Home » Kolom SMILOKUI » MOMENTUM ARYA

MOMENTUM ARYA

MENYAKSIKAN Arya Wiguna sekarang ini, kita mungkin saja berpikir bahwa betapa mudahnya seseorang menangguk popularitas. Dia tak perlu berlarat-larat, lara lapa, atau berjuang mati-matian. Cukup dengan mengumbar kemarahan dan mengutuk-ngutuk seseorang. Cukup dengan bersumpah ”Demi Tuhan!” yang artikulasi kalimatnya serupa para pemain sinetron, lengkap dengan mata mendelik. Cukup dengan menggebrak meja tiga kali. Dan bila dia seorang pesulap, bisa jadi itu semua mantra untuk membuat dirinya jadi merpati… eh maaf, jadi seorang yang kondang.
Mungkin kita sudah tak terlalu menganggap kisah Arya itu luar biasa. Sebab, kita sudah sering mendengar kisah-kisah fantastis. Untuk jadi kaya raya, Ali Baba cukup berteriak pada batu yang menutup gua harta, ”Sesame, buka pintu!” dan Aladin cukup menggosok lampu.
Kalau Ali Baba dan Aladin itu sosok fiktif, kita punya sosok yang nyata. Ponari cukup dengan tersambar petir dan menemu sebutir batu; Sinta-Jojo cukup dengan komat-kamit lip-sync di depan webcam; Norman Kamaru cukup dengan ber-chaiya-chaiya; M Syafarudin dan Reza Srimulyadi cukup dengan memiliki wajah mirip Jokowi, Ilham Anas yang mirip Obama, dan Sodikin yang ”kembaran” dengan Ronaldinho.
Tapi proses pencapaian popularitas mereka yang agak simsalabim dan nomplok begitu saja itu tak bisa menjadi ukuran standar. Bila jadi standar, manusia akan kehilangan daya juang. Sebab, kita masih sangat yakin bahwa popularitas (dan seringkali itu dianggap sebagai sebuah kesuksesan) tidak bisa digenggam dengan satu jurus kibasan tangan atau jatuh begitu saja dari langit. Tukul Arwana, Sule, Soimah, sekadar sebut beberapa nama, mencapai popularitas mereka dengan berlarat-larat dan berjuang sangat keras.

***

DAN percayalah, popularitas yang dicapai seseorang, segampang apa pun cara mencapainya, selalu membutuhkan campur tangan orang lain, bahkan bila orang itu bukan sekutu melainkan seteru.
Siapa Eyang Subur sebelum Adi Bing Slamet menabuh genderang perang melawan dirinya? Siapa Arya Wiguna sebelum Adi berseteru dengan Eyang Subur? Siapa Sinta-Jojo tanpa pencipta dan penyanyi ”Keong Racun”, dan tentu saja Youtube? Siapa Norman Kamaru tanpa Shah Rukh Khan, dan lagi-lagi Youtube?
Tapi, popularitas dalam panggung hiburan (juga untuk panggung-panggung kehidupan lain, misalnya politik) itu mirip burung liar yang bisa setiap saat lepas lantar an tak setiap orang mampu memiaranya dengan baik. Lihat saja, Sinta-Jojo dan Norman sudah jadi masa lalu dan itu bisa lantaran mereka tak mampu ”memiara” ketenaran mendadak mereka. Adi yang memang sudah moncer sedari kanak-kanak pun bak lampu kerlap-kerlip di dunia hiburan; kadang mengerlap, kadang mengerlip, sama seperti banyak artis lain. Eyang Subur? Sosok yang awalnya jadi fokus hujatan beberapa orang dan tak pelak lagi membuat namanya begitu tersohor, kini juga lebih mirip balon gas warna-warni yang mengempis.
Selain itu, saya selalu yakin, popularitas itu, baik berasal dari upaya keras dan berlarat-larat maupun hanya bermodal iseng, selalu membutuhkan momentum. Dalam ilmu fisika, momentum yang dilambangkan dengan huruf P adalah  hasil perkalian antara massa dan kecepatan yang menghasilkan vektor. Saya tak pintar dalam pelajaran fisika, dan saat SMP dan SMA, nilai saya untuk pelajaran itu tak pernah menggembirakan guru saya. Dalam kaitan dengan popularitas, izinkan saya menafsirkan ihwal momentum tersebut. Bila vektor itu popularitas, maka itu hasil dari perkalian antara kualitas seseorang (massa) dan cara pencapaiannya (kecepatan). Jadi, seseorang tak mungkin bisa mencapai momentum popularitas bila tak punya kualitas dan cara pencapaian yang tepat.
Intinya, momentum hanya bisa datang lewat sebuah proses, sebuah aksi. Kata Semar, kita tak bisa hanya <I>mbegegeg<P> (diam), tapi harus ugeg-ugeg (bergerak) kalau kita ingin mel-mel (makan) meski hanya sakdulit (sedikit). Jadi, Arya, Ali Baba, Aladin, Norman, Sinta-Jojo yang momentum popularitasnya tampak datang begitu saja itu bukannya tanpa kualitas diri dan proses pencapaian sama sekali. Arya harus berteriak-teriak marah di depan kamera. Kalau dia tidak ”pintar” bermain peran, maka ”akting” marahnya pasti tidak meyakinkan. Dan lagi, kalau tidak ada ”tangan-tangan” infotainment dan Youtube yang memopulerkan ”Demi Tuhan”-nya, Arya mungkin hanya dikenal oleh keluarga dan koleganya saja. Itulah momentum Arya. Dan momentum itu dia ciptakan.
Maka, seyogianya kita tidak menunggu momentum itu hadir, tapi berusaha menghadirkannya. Bahkan, bila gelas minuman ada di depan mata, untuk meminumnya kita harus mengangkat gelas itu, mendekatkan ke mulut dan meneguknya. Sesakti apa pun kita yang mampu membuat gelas itu melayang, kita tetap harus mengangakan mulut. (*)

Suara Merdeka, Kolom Smilokui, 19 Mei 2013


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Pemungut Kata dari Udara

Tuit-Tuit

  • #Cerita196:CINTA-32. Manon pulang, Eva lelap. Angin santer lewat jendela. Manon merapatkan selimut dan cium keningnya, dan menutup jendela.i 1 year ago
  • #Cerita195:GENDUT. "Rekening Arya tambah gendut. Kau juga, perutmu! Meski begitu, buatku kau tetap six-pack," ujar Eva. Manon hanya ngakak. 1 year ago
  • #Cerita194:PIKIRAN. Di dalam pikiran Manon, Eva itu Putri jelita. Bahkan wajah kusut Eva seusai bangun tidur tampak begitu menawan. 1 year ago
  • #Cerita193:GERIMIS. Manon senang senang duduk di balkon saat gerimis belum menjadi hujan. Eva tak pernah alpa menyeduhkan teh untuknya. 1 year ago
  • #Cerita192:PANIK. Ada berita pesawat jatuh. Eva panik dan menelepon Manon. "Kamu tidak di pesawat, kan?" "Aku di kamar, sayang." 1 year ago

Pilih-Pilih

%d bloggers like this: