap six-pack," ujar Eva. Manon hanya ngakak. 1 year ago
  • #Cerita194:PIKIRAN. Di dalam pikiran Manon, Eva itu Putri jelita. Bahkan wajah kusut Eva seusai bangun tidur tampak begitu menawan. 1 year ago
  • #Cerita193:GERIMIS. Manon senang senang duduk di balkon saat gerimis belum menjadi hujan. Eva tak pernah alpa menyeduhkan teh untuknya. 1 year ago
  • #Cerita192:PANIK. Ada berita pesawat jatuh. Eva panik dan menelepon Manon. "Kamu tidak di pesawat, kan?" "Aku di kamar, sayang." 1 year ago

Pilih-Pilih

%d bloggers like this: