Home » Kolom SMILOKUI » PEMEGANG MIKROFON

PEMEGANG MIKROFON

SAAT stand-up comedy baru merebak, beberapa kali saya ikut tampil. Saya datang ke kafe yang menyuguhkan jenis hiburan itu semata-mata sebagai penonton. Tapi lantaran sering di-roasting (digoda sebagai objek humor) oleh comic yang sedang memegang mikrofon, saya jadi panas juga, lantas tampil. Benar-benar spontan.
Menurut saya sih, penampilan saya tidak mengecewakan: bisa sesekali ngekill (humor tepat sasaran) dan bikin pecah (koor tawa) audiens. Sesekali itu artinya tidak selalu, sebab ada sebagian humor saya yang bernasib bak ban sepeda motor yang ”bocor halus”. Tapi humor gagal itulah yang menyadarkan saya bahwa tidak mudah berinteraksi dengan orang yang tidak ”sezaman” dengan kita.
Jarak usia saya dengan para comic dan penonton mereka berkisar 20-an tahun. Bolehlah disebut saya dan mereka berbeda generasi. Saat di depan mikrofon, saya melempar beberapa humor yang berasal dari masa ketika saya seusia mereka. Dulu humor-humor itu selalu bikin pecah saat saya paparkan ke teman-teman saya. Tapi di panggung stand-up comedy, humor seperti itu seperti mati angin. Memang ada yang tertawa, tapi tawanya tidak spontan.
Persoalan ragam bahasa juga bisa menjadi ihwal yang rumit. Umumnya, mereka akrab dengan ragam bahasa gaul dari zaman mereka. Tentu saja pada saat seusia mereka, saya juga akrab dengan ragam bahasa gaul. Tapi tak termungkiri, bahasa gaul saya telah menjadi zadul buat mereka, dan mungkin hanya pas menghuni kamus seperti dulu pernah dibikin Debby Sahertian.
Tak hanya di panggung para comic, saya menjumpai persoalan perbedaan ragam bahasa pada hampir semua forum yang melibatkan anak-anak muda, bahkan juga di ruang kuliah. Ketika menyampaikan materi perkuliahan dengan ragam bahasa formal, termasuk pilihan kata, saya tidak melihat respons interaktif yang saya harapkan. Para mahasiswa itu diam dan saya menangkap kesan bahwa mereka menganggap yang sedang berdiri di hadapan mereka hanyalah makhluk angkasa luar yang kebetulan tengah jadi dosen mereka. Benar saja, begitu saya berusaha ”menjadi” mereka dengan sesekali menyelipi kosakata gaul khas mereka, jalinan interaksi menjadi lebih cair. Itulah sebabnya dulu semasa hidup, Uje yang dikenal sebagai Ustaz Gaul memiliki banyak jemaah.

***

SAYA tahu, perbedaan generasi satu dengan lainnya tidak untuk saling dipertentangkan. Juga naif sekali bila generasi satu merasa lebih superior dari generasi satunya. Bukankah Anda juga sering sebal ketika bertemu orang yang lebih tua (sebut saja generasi di atas Anda) menceritakan keistimewaan zamannya? ”Pada zaman Bapak ini, semua begini…,” ujar si Bapak sambil menunjukkan ibu jarinya.
Atau, ingin contoh lebih faktual? Baca saja tulisan yang lagi ngehit di bak truk atau stiker di angkutan umum. Salah satunya: “Piye kabare, Le? Beras harganya berapa sekarang? BBM jadi naik? Masih enak zamanku, toh?”
Ketika berhadapan dengan orang-orang yang membanggakan generasinya, dan itu sudah jadi masa lalu, mungkin saja kita hanya terdiam, tapi dengan memendam gerundelan. Masa lalu atau sejarah memang harus ditilik untuk membaca masa kini dan masa depan. Jadi, hanya membangga-banggakan yang enak-enak saja pada masa lalu sembari menyembunyikan borok-boroknya, siap-siap saja ditertawakan, kalau itu bukan tindakan kriminal berupa ”penipuan sejarah”.
Apalagi, anak-anak sekarang cenderung responsif, setidak-tidaknya ketika berhadapan dengan orang tua mereka sendiri. Saya sering mengalami itu. Misalnya, saat mereka membeli 20-an buah buku tulis untuk tahun pelajaran mendatang, saya bilang, ”Waktu sekolah dulu, buku tulis Ayah cuma satu untuk semua pelajaran.”
Tentu saja saya cuma iseng, hanya untuk mempermanis hubungan ayah-anak. Tapi, salah seorang anak saya langsung menyergah, ”Plis deh Yah, itu kan zaman Ayah.”
”Iya ya, zaman Ayah belum ada Suju atau Blackberry. Kalau mau telepon-teleponan, cukup bikin dari kaleng bekas.”
Jadi, ini bukan ihwal perbedaan generasi: tua-muda, lama-baru. Ini ihwal yang berkaitan dengan cara mengatasi kemacetan komunikasi. Berkaitan dengan ”pemegang mikrofon” entah itu seorang comic atau presiden, saya juga tak mempermasalahkan kriteria tua-muda. Baguslah bila yang tua-tua mampu ”memasuki” alam pikiran yang muda-muda. Bagus pulalah yang muda-muda belajar dari yang tua-tua, baik yang positif maupun yang negatif.
Seorang pemegang mikrofon yang ”asyik” dengan dirinya sendiri, siap-siaplah berbicara kepada angin. Dan angin ada saatnya menjadi badai…. (*)

Suara Merdeka, Kolom Smilokui, 7 Juli 2013


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Pemungut Kata dari Udara

Tuit-Tuit

  • #Cerita196:CINTA-32. Manon pulang, Eva lelap. Angin santer lewat jendela. Manon merapatkan selimut dan cium keningnya, dan menutup jendela.i 1 year ago
  • #Cerita195:GENDUT. "Rekening Arya tambah gendut. Kau juga, perutmu! Meski begitu, buatku kau tetap six-pack," ujar Eva. Manon hanya ngakak. 1 year ago
  • #Cerita194:PIKIRAN. Di dalam pikiran Manon, Eva itu Putri jelita. Bahkan wajah kusut Eva seusai bangun tidur tampak begitu menawan. 1 year ago
  • #Cerita193:GERIMIS. Manon senang senang duduk di balkon saat gerimis belum menjadi hujan. Eva tak pernah alpa menyeduhkan teh untuknya. 1 year ago
  • #Cerita192:PANIK. Ada berita pesawat jatuh. Eva panik dan menelepon Manon. "Kamu tidak di pesawat, kan?" "Aku di kamar, sayang." 1 year ago

Pilih-Pilih

%d bloggers like this: