Home » Kolom SMILOKUI » DOYAN AKRONIM

DOYAN AKRONIM

PEREMPUAN itu Diana. Dia tidak suka Tomas yang romantis. Katanya, ketimbang menyukai lelaki seperti itu yang hanya bikin TBC, mending cari duren sawit saja. Apalagi, dia yang bahenol lebih suka Manohara.
Pembaca, ini bukan kisah seorang perempuan yang menolak lelaki romantis lantaran dia menyukai kaum sejenis. Ilustrasi itu saya tuliskan untuk menggambarkan bahwa hanya dalam satu alinea dengan empat kalimat, kita menjumpai banyak singkatan dan akronim.
Mari kita uraikan kata-kata yang jadi akronim dalam alinea serupa dengan pemarkah ”tanda petik”: Perempuan itu ”diam-diam memesona”. Dia tidak suka ”tokoh masyarakat” yang ”rokok makan gratis”. Katanya, ketimbang menyukai lelaki seperti itu yang hanya bikin ”tekanan batin cinta”, mending cari ”duda keren sarang duit”. Apalagi, dia yang ”badan hebat otak nol” itu lebih suka ”makan nongkrong hura-hura”.
Kalau dikaitkan dengan persoalan kebahasaan yang lebih luas, ilustrasi itu semakin meyakinkan bahwa kita ini bangsa yang paling gemar bersingkatan dan berakronim alias akronimania. Akronim-akronim dalam ilustrasi tersebut mungkin saja ditolak Pusat Bahasa, tapi kenyataannya begitu hidup dalam ujaran masyarakat. Dan itu sudah berlangsung puluhan tahun. Romantis, yang arti sebenarnya disukai hampir semua orang, tapi sebagai akronim, mungkin dibenci setiap orang, itu sudah ada pada 1980-an. Siapa yang tahan berhadapan dengan orang yang minta gratisan terus?
Ya, kecenderungan berakronim bisa jadi suatu kreativitas dalam berbahasa. Setiap orang bahkan punya kesempatan membuatnya sendiri secara bebas, menyosialisasikan lewat beragam medium (media massa, jejaring sosial, dan sebagainya), lantas akronim kreasinya itu berterima dan dipakai khalayak lebih luas. Para ahli bahasa tentu saja gamang bila masing-masing orang membuat ”bahasa” sendiri. Mereka lalu bikin kaidah pembentukan singkatan dan akronim. Tapi siapa yang bisa menahan aliran yang tengah membuncah deras, juga aliran bahasa itu?

***

BENAR sekali, penciptaan akronim berpola sangat bebas itu acapkali memunculkan ”korban”. Ada orang tertentu yang bisa saja merasa dirugikan oleh suatu akronim baru, yang kebetulan memakai namanya. Ya, perempuan bernama Diana boleh jadi tersanjung karena namanya adalah akronim bermakna positif: ”diam-diam memesona”. Juga Titi DJ (”hati-hati di jalan”) dan Dedi Dores (”dengan disertai doa restu) yang menunjukkan sebuah doa.
Tapi bagaimana Manohara, Andi Lau, Sukirno, Petrus, atau Markus? Pemilik nama Manohara yang mana yang tidak kecut hati ketika namanya yang dalam bahasa Kawi berarti ”mencuri perhatian, memesona, menarik, luwes” itu berubah bermakna hedonistik yang hanya suka ”makan nongkrong hura-hura”? Andi Lau, yang merujuk pada aktor wuxia top, ternyata hanya untuk menggambarkan kondisi psikologis yang lagi berada di ”antara dilema dan galau”. Pemilik nama Sukirno mungkin protes keras karena dia sama sekali bukan orang yang ”suka mikir porno”.
Itu masih mending ketimbang nama baptis sebagus Petrus dan Markus ternyata jadi akronim yang bernuansa kekerasan dan keculasan. Petrus, bagi penganut Kristen, adalah tokoh penting yang menjadi salah seorang dari 12 murid Yesus. Tentu saja sebagai pengikut Yesus, dia orang yang penuh kasih dan mengemohi cara-cara kekerasan. Tapi begitu sebagai akronim, nama Petrus disebutkan, orang akan tercekam kengerian lantara ada sosok ”penembak misterius” yang bisa menyudahi nyawa seseorang dengan diam-diam.
Markus juga, salah seorang penulis Injil (Injil Markus dalam Perjanjian Baru) yang diakui Petrus sebagai ”anak rohaniah”-nya. Tapi Markus sebagai akronim hanyalah sosok culas ”pengeruk ikan di air keruh” dengan memakelari orang-orang berkasus hukum.
Saya sebagai pemakai bahasa Indonesia, dan kerap mengungkapkannya dalam tulisan, tak bisa terbebas dari kecenderungan berakronim-ria. Meski begitu, saya (akan) selalu mencoba menghindari penulisan akronim yang mungkin berkonotasi melukai orang tertentu seperti Markus dan Petrus. Sedapat mungkin saya akan mengikuti kaidah yang disarankan Pusat Bahasa.
Tapi Pusat Bahasa juga sering jadi pengarah yang kebingungan arah. Ia sering memunculkan akronim yang polanya sangat tak beraturan, dan berkesan ”asal gampang dan enak diucapkan”. Mau contoh? Untuk mengampanyekan pengindonesiaan bahasa internet dan bidang teknologi informasi misalnya, ia menyarankan penggunaan ”dalam jaringan” untuk online atau ”data gondol” untuk flash disk. Tapi lantaran kepincut berakronim-ria, ia pun menyarankan penggunaan daring (dalam jaringan) dan dagol (data gondol).
Bila pihak yang akan kita jadikan munsyi saja begitu, lantas siapa yang harus kita anut? Tanyakan saja pada Abah Topas.
Memangnya siapa dia itu? Abah Topas adalah ”ahli bahasa top dan berkualitas”. Itu bukti bahwa tak terhindarkan lagi saya juga ikut-ikutan bikin akronim ngawur. Ya, maaf…. (*)

Suara Merdeka, Kolom Smilokui, 21 Juli 2013


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Pemungut Kata dari Udara

Tuit-Tuit

  • #Cerita196:CINTA-32. Manon pulang, Eva lelap. Angin santer lewat jendela. Manon merapatkan selimut dan cium keningnya, dan menutup jendela.i 1 year ago
  • #Cerita195:GENDUT. "Rekening Arya tambah gendut. Kau juga, perutmu! Meski begitu, buatku kau tetap six-pack," ujar Eva. Manon hanya ngakak. 1 year ago
  • #Cerita194:PIKIRAN. Di dalam pikiran Manon, Eva itu Putri jelita. Bahkan wajah kusut Eva seusai bangun tidur tampak begitu menawan. 1 year ago
  • #Cerita193:GERIMIS. Manon senang senang duduk di balkon saat gerimis belum menjadi hujan. Eva tak pernah alpa menyeduhkan teh untuknya. 1 year ago
  • #Cerita192:PANIK. Ada berita pesawat jatuh. Eva panik dan menelepon Manon. "Kamu tidak di pesawat, kan?" "Aku di kamar, sayang." 1 year ago

Pilih-Pilih

%d bloggers like this: