Home » Kolom SMILOKUI » ANDA DAPAT MOBIL

ANDA DAPAT MOBIL

TIBA-TIBA saya mendapat SMS bahwa saya meraih hadiah mobil dari sebuah undian yang bahkan tak pernah saya ikuti. Tiba-tiba saya mendapat hadiah uang tunai jutaan rupiah. Siapa yang tak termehek-mehek beroleh kabar gembira seperti itu?
Sudah sering sekali SMS itu nongol di layar telepon genggam saya. Andai semua benar, sekarang ini saya pasti sudah jadi kolektor mobil. Kalau saya tidak berminat mengoleksi mobil, saya mungkin sudah punya showroom atau punya tabungan gendut dari penjualan semua mobil hadiah itu.
Tapi Anda sudah tahu kisah sebenarnya. Saya yakin, Anda juga sering atau setidak-tidaknya pernah mendapat SMS hadiah abal-abal itu. Barangkali pula, Anda salah seorang yang alih-alih beruntung, justru buntung. Anda tekor uang atau pulsa telepon.
Tentu saja, hampir selalu saya mengabaikan SMS yang sudah jadi rahasia umum sebagai awalan dari upaya penipuan. Tapi kalau lagi ingin iseng, sering pula beberapa kali SMS itu saya balas. SMS itu saya salin dan saya kirim balik ke nomor pengirim. Sama persis. Berapa teman berkomentar, ”Buang-buang pulsa saja.” Saya tertawa dan menjawab, ”Kalau dulu surat yang tak sampai bisa balik ke alamat pengirim, kenapa SMS tidak?”
Tapi, saya pernah berhadapan dengan pengirim SMS jenis itu yang membalas kembali balasan saya. ”Sudah saya kirim dan bisa diambil di bank alam baka, ya….” Dia membalas, ”Nanti saya ajak kamu untuk mengambilnya.” Saya tertawa. Bukan lantaran baru kali itu dapat balasan balik dari banyak pengirim SMS jenis tersebut melainkan selera humor orang itu yang lumayan juga.

***

YA, mungkin ada baiknya kita reaksi jenis SMS atau telepon tipu-tipu seperti itu dengan selera humor yang bagus. Pasalnya, bila kita marah-marah, kemarahan kepada makhluk anomim itu juga sia-sia.
Di internet, saya membaca banyak kisah lucu dan sangat menggelikan seputar tipu-tipu lewat SMS atau telepon. Misalnya kisah seorang penipu yang bahkan tidak tahu bahwa ada bank bernama Standard Chartered. Orang yang hendak ditipu itu rupanya punya kemampuan berakting yang bagus. Dengan ketenangannya, dia berpura-pura mengikuti semua proses yang diingini si penipu. Saat diminta mentransfer uang, dia pilih ATM Bank Standard Chartered yang transaksinya berbahasa Inggris. Menjelang akhir transaksi, si calon korban bilang, ”Ini bunyinya call the police, pencet yang mana, yes atau no. Si calon penipu dengan mantap bilang, ”Iyesss….”
Bayangkan, mana ada transaksi di ATM yang meminta untuk menelepon polisi? Ketika cerita itu di-sharing di blog, betapa banyak pembaca yang tertawa.
Jadi, agar kita tak termehek-mehek sendiri, humor bisa dipakai untuk mereaksi calon penipu kita. Bahkan, bila si calon penipu itu nyata ada di hadapan kita, bukan orang anonim seperti yang memakai sarana telepon genggam.
Saya pernah mengalami hal itu di sebuah bus. Saya bertemu seorang teman yang sudah duduk dengan penumpang lain. Saya duduk di kursi kosong, berjarak empat kursi di belakangnya. Tak berapa lama naik seseorang yang lantas duduk di sebelah saya.
Sekitar lima menit berselang, dia bertanya kota tujuan saya. Saya dan dia punya tujuan sama. Lantas dia bercerita bahwa anaknya hendak pulang dari rumah sakit tapi dia kehabisan uang. Dia hendak pulang ke desanya untuk mencari pinjaman.
Penipukah dia? Mungkin. Tapi saya berpikir, membayari ongkosnya Rp 10 ribu tak apa-apa karena saya mungkin dapat cerita mengenai cara seseorang menipu.
Dia bertanya desa tujuan saya, dan lagi-lagi dia mengatakan berasal dari desa sama, hanya berbeda RT. ”Panjenengan tidak asli desa itu, kan?” Saya mengangguk karena memang itu desa istri saya. Lalu seperti sudah bisa diduga, dia akan meminjam uang dan akan dia kembalikan setelah urusan dengan rumah sakit selesai. Tentu dengan cerocosan dalih yang panjang.
Saya belum mengiyakan dan saat itulah muncul keisengan saya. Saya tunjuk teman saya di depan sambil bilang bahwa dia juga orang sedesa dengan kami. Dia mengamati teman saya itu dan dia bilang, ”Iya sih, tapi orangnya gini.” (melintangkan telunjuk di dahinya). ”Gila? Betul?” tanya saya. ”Dia tidak mau srawung dengan tetangga. Orangnya aneh.”
Dalam hati saya tertawa sebab saya tahu benar teman saya itu tinggal di kota lain. Tak lama kemudian orang itu turun, dan yang beruntung tentu sang kondektur bus. Dia dapat kelebihan ongkos satu orang karena perjalanan masih sekitar 1,5 jam lagi.
Tetap tertipukah saya? Entahlah. Namun, untuk dapat sedikit hiburan bukannya kita harus keluar ongkos? (*)

Suara Merdeka, Kolom Smilokui, 9 Juni 2013


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Pemungut Kata dari Udara

Tuit-Tuit

  • #Cerita196:CINTA-32. Manon pulang, Eva lelap. Angin santer lewat jendela. Manon merapatkan selimut dan cium keningnya, dan menutup jendela.i 1 year ago
  • #Cerita195:GENDUT. "Rekening Arya tambah gendut. Kau juga, perutmu! Meski begitu, buatku kau tetap six-pack," ujar Eva. Manon hanya ngakak. 1 year ago
  • #Cerita194:PIKIRAN. Di dalam pikiran Manon, Eva itu Putri jelita. Bahkan wajah kusut Eva seusai bangun tidur tampak begitu menawan. 1 year ago
  • #Cerita193:GERIMIS. Manon senang senang duduk di balkon saat gerimis belum menjadi hujan. Eva tak pernah alpa menyeduhkan teh untuknya. 1 year ago
  • #Cerita192:PANIK. Ada berita pesawat jatuh. Eva panik dan menelepon Manon. "Kamu tidak di pesawat, kan?" "Aku di kamar, sayang." 1 year ago

Pilih-Pilih

%d bloggers like this: