Home » Kolom SMILOKUI » KAYA +/ POPULER

KAYA +/ POPULER

PILIH KAYA ATAU POPULER?
Jadilah kaya sebab dengan kekayaan itu Anda memiliki kesempatan melakukan sesuatu. Kaya harta mungkin bisa bikin orang sombong, atau kedekut bin bakhil bin pelit. Tapi dengan kekayaan itu, Anda juga punya kesempatan banyak untuk berderma, menyantuni fakir-miskin dan anak yatim-piatu, berinfak ke masjid, atau menyumbang gereja. Anda juga bisa memakai harta itu untuk membuka usaha dan menciptakan pekerjaan untuk orang lain. Jadi, begitu banyak hal baik bisa Anda lakukan dengan harta itu.
Benar, Anda tidak bisa membeli apa saja di dunia ini dengan kekayaan yang Anda punyai. Bahkan, bila harta Anda itu tak akan pernah habis untuk tujuh turunan. Anda misalnya tak bisa membeli kekuasaan atau popularitas atau gelar juara dengan kelimpahan harta.
Saya ingat pertandingan Liga Premier Inggris musim 2011-2012 antara Arsenal dan Manchester City di Emirates Stadium London. Pada tribun pendukung Arsenal terbentang spanduk berbunyi: You can’t buy a title. Arsenal menang 1-0 lewat gol Mikel Arteta, tapi pada akhir musim Manchester City menjuarai liga lewat selisih gol dengan Manchester United.
Betul, City kaya raya dan mampu membeli pemain-pemain bintang yang mahal harganya. Tapi tidak fair bila disebut titel juara itu mereka beli berkat kekayaan mereka. Dengan kekayaan itu mereka punya potensi menjuarai liga dan mereka menjadikan potensi itu terwujud lewat upaya keras semua orang di klub itu selama satu musim.
Jadi sekali lagi, kekayaan memang tak bisa dipakai untuk membeli apa saja di dunia ini. Tapi kekayaan itu bisa menjadi jalan untuk membeli apa pun yang sejatinya tak terbeli. Kekuasaan, misalnya, setidak-tidaknya untuk saat-saat sekarang ini dan di sini, bisa digenggam lewat kekayaan yang dimiliki seseorang.
Muskil Anda menjadi bupati/wali kota, gubernur, atau presiden bila Anda bukan orang kaya raya. Anda butuh uang tak sedikit untuk membayar kontribusi kepada partai-partai pengusung Anda, modal untuk berkampanye, atau membayar saksi-saksi yang Anda tempatkan di tempat pemungutan suara. Bila Anda orang hebat, populer di mana-mana, bercitra bagus, tapi Anda tak punya modal harta, paling mungkin Anda hanya jadi vote getter, tim sukses, atau juru kampanye.

***

YA, begitu banyak yang bisa dilakukan ketika seseorang itu kaya raya. Kalau kaya raya tak bisa-bisa diraih, berusahalah untuk jadi populer alias tersohor alias terkenal. Popularitas yang Anda miliki sering menjadi berkah buat banyak orang.
Ambil contoh Jokowi. Berapa orang yang mendapat berkah model baju kotak-kotak saat dia berkampanye untuk menjadi Gubernur DKI? Berapa banyak buku tentang lelaki dari Solo itu yang diterbitkan dan laku keras di pasaran? Begitu pula, sementara sitkom RT Sukowi yang jelas-jelas terinspirasi kesuksesan dan popularitas Jokowi sebagai bahan utama, film tentang Sang Gubernur juga sudah dibuat dengan judul Jokowi yang bakal dirilis 20 Juni 2013 mendatang.
Jokowi memang keberatan terhadap film tersebut. Dia merasa malu ditokohkan karena katanya dia bukan siapa-siapa. ”Tokoh apa? Nggak, saya bukan tokoh tapi tikih kecil-kecilan,” ujarnya.
Tapi popularitas Jokowi tak terbantahkan, dan baik baju, buku, sitkom maupun filmnya adalah berkah dari kepopuleran itu.
Berkah dari popularitas seseorang itu adakalanya melintasi waktu. Lihat orang-orang besar dari masa lalu yang bahkan makamnya pun mendatangkan berkah rezeki bagi banyak orang.
Tapi tak semua orang bisa kaya dan populer. Lantas tak adakah yang bisa dilakukan bila kita tidak berharta banyak dan hanya seorang tikih? Ah, tentu saja banyak. Kalau tidak bisa memberi sedekah pada seorang peminta-minta, kita bisa memberinya senyuman. Kata para kiai, itu ibadah paling murah.
Meski begitu, lantaran banyak hal bagus bisa Anda lakukan bila kita kaya dan populer, berusaha mendapatkan keduanya. Kalau tak mungkin beroleh keduanya, ya salah satunya. Lagi pula, bila kaya, Anda punya kesempatan untuk populer. Dan bila populer, Anda juga punya kesempatan menjadi kaya. Sudah banyak orang membuktikan hal itu. Sayang sekali, meraih salah satu saja sulitnya minta ampun, apalagi keduanya.
Tapi buat saya, kaya nggak apa-apa asal populer, hihihi…. (*)

Suara Merdeka, Kolom Smilokui, 26 Mei 2013


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Pemungut Kata dari Udara

Tuit-Tuit

Error: Twitter did not respond. Please wait a few minutes and refresh this page.

Pilih-Pilih

%d bloggers like this: