Home » Kolom SMILOKUI » KRIDHA LUMAHING ASTA

KRIDHA LUMAHING ASTA

DI SITUS berita daring dan blog, saya membaca tentang para pengemis yang kaya dari emisannya. Ada yang menghasilkan Rp 15 juta per bulan hanya dengan modal berpenampilan lusuh dan wajah memelas sementara kondisi fisiknya sehat walafiat. Ada yang setelah bertahun-tahun mengemis, meningkatkan karier sebagai bos para pengemis. Rumahnya empat, dua sepeda motor, dan sebuah mobil keren yang harganya di atas Rp 400 juta.
Saya tidak terkejut. Sebagian besar dari kita begitu enteng mengulurkan Rp 500 atau Rp 1000 kepada mereka, sama juga untuk pengamen atau tukang parkir tanpa resi parkir. Kepada seorang kawan, saya pernah membincangkan perkiraan penghasilan harian mereka bila setiap orang yang mereka datangi itu minimal mengangsurkan Rp 500. Kalau proses meminta-memberi itu tak ada satu menit, berapa yang bisa mereka tangguk selama jam operasi, katakanlah seperti pekerja kantoran atau pabrik, delapan jam sehari?
Begitu perkiraan hitungan itu saya paparkan, saya dan teman itu hanya tertawa bersama sembari saling menunjuk. Tanpa berkomentar apa-apa lagi, kami sama-sama tahu kemungkinan besar perolehan mereka jauh di atas penghasilan kami setiap bulannya.
Pengemis, tentu saja, tak hanya ada di Indonesia, juga yang kaya dari kemisan. Di Inggris, Simon Wright hanya duduk di trotoar depan Bank NatWest di Putney High Street, London dengan kertas bertuliskan ”tunawisma”. Dari mengemis, Simon beroleh lebih dari 50.000 poundsterling atau Rp 754 juta tiap tahun. Dia juga tinggal di sebuah flat mahal dan nyaman berharga 300 ribu poundsterling atau Rp 4,5 miliar di London Barat.
Di AS, ada Shane Warren Speegle, pria yang menolak untuk bekerja karena menganggap dirinya bisa kaya dari mengemis. ”Aku malas bekerja. Kenapa juga harus bekerja bila dengan begini aku bisa mendapat 60 ribu dolar AS (sekitar Rp 550 juta-Red) setahun?”

***

YA, Anda mungkin mengenal para pengemis yang lebih kaya ketimbang Anda. Di sebuah terminal bus di Jateng, ada seorang pengemis yang bertahun-tahun penampilannya nyaris serupa: baju sama, sarung sama yang diselempangkan di bahu. Kadangkala saya membayangkan dia memiliki beberapa serep baju dan sarung. Sengaja saya gambarkan hanya pada caranya berpakaian, dan bila terlalu detail menyangkut gambaran fisiknya, Anda mungkin akan segera mengenalinya. Sebab, dia masih aktif beroperasi di terminal bus lain, dan cerita tentang pengemis ini hanya sebagai ilustrasi tulisan saja.
Dia meminta kepada penumpang bus yang busnya sedang ngetem di terminal. Yang saya sebut di atas ”agak berbeda” adalah caranya meminta. Dia agak memaksa, dan bila diberi dalam jumlah kecil, dia akan mengumpat-umpat si pemberi. Apalagi bila tidak diberi, wah omelannya bisa bikin kuping panas.
Suatu hari, seorang kondektur membisiki saya, ”Nang kampunge, omahe magrong-magrong, Mas.” (Di kampungnya, rumah dia megah, Mas). Beberapa orang yang mencari hidup di terminal itu pernah saya tanya perihal ”omah magrong-magrong” itu. Saya mendapat informasi serupa. Tapi saya tak ingin melanjutkannya dengan membuktikan sendiri. Sebab, saya tak terlalu tertarik benar-tidaknya dia kaya raya dari kemisan-nya.
Benar, setiap melihat pengemis yang ”omahe magrong-magrong” itu saya tergoda untuk bertanya langsung, ”Apakah dia bahagia? Apa yang dia tahu soal harga diri? Apakah dia memiliki harga diri?” Tapi saya tak pernah mendatanginya untuk tahu itu semua.
Memiliki harga diri adalah konsepsi yang terlalu mudah diceramahkan tapi pasti sulit diwujudkan. Kita sudah mengenal ungkapan ”tangan di atas lebih baik dari tangan di bawah”, atau dari Jawa ada ajaran untuk menjauhi ”kridha lumahing asta”. Lebih baik jadi pemberi, bukan peminta. Dari konsepsi itu, pikiran kita telah dipenuhi persepsi bahwa meminta-minta (dengan beragam cara) itu tak berharga diri.
Tentu saja, peminta-minta itu tak hanya mereka yang bermuka memelas menadahkan tangan di pinggir-pinggir jalan. Ada yang bermodal pakaian necis berdasi, dan cukup menyodorkan map. Ada yang modalnya cuma mulut manis bisa melancarkan, misalnya penambahan kuota impor daging sapi, tapi, ”Wani pira, Bro? Dan pustun, ya?”
Meskipun merasa memiliki harga diri dan menjaganya itu sulit pada zaman sekarang, tapi saya yakin, tulisan tentang pengemis kaya ini tak akan membuat pembaca tertarik untuk mengubah profesi menjadi pengemis. Sebab, kalau semua mengemis, siapa yang berderma? Hahaha….
Suatu hari, di sebuah perempatan, saya melihat seorang penjual koran yang memiliki satu kaki dan harus dibantu dengan kruk. Dia melambaikan koran ke penumpang bus yang berhenti. Dari bus itu turun tiga anak muda, berambut gaya punk, mencangking ukulele dan tamborin buatan sendiri.
Mungkin saja, penjual koran itu tahu, hanya beberapa jam jreng-jreng di atas bus, mereka bisa beroleh Rp 50 ribu-Rp 100 ribu, jumlah yang jauh dari upah jualan korannya. Kenapa dia tidak naik saja ke bus, meminta-minta? Bukankah tanpa harus berakting memelas, orang tahu bahwa dia cacat? Entahlah, mungkin saja dia merasa harga dirinya akan hilang dengan ”kridha lumahing asta”…. (*)

Suara Merdeka, Kolom Smilokui, 14 Juli 2013


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Pemungut Kata dari Udara

Tuit-Tuit

  • #Cerita196:CINTA-32. Manon pulang, Eva lelap. Angin santer lewat jendela. Manon merapatkan selimut dan cium keningnya, dan menutup jendela.i 1 year ago
  • #Cerita195:GENDUT. "Rekening Arya tambah gendut. Kau juga, perutmu! Meski begitu, buatku kau tetap six-pack," ujar Eva. Manon hanya ngakak. 1 year ago
  • #Cerita194:PIKIRAN. Di dalam pikiran Manon, Eva itu Putri jelita. Bahkan wajah kusut Eva seusai bangun tidur tampak begitu menawan. 1 year ago
  • #Cerita193:GERIMIS. Manon senang senang duduk di balkon saat gerimis belum menjadi hujan. Eva tak pernah alpa menyeduhkan teh untuknya. 1 year ago
  • #Cerita192:PANIK. Ada berita pesawat jatuh. Eva panik dan menelepon Manon. "Kamu tidak di pesawat, kan?" "Aku di kamar, sayang." 1 year ago

Pilih-Pilih

%d bloggers like this: