Home » Kolom SMILOKUI » GAWAI

GAWAI

BISAKAH sekarang ini kita hidup tanpa gadget?
Biar tidak keminggris atau keinggris-inggrisan, baiklah kita biasakan menyebut gadget dengan ”gawai”. Itu yang disarankan KBBI. Kalau masih terdengar aneh, gawai bolehlah disebut perangkat digital (apa boleh buat ini pun masih berbau Inggris).
Jadi sekali lagi, pada saat sekarang ini, bisakah kita hidup tanpa perangkat digital?
Mungkin itu pertanyaan retoris, sebab sejak turun-menurun dari Adam dan Hawa, manusia bisa hidup tanpa gawai. Tapi untuk hidup, manusia terus membekali diri dengan teknologi yang kian waktu kian lebih baik, dan pada akhirnya kian bergantung pada hasil ciptaannya.
Suatu hari, gawai saya berupa ponsel tidak ikut ketika saya seharian di luar rumah. Ini tentu saja kealpaan lumrah. Tapi saya merasa aneh dan galau: bagaimana bila ada yang meng-SMS atau menelepon? Iya sih, memang cuma seharian, toh nanti SMS bisa dibalas. Penelepon gagal itu juga bisa ditelepon balik. Gitu aja kok rempong…. Ya remponglah bila kelalaian itu berpanen keluhan: ”Gimana sih di-SMS nggak balas, ditelepon nggak mengangkat?”
Pada hari-hari gini, pasti bukan saya seorang yang pernah mengalami hal itu. Sebuah gawai yang semestinya memudahkan dan menyamankan komunikasi bisa pula jadi lantaran ketidakenakan dalam berhubungan sosial.
Di rumah kita, bila tiada bebunyian dari pemutar musik atau celoteh pemain sinetron atau cuap-cuap pemandu berita dari televisi, suasana bakal setintrim kamar mayat di rumah sakit. Bilapun kita sedang di hadapan televisi, mungkin sekali ponsel bakal ikut nyanggong di atas meja. Tak cukup satu, jumlahnya bisa tiga. Sebab, sebagian dari kita merasa perlu memegang dua ponsel pintar (satu untuk BBM-an, satunya untuk androidan), dan sebuah ponsel belum pintar. Haha, ponsel pun perlu punya intelligence quotient alias IQ a.k.a aikiu….
Kalau semua gawai itu belum cukup, tablet diikutkan meriung di dekat televisi. Bila masih juga belum cukup, di pangkuan kita perlu ada laptop atau komputer pangku atau kata orang dari Pusat Bahasa disebut komputer jinjing.
Jadi, dalam satu jam saja kita duduk di situ, mata dan tangan kita supersibuk: memencet-mencet remote control alias pengendali jarak jauh, keypad ponsel, layar sentuh tablet, atau kibor laptop. Betul-betul sibuk.
Kita juga sering dibuat sibuk menerima telepon atau membalas SMS atau BBM atau Whatsapp saat asyik bercakap-cakap dengan seseorang. Ada kalanya malah kita ”pura-pura” menyimak ucapan lawan bicara pada saat tangan kita sibuk memenceti keypad ponsel sambil sesekali mata kita terarah ke layar telepon. Kesibukan yang sering bikin tidak nyaman.
Ah, saya mungkin terlalu lebay mendeskripsikan ”kesibukan” kita berkenaan dengan gawai ini. Padahal, kita tak akan mati kutu tanpa gawai, tapi sebagian besar dari kita sekarang ini tak bisa lepas darinya.

***

SAYA sering ingin lepas dari ”kesibukan” berurusan dengan gawai. Tak usah berlama-lama, cukup seminggu di rumah saja, tanpa nyala televisi atau bebunyian dari pemutar musik, mematikan semua komputer dan telepon. Mungkin saat itu saya bisa melakukan hal kecil yang iseng: mendengar keretap kecil dedaunan tanaman kembang di depan rumah; menikmati kesiur angin dari arah bukit karena kebetulan rumah saya berada di daerah agak tinggi; menghitung bintang atau menatap rembulan kala malam. Benar-benar hal sepele yang selama ini dikalahkan oleh nyala komputer, dering dan derik ponsel, juga ”kecerewetan” televisi.
Bisakah? Untuk orang berkategori biasa-biasa saja seperti saya, semestinya bisa. Seminggu lepas dari gawai pasti tak begitu berpengaruh untuk kehidupan saya.
Tapi ketika kembali ”bergaul” dengan orang lain, meski tak mirip dengan kera yang kena tulup, bisa jadi saya akan banyak mati kutu dalam percakapan. Seminggu saya lepas dari gawai dan itu artinya ada tujuh hari saya kehilangan informasi. Sebab, beberapa gawai yang saya sebut di atas itu penyalur informasi yang begitu deras datangnya, begitu cepat kabar perubahannya; dan bisa saja itu berlangsung tiap detik.
Mungkin juga tak masalah bila saya ketinggalan informasi bahwa SBY sudah twitteran atau Uje sang Ustaz Gaul itu telah berpulang. Akan jadi masalah besar, bila saat saya ”bertapa” dari gawai terjadi revolusi, misalnya uang rupiah tak lagi laku. Saya akan seperti para pemuda dalam kisah Ashabul Kahfi yang baru sadar telah tertidur lebih dari 300 tahun saat uang mereka tak lagi laku.
Jadi, tak bisakah kini kita hidup tanpa gawai? Aduh, saya menulis ini pun memakai gawai bernama komputer pangku…. (*)

Kolom Smilokui, Suara Merdeka, 5 Mei 2013


3 Comments

  1. lucu says:

    I don’t know if it’s just me or if perhaps everybody else experiencing problems with your site.
    It appears as though some of the text in your posts are running
    off the screen. Can somebody else please comment and let me know if this is
    happening to them as well? This could be a problem with my browser because I’ve had this happen previously. Thank you

    • Saroni Asikin says:

      Halo, Lucu. There’s no problems towards this site. This post is not running off the screen. So, may be it perhaps just occurs on your screen. Thank you

  2. Gawai, Pak Saroni juga menyinggungnya di perkuliahan saya. Ternyata begitu banyak momen natural yang indah telah direnggut kecanggihan teknologi ya Pak…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Pemungut Kata dari Udara

Tuit-Tuit

Error: Twitter did not respond. Please wait a few minutes and refresh this page.

Pilih-Pilih

%d bloggers like this: