Home » Kolom SMILOKUI » RIANG BEKERJA

RIANG BEKERJA

JALAN besar satu arah ke timur itu dilalui hampir semua jenis kendaraan. Di dekat tiang lampu lalu lintas, di tepi trotoar sebelah kanan, lelaki itu berdiri, memainkan ukulele, dan menyanyikan lagu-lagu dangdut. Dia memakai topi yang hanya mampu menaungi dahinya dari sengatan matahari. Matanya selalu terpejam dan memberi kesan dirinya buta. Tapi saya pernah melihatnya menghitung uang, meski dengan ngiyer alias memicing-micing. Belakangan, dia sudah mengganti ukulele dengan perangkat tape recorder sehingga dia hanya bernyanyi lewat mikrofon.
Alat mengamennya boleh saja berubah, tapi ada satu hal yang tak pernah berubah dalam dirinya. Dia selalu bernyanyi dengan riang, bahkan sering dibarengi dengan goyangan badan. Gerakannya sangat mirip penyanyi dangdut di panggung meski pandangannya hanya ke satu arah dan tak pernah melihat ke arah sopir yang menghentikan mobil di depannya. Dia abai pada sengatan mentari dan keringat yang membalur tubuhnya. Yang penting nyanyi riang, goyang, dan sesekali mengucapkan terima kasih.
Setiap melihatnya, saya teringat Sisifus. Mungkin agak aneh, sebab sosok mitologis dari Yunani itu dipakai sebagai simbol untuk absurditas dan kesia-siaan hidup, khususnya setelah dipopulerkan oleh Albert Camus lewat esai filsafatnya Le Mythe de Sisyphe (Mitos Sisifus).
Ya, mitologi itu menyebutkan Sisifus adalah Raja Ephyra (juga dikenal sebagai Korinthus) yang berhasil memajukan perdagangan dan pelayaran tetapi memiliki sifat-sifat kejam. Dia menerapkan hukum besi dan telah menghukum banyak orang dengan kejam. Dewa-dewa tak suka, tentu saja. Yang paling membuat murka dewa, terutama Zeus, adalah aksinya membocorkan salah satu rahasia dewa yang diagungkan dalam mitologi Yunani itu. Walhasil, Sisifus dihukum Zeus.
Ada beberapa versi mengenai hukuman untuk Sisifus. Satu versi menyebutkan, Zeus memerintahkan Thanatos, si Dewa Maut, untuk merantai Sisifus di dalam bumi yang disebut Tartarus. Versi lain, Hades dikirim untuk merantai Sisifus tapi malah dirinya sendiri yang dirantai. Sisifus lantas dikutuk seumur hidup menanggungkan banyak penderitaan.
Versi lain dan yang lebih dikenal luas berkat tulisan pengarang Prancis bernama Albert Camus adalah hukuman mengangkat sebuah batu besar ke puncak sebuah bukit. Inilah yang lantas dipakai sebagai referensi soal kesia-siaan. Pasalnya, setiap kali Sisifus berhasil mengangkat si batu ke puncak bukit, batu itu menggelinding kembali dan dia harus turun dan mengangkat lagi. Begitu selalu, tanpa finalitas, tanpa akhiran, dan kata Camus, itu absurd.

***

APAKAH lelaki yang mengamen tanpa memedulikan sengatan matahari, dengan cara menyanyi yang riang, dan berlangsung hampir setiap hari itu sebuah absurditas? Kalau iya, mungkin kita semua memang terjebak pada sebuah absurditas, apa pun yang kita lakukan, apa pun yang kita kerjakan. Setiap hari kita melakukan hal yang hampir-hampir tidak berbeda. Dan Camus boleh menebah dadanya di alam baka.
Camus bertanya, ”Bila hidup kita sia-sia dan absurd, dan ujung dari semua absurditas itu hanya maut, kenapa kita tidak bunuh diri saja?” Camus tak pernah tegas menjawab pertanyaannya sendiri. Sebab, dia juga tak berani bunuh diri. Dia mati dalam sebuah kecelakaan mobil di kota kecil Villeblevin, Prancis, 4 Januari 1960. Tak ada laporan bahwa kecelakaan itu bermotif bunuh diri. Apalagi, pada sakunya ada tiket kereta api karena Camus akan bepergian bersama istri dan anak-anaknya. Kalau Camus menyengaja agar mobilnya celaka, saya tidak tahu. Pasalnya, dia kan tidak memberi tahu saya dari alamnya sekarang, atau kalau dia mengatakannya dalam mimpi saya, belum tentu juga saya menggapenya, hehehe….
Filsafat absurditas ala Camus memang rumit dan saya sering tak bisa memahaminya baik lewat Le Mythe de Sisiphe atau Le Rebel (Pemberontak) maupun beberapa novel seperti L’Etranger (Orang Asing) atau La Peste (Sampar). Tapi saya beroleh satu hal terang saat membaca tentang Sisifusnya. Camus bilang, ”Il faut penser que Sisyphe soit heureux.” (Harus kita bayangkan bahwa Sisifus itu berbahagia).
Mengangkat batu ke puncak bukit yang selalu menggelinding kembali tanpa akhiran itu suatu wujud kebahagiaan? Menurut saya, kalimat Camus itu bisa diartikan, seabsurd apa pun pekerjaan dan hidup kita, masih terbuka peluang untuk menjalani apa pun kehidupan kita dengan perasaan riang sehingga kita merasa berbahagia. Dan entah apa yang ada dalam hatinya, roman ceria setiap bernyanyi pada lelaki pengamen itu menurut saya ekspresi keriangan. Jadi, saya membayangkan dirinya juga berbahagia.
Dulu saya sering menulis sekelumit kisah seseorang. Mereka berkata bahwa mereka menghadapi banyak kesulitan dan penderitaan, tapi resep terbaik untuk sukses adalah menjalani pekerjaan dengan semua penderitaan secara enjoy. Jalani semua dengan selalu riang gembira.
Resep yang enak didengar tapi tak selalu mudah dijalankan. Dalam banyak kesempatan, kita melakukan pekerjaan kita dengan air muka keruh, tertekan, dan sering lupa untuk tersenyum. Dengan begitu, bagaimana mungkin orang membayangkan diri kita berbahagia? (*)

Suara Merdeka, Kolom Smilokui, 28 Juli 2013


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Pemungut Kata dari Udara

Tuit-Tuit

  • #Cerita196:CINTA-32. Manon pulang, Eva lelap. Angin santer lewat jendela. Manon merapatkan selimut dan cium keningnya, dan menutup jendela.i 1 year ago
  • #Cerita195:GENDUT. "Rekening Arya tambah gendut. Kau juga, perutmu! Meski begitu, buatku kau tetap six-pack," ujar Eva. Manon hanya ngakak. 1 year ago
  • #Cerita194:PIKIRAN. Di dalam pikiran Manon, Eva itu Putri jelita. Bahkan wajah kusut Eva seusai bangun tidur tampak begitu menawan. 1 year ago
  • #Cerita193:GERIMIS. Manon senang senang duduk di balkon saat gerimis belum menjadi hujan. Eva tak pernah alpa menyeduhkan teh untuknya. 1 year ago
  • #Cerita192:PANIK. Ada berita pesawat jatuh. Eva panik dan menelepon Manon. "Kamu tidak di pesawat, kan?" "Aku di kamar, sayang." 1 year ago

Pilih-Pilih

%d bloggers like this: