Home » Kolom SMILOKUI » BUDAK

BUDAK

INI 2013, 13 tahun dalam milenium ketiga almanak Masehi, bukan tahun 10.000 sebelum Masehi. Ini bukan pula era 1600-1700-an ketika benua Amerika setelah orang Indian ”dibinasakan” pendatang Eropa, benua itu menjadi koloni perbudakan besar. Perbudakan, dalam konsep antropologi, adalah  sistem segolongan manusia yang dirampas kebebasan hidupnya untuk bekerja guna kepentingan golongan manusia lain.
Tapi seiring kemunculan konsep-konsep tentang kemanusiaan, perbudakan sudah dihapuskan. Tak ada lagi budak sekarang ini, kecuali sebagai sebutan yang tidak bermakna negatif. Dalam KBBI, salah satu arti ”budak” adalah anak-anak. Itu sama dengan makna dalam bahasa Sunda dan Malaysia. Jelasnya, sudah tak ada lagi ”budak” yang berarti orang yang dirampas kebebasan hidupnya untuk bekerja demi kepentingan orang lain.
Maka, kalau ingin melihat gambaran perbudakan, kita hanya bisa melihatnya dari film atau membaca dari buku. Banyak sekali film tentang perbudakan. Anda yang sudah menonton film 10.000 BC (2008) besutan sutradara Roland Emmerich pasti tahu bagaimana para pemburu mamoth ditangkap dan dijual sebagai budak. Yang hampir mirip kisahnya dengan film Emmerich itu, kita bisa melihat garapan Mel Gibson bertajuk Apocalypto (2006). Atau yang terbaru, peraih beberapa Oscar 2013, garapan Quentin Tarantino berjudul Django Unchained (2012).
Ya, ini 2013, perbudakan hanya ada dalam kisah sejarah dan kisah fiksi. Maka, kali pertama mendengar ada perbudakan di Tangerang, saya mengira itu berita hoax: berita palsu bin mengada-ada. Tapi lalu berita seputar itu deras mengalir, dan saya berusaha meyakinkan diri tidak sedang terperosok ke mesin waktu yang membawa saya ke zaman perbudakan. Saya masih di Indonesia pada milenium ketiga.
Berbulan-bulan menyekap puluhan orang di sebuah rumah, mengasingkan mereka dari dunia di luar rumah itu, mempekerjakan mereka lebih dari jam kerja yang diwajibkan undang-undang, melakukan tindak kekerasan fisik dan psikologis, itu semua adalah perampasan kebebasan manusiawi dan itu jelas suatu perbudakan. Dahsyatnya itu terjadi di suatu tempat di Tangerang, wilayah yang tak begitu jauh dari ibu kota Jakarta, di kawasan berpenghuni.

***

SAYA ingin tidak memercayai hal itu, maka saya lebih suka membayangkan Yuki Irawan, si pemilik pabrik panci itu, bersama para centengnya, bukan melakukan perbudakan melainkan membuat film tentang perbudakan, atau yang lebih berwarna lokal, film tentang aksi para tuan tanah (juragan) dan centeng-centeng.
Tapi ternyata tidak. Yuki bukan produser film melainkan produsen peranti memasak. Dan para pekerja itu bukan aktor. Yuki juga lupa memberi honor dan bahkan memberi akomodasi buat para pemainnya pun dengan fasilitas yang jauh di bawah kriteria alakadarnya.
Saya yakin, banyak sekali orang yang tertampar membaca berita perbudakan di Tangerang itu. Kita adalah orang-orang yang mendambakan kebebasan. Tapi kebebasan itu juga bukan konsep yang mudah ditafsirkan. ”L’homme est ne libre, et partout il est dans les fers (Manusia dilahirkan bebas, tapi dia terbelenggu di mana saja),” ujar Jean-Jacques Rousseau dalam Du Contrat Social (1762).
Bebas tapi terbelenggu? Tentu saja ”terbelenggu” versi Rousseau bukan terkekang kebebasannya lantaran orang lain, melainkan ”L’homme est ne libre, mais il est esclave de ses impulsions, de ses passions, etc (Manusia lahir bebas, tapi dia jadi budak dari nafsu dan hasrat.).” Bukankah kita sering menghamba kepada nafsu dan dan nafsu kita dalam banyak hal?
Sekali lagi, aneh sekali membincangkan ihwal perbudakan di era milenium ini. Tapi rupanya kita belum sepenuhnya terbebas dari hal itu. Yuki Irawan barangkali hanyalah satu kasus yang kebetulan terkuak, dan berkategori ekstrem karena langsung mengamini konsep perbudakan yang dimunculkan kalangan antropolog yang saya sebut di atas.
Dalam keseharian, meskipun tak seekstrem yang dilakukan Yuki, mungkin saja kita melakukan tindakan yang bisa mengarah ke perbudakan. Sudahkah kita memperlakukan pembantu rumah kita dengan layak? Sudahkah kita membayar orang yang bekerja untuk kita dengan layak?
Lebih ironis lagi, akan selalu ada orang-orang macam Stephen (dimainkan Samuel L Jackson) dalam Django Unchained. Dialah orang kulit hitam yang risih melihat si kulit hitam Django berkuda bersama Dr King Schultz. Dalam pikirannya, pada zaman itu orang kulit hitam hanya bertakdir sebagai budak dan seorang budak tidak layak berkuda bersama ”juragan” si kulit putih. Stephen lupa, dia juga negro dan jadi budak di rumah Calvin Candie. Yuki juga punya orang macam Stephen: centeng-centeng dan ”centeng bayangannya”. Merekalah sejatinya orang-orang yang memasrahkan dirinya sebagai budak. (*)

Suara Merdeka, Kolom Smilokui, 12 Mei 2013


1 Comment

  1. untung nya di masa modern ini sudah gk ada budak lagi

    kunjungin balik ya di http://www.kursusmembuatgame.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Pemungut Kata dari Udara

Tuit-Tuit

  • #Cerita196:CINTA-32. Manon pulang, Eva lelap. Angin santer lewat jendela. Manon merapatkan selimut dan cium keningnya, dan menutup jendela.i 1 year ago
  • #Cerita195:GENDUT. "Rekening Arya tambah gendut. Kau juga, perutmu! Meski begitu, buatku kau tetap six-pack," ujar Eva. Manon hanya ngakak. 1 year ago
  • #Cerita194:PIKIRAN. Di dalam pikiran Manon, Eva itu Putri jelita. Bahkan wajah kusut Eva seusai bangun tidur tampak begitu menawan. 1 year ago
  • #Cerita193:GERIMIS. Manon senang senang duduk di balkon saat gerimis belum menjadi hujan. Eva tak pernah alpa menyeduhkan teh untuknya. 1 year ago
  • #Cerita192:PANIK. Ada berita pesawat jatuh. Eva panik dan menelepon Manon. "Kamu tidak di pesawat, kan?" "Aku di kamar, sayang." 1 year ago

Pilih-Pilih

%d bloggers like this: