Home » Kolom Epilude » Propaganda

Propaganda

”ESENSI propaganda itu berkenaan memasukkan suatu gagasan ke dalam pikiran orang-orang dengan cara yang begitu tulus, begitu vital, dan pada akhirnya mereka takluk hingga tak bisa lepas lagi dari gagasan tersebut,” ujar Dr Joseph Goebbels.

Semasa PD II, Goebbels adalah jagoan propaganda di pihak Nazi. Sebagai Menteri Propaganda Nazi, ia orang paling diburu pihak Sekutu setelah Hitler. Meski begitu, kepiawaiannya disegani banyak ilmuwan hingga sekarang. Ia dianggap sebagai pelopor dan pengembang teknik propaganda modern. Teknik jitunya diberi nama argentum ad nausem atau lebih dikenal sebagai teknik Big Lie (kebohongan besar). Prinsip dari tekniknya itu adalah menyebarluaskan berita bohong melalui media massa sebanyak mungkin dan sesering mungkin hingga kemudian kebohongan tersebut dianggap sebagai suatu kebenaran. Tak hanya koran, ia juga menyebarkan propaganda lewat radio dan film.

Kalau Anda menonton film Inglourious Basterds garapan sutradara Quentin Tarantino, meskipun fiksional, Anda bisa melihat bagaimana ciamiknya Joseph Goebbels membuat film propaganda bertajuk Stolz der Nation (Kebanggaan Bangsa) yang menceritakan Fredrick Zoller, prajurit penembak gelap yang seorang diri mampu membunuh lebih dari 300 tentara musuh.

Ya, banyak orang menganggap berpropaganda lewat film sangat efektif. Semasa Orde Baru, kita sudah kenyang merasakannya. Contohnya, film Janur Kuning (1979) yang disutradarai Alam Rengga Surawidjaja dan Pengkhianatan G 30 S/PKI karya sutradara Arifin C Noer. Kini, kedua film itu dianggap menyajikan banyak kebohongan. Tapi pada masa pemutarannya yang ”diwajibkan” pihak pemerintah Orba, kita ”termakan” juga bahwa semua yang disajikan adalah kebenaran sejarah. Itu persis yang yang dikatakan Goebbels, kebohongan terus-menerus itu akhirnya bisa dianggap kebenaran.

Namanya juga propaganda, ia bakal mendapat propaganda yang berlawanan. Propaganda Nazi, terutama lewat film-film yang digerakkan Goebbels, juga mendapat tandingan dari pihak Sekutu. Disney pernah membuat film kartun sebagai propaganda anti-Nazi, berjudul Hitler’s Children, Education for Death. Dari judulnya saja kita tahu ke mana arah film tersebut.

***

BEBERAPA hari ini, kita sedang dihebohkan oleh film Innocence of Muslims garapan sutradara Sam Bacile. Film tersebut dianggap menghina Nabi Muhammad dan sudah menuai protes dan aksi kekerasan. Bahkan, beberapa nyawa sudah melayang akibat aksi kekerasan tersebut.

Sayang sekali, saya tak sempat menyaksikan nukilan videonya di Youtube sebelum Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) memblokirnya. Tapi dari beberapa situs berita terungkap jelas motif penghinaan sang pembuat film. Dengan kata lain, film tersebut memang sengaja dibuat sebagai propaganda untuk melemahkan Islam dengan menghina nabinya.

Lewat film itu, Sam menggambarkan bahwa Muhammad itu penipu, hidung belang yang lemah, dan orang yang menyetujui pelecehan seksual kepada anak-anak. Sam mengaku dirinya orang Yahudi Israel yang tinggal di California, AS, dan dengan filmnya itu, dia ingin membantu Tanah Air-nya mengeskpose kelemahan Islam. Dia bilang, ”Islam adalah kanker.”

Siapa yang tak marah ketika keyakinannya dihina?

Tentu saja, Innocence of Muslims bukan film pertama yang menghina Islam. Sebelumnya ada Fitna (2008), film garapan politikus Belanda Geeert Wilders yang menuai reaksi serupa. Kalau Innoncence of Muslims itu film cerita, Fitna lebih menyerupai kolase film dokumenter yang dipaksakan. Dulu, waktu menyaksikannya, siapa pun yang percaya propaganda Wilders begitu hanyalah orang bodoh. Kalau dibandingkan, kemampuan propaganda Wilders mungkin tak ada seujung kuku dari Goebbels. Lihat saja, filmnya dibuka dengan lembaran mushaf Surah 8 (Al-Anfal), Ayat 60, dan bersama suara orang mengaji ayat tersebut, muncul gambar pesawat yang hendak menabrak Gedung WTC pada 11 September 2001. Begitu kasar cara main Wilders, dan propaganda yang kasar jarang berhasil.

Tapi, bukan hanya Islam yang dihujat lewat film. Orang Nasrani pernah bereaksi keras atas film The Last Temptation of Christ (1988) garapan Martin Scorsese. Mereka menganggap film itu hasil konspirasi orang Yahudi dalam melecehkan Yesus Kristus. Yesus digambarkan antara lain sebagai sosok yang tolol (gila) dan penuh dosa. Gambaran Yesus tidak berdasarkan Injil melainkan Talmud, kitab orang Yahudi. Vatikan mengecam keras film tersebut, dan film itu ditarik dari peredaran.

Ya, hidup kita bakal dipenuhi oleh beragam propaganda. Tapi haruskah propaganda yang berlawanan dengan keyakinan kita harus kita reaksi dengan keras? Entahlah. Jangan-jangan reaksi keras itu sudah dibayangkan pembuat propaganda. Dan mereka tertawa melihat reaksi kita. Jangan-jangan Sam Bacile memang menginginkan orang Islam marah, dan dia tertawa-tawa dalam persembunyiannya. Jadi, kalau boleh berpropaganda: cerdas-cerdaslah mereaksi sebuah propaganda. Bagaimana caranya? Waduh, bagaimana, ya? (*)

(Masih Epilude, Suara Merdeka, 16 September 2012)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Pemungut Kata dari Udara

Tuit-Tuit

  • #Cerita196:CINTA-32. Manon pulang, Eva lelap. Angin santer lewat jendela. Manon merapatkan selimut dan cium keningnya, dan menutup jendela.i 1 year ago
  • #Cerita195:GENDUT. "Rekening Arya tambah gendut. Kau juga, perutmu! Meski begitu, buatku kau tetap six-pack," ujar Eva. Manon hanya ngakak. 1 year ago
  • #Cerita194:PIKIRAN. Di dalam pikiran Manon, Eva itu Putri jelita. Bahkan wajah kusut Eva seusai bangun tidur tampak begitu menawan. 1 year ago
  • #Cerita193:GERIMIS. Manon senang senang duduk di balkon saat gerimis belum menjadi hujan. Eva tak pernah alpa menyeduhkan teh untuknya. 1 year ago
  • #Cerita192:PANIK. Ada berita pesawat jatuh. Eva panik dan menelepon Manon. "Kamu tidak di pesawat, kan?" "Aku di kamar, sayang." 1 year ago

Pilih-Pilih

%d bloggers like this: