Home » Kolom SMILOKUI » E IL COLMO!

E IL COLMO!

SEMOGA saat Anda baca tulisan ini, sudah tak ada lagi antrean truk dan kendaraan lain berbahan bakar solar yang menunggu nyaris tanpa kepastian di SPBU. Bila masih, kata Bang Haji Rhoma Irama, itu sungguh ter-la-lu. Sebab, sebenarnya bikin solar itu sangat mudah. Saking mudahnya, bahkan anak balita yang baru pintar mencangking ember kecil pun bisa membuatnya.
Caranya? ”Yok opo angel-angel golek solar, Cak? Bikin sendiri saja. Ambil air laut pakai ember, kencingi, tutup. Jadilah solar!”
Formulanya begitu mudah, bukan? Tapi Anda boleh menyangsikannya. Pasalnya, formula itu meluncur begitu saja dari mulut salah seorang sopir bus trayek Semarang-Surabaya yang sedang berkehendak membanyol. Dan lantaran banyolan itu hanyalah caranya menertawakan kelangkaan solar, menertawakan diri dan krunya yang bergantung atas ketersediaan solar, saya tak harus mempertanyakan apakah Pak Sopir itu seorang profesor yang pintar bikin formula jitu atau bukan. Saya hanya tahu, dia tengah melemparkan ironi dengan membanyol.
Ya, di negeri kita yang sejak lama konon dikenal kaya sumber minyak bumi, antrean minyak tanah, bensin, dan solar sungguh suatu ironi. Saya jadi teringat ucapan Roberto Benigni, aktor komedi populer dari Italia, dalam film La Tigre e La Neve (2005), ”Senza benzina in Iraq, e il colmo!” (Kehabisan bensin di Irak, o sungguh keterlaluan!”).
Ketika itu, Roberto yang berperan sebagai Attilio De Giovanni harus mencarikan obat-obatan untuk Vittoria (dimainkan Nicoletta Braschi) yang terbaring di sebuah rumah sakit di Baghdad akibat tertimpa reruntuhan bangunan yang diledakkan bom. Obat-obatan itu hanya ada di Basra di bagian selatan Irak, berbatasan dengan Kuwait. Attilio harus meminjam sepeda motor dari dokter yang merawat Vittoria. Dalam perjalanan itulah sepeda motor tersebut kehabisan bensin. Maka tercetuslah ucapan ironis itu. Betul, di negeri kaya minyak seperti Irak, kehabisan bensin itu sungguh ter-la-lu.

***

IRONI adalah jenis majas alias gaya bahasa yang digunakan untuk menyindir sesuatu tidak dengan kata-kata kasar, tapi bahkan dengan kata pujian. Jadi, kalimat, ”Oh wangi sekali tubuhmu, berapa lama tidak mandi?”, itu bukan pujian melainkan sindiran. Memuji tapi sebenarnya menyindir, itulah hakikat gaya bahasa ironi.
Dalam penerapannya, ironi terjadi lantaran kondisi yang ada (kondisi faktual) bersebalikan dengan kondisi dari yang seharusnya ada (kondisi ideal). Kehabisan minyak (bensin) di Irak yang berlebihan minyak adalah suatu ironi. Biar lebih jelas, kita punya peribahasa, ”ayam mati di lumbung padi.” Bayangkan, seekor ayam kaliren di sekitar sumber pangannya yang berlebihan.
Dalam hidup, kita disodori begitu banyak ironi. Dan banyak orang bilang, karut-marut negara kita lantaran kita suka memiara ironi. Sapi kita gemuk-gemuk, tapi kita mengimpor dagingnya dari Australia. Belum lagi singkong, tanaman umbi-umbian yang begitu khas kita, yang sekian lama dijadikan simbol sebagai makanan kelas rendahan sehingga memunculkan dikotomi anak singkong versus anak keju, itu pun kita masih mengimpornya. Untuk bikin tempe kegemaran sebagian besar kita, kedelainya pun harus kita datangkan dari luar negeri.
Lantas garam, yang tercipta hanya dari kristalisasi air laut, juga kita datangkan dari negeri lain. Padahal, selain banyak laut, kita punya samudera. Sampai-sampai mendiang mantan Presiden Gus Dur bilang, ”Kita ini celaka. 70 persen Tanah Air kita laut, tetapi garam saja impor. Kalau bodoh sih gak apa-apa, tapi kalau disengaja, kok bodoh. Saya tahu impor setiap satu ton dapat 10 dolar. Jadi impor itu hanya menguntungkan yang impor saja.”
Aih, bakal begitu banyak bila deret ironi itu kita beberkan. Dan berhadapan dengan itu semua, kita mungkin ingin marah, merutuk-rutuk, tapi lantas capai sendiri. Pendapat para tokoh, pakar, dan orang-orang hebat, termasuk dua mantan presiden kita (Megawati pernah mengkritik impor minyak) itu saja bak gelembung sabun yang cepat pecah dan tak bersisa, apalagi suara kita-kita yang ”tak bernama”.
Lantas kita biarkan saja semua ironi itu sebagai bagian dalam permainan hidup kita? Tentu saja: jangan! Lantas pigimana, Bang? Saya tak tahu. Saya tak punya formula. Tapi saya suka formula yang disodorkan sopir bus yang saya ceritakan di atas. Ketimbang stres, kenapa tidak tertawa saja, meski itu sebenarnya hanya menertawakan diri sendiri?
Kadangkala menertawakan diri sendiri itu perlu. Setidak-tidaknya, kita masih punya selera humor. Sebab, bila humor saja sudah tidak kita punyai, ini sih e il colmo, sungguh ter-la-lu…. (*)

Kolom Smilokui, Suara Merdeka, 28 April 2013


1 Comment

  1. wah, beberapa kali saya membaca artikel, baru kali ini saya membaca dan menikmatinya. Artikel Pak Saroni cukup ringan namun berkualitas.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Pemungut Kata dari Udara

Tuit-Tuit

  • #Cerita196:CINTA-32. Manon pulang, Eva lelap. Angin santer lewat jendela. Manon merapatkan selimut dan cium keningnya, dan menutup jendela.i 1 year ago
  • #Cerita195:GENDUT. "Rekening Arya tambah gendut. Kau juga, perutmu! Meski begitu, buatku kau tetap six-pack," ujar Eva. Manon hanya ngakak. 1 year ago
  • #Cerita194:PIKIRAN. Di dalam pikiran Manon, Eva itu Putri jelita. Bahkan wajah kusut Eva seusai bangun tidur tampak begitu menawan. 1 year ago
  • #Cerita193:GERIMIS. Manon senang senang duduk di balkon saat gerimis belum menjadi hujan. Eva tak pernah alpa menyeduhkan teh untuknya. 1 year ago
  • #Cerita192:PANIK. Ada berita pesawat jatuh. Eva panik dan menelepon Manon. "Kamu tidak di pesawat, kan?" "Aku di kamar, sayang." 1 year ago

Pilih-Pilih

%d bloggers like this: